Motherly

by nuzuli ziadatun ni'mah


Well, sekiranya judul ini pun kurang cocok dengan isi yang ingin saya ungkapkan di laman blog ini. Agaknya saya juga nggak terlalu ingat sudahkah saya menulis tentang hal ini atau belum, tapi yah anggap saja belum pernah, hehe.

Iming-iming pernikahan, dibarengi dengan begitu banyak foto-foto cantik nan penuh imaji bahagia menghiasi linimasa instagram saya sehingga saya pun turut ingin menuliskan sesuatu. Sebenarnya ini sudah saya pikirkan sejak lama. Bagaimanapun, relasi antara ibu-anak sudah menjadi perhatian saya sejak saya menyadari ke-tidak-dekat-an saya dengan ibu saya.

Sangat bertolak belakang dengan sejarah hidup saya yang nggak terlalu banyak menghabiskan waktu dengan sosok ibu, ada ego yang sangat besar tumbuh setiap saat untuk membuktikan kepada diri sendiri bahwa saya nggak akan melakukan hal yang sama ke anak saya kelak. Semakin menggebu-gebu karena ada begitu banyak anak kecil yang hidup di sekitaran saya dan mereka, lucu.

Ada hal-hal yang mungkin tidak pernah disadari oleh ibu saya tentang saya, dan bisa jadi beberapa ibu di luar sana bisa jadi sama tidak menyadarinya dengan ibu saya. Agak jahat sih ini, saya tahu. Tapi saya harus menyampaikan opini saya tentang relasi maternal karena itu penting sekali buat saya.

Saya suka melihat ibu hamil, dan saya begitu suka berbincang dengan mereka tentang kehamilannya. Biasanya ibu-ibu ketika melahirkan selalu merasa bahwa anak yang ada di kandungannya bagaikan harta yang begitu berharga, bahkan sampai-sampai tak ada seorang pun yang bisa mendeskripsikan bagaimana cintanya ibu-ibu pada anak ketika masih dalam kandungan.

Dalam proses ini, saya bisa memahami, dan mencoba untuk memaklumi bagaimana pemikiran semacam ‘kepemilikan’ terhadap anak bisa tumbuh dengan subur dan kokoh dalam diri seorang ibu. Sebagai wanita, saya pikir anak diasosiasikan sebagai ‘buah cinta’ yang memang literally buah cinta. Entah untuk laki-laki, saya nggak mau sok tau, tapi coba deskripsikan sendiri maknanya. Hanya ibu yang merasakan bagaimana sebuah benih tumbuh menjadi darah dan daging di dalam dirinya. Bagaimana segala hal paling rahasia dari seorang anak ketika di kandungan ia rasakan lewat setiap syaraf di tubuh seorang ibu. Untuk manusia melankolis macam saya, membayangkan hamil saya sudah membuat saya senang setengah mampus. Merasakannya? Selalu menjadi rasa penasaran saya yang paling besar.

Singkat cerita, begitu melahirkan, seorang ibu akan dengan rela hati menyerahkan segala hal yang ia miliki untuk sang anak. Agar ia yakin bahwa sang anak bisa tumbuh dengan sehat dan cerdas. Agar sang anak bisa terus merasa bahagia dengan cinta kasih yang diberikan oleh orang tua. Dalam proses ini, biasanya ibu-ibu akan bertengkar dengan ibu mereka perihal pola asuh anak. Mereka berebut kuasa untuk mengasuh si anak yang baru seumur jagung.

Nah, di tahap ini saya pikir relasi ibu-anak ini menjadi menarik untuk dipelajari. Dari beberapa kasus yang saya lihat, ada hal-hal yang ditakutkan oleh seorang ibu baru ketika merawat anaknya. Bisa dibilang ada dua jenis ibu-ibu: 1. yang percaya dengan jiwa dan raga dengan pola asuh orang tua mereka, dan 2. yang khawatir anaknya akan berakhir menjadi seperti dirinya jika tidak dirawat oleh ibunya dengan baik. Di sini, sejarah hubungan ibu-anak sang ibu baru menjadi hal yang paling berpengaruh dalam pola asuh anak yang akan diterapkan oleh si ibu baru. Singkatnya, sebagai wanita yang baru melahirkan, tempat yang paling mudah untuk mempelajari relasi ibu-anak adalah dari hubungan si ibu dengan ibu kandungnya di masa lampau.

Si ibu baru biasanya bertahan dengan pendapat bahwa yang paling tahu tentang anaknya adalah dirinya sendiri (nanti belakangan akan saya jelaskan bagaimana pendapat ini pada akhirnya malah menjebak si ibu). Sedangkan sang nenek selalu beralasan bahwa mereka jauh lebih berpengalaman dan lebih tahu apa yang dibutuhkan oleh seorang bayi.

Pendapat saya? Well, saya tak bisa sepakat dengan kedua jawaban itu, tapi pun saya nggak bisa mengatakan bahwa keduanya salah.

Pertama. Hubungan ibu-anak sifatnya sangat intim saudara-saudara. Saya sendiri meyakini benar, bahwa relasi ibu-anak yang baik dihasilkan dari hubungan yang baik di saat di anak masih balita. Setiap perlakuan ibu kepada si anak akan direkam dengan baik oleh si anak. Memang saya nggak bisa ngasih bukti teori atau hasil penelitian tertentu, tapi saya percaya dengan hal itu. Hahaha, nggak ilmiah bodo amat. Kedua, sentuhan ibu yang sudah beranak banyak dan yang baru punya anak akan sangat berbeda jelas. Dalam hal ini, ibu kita akan jauh lebih berpengalaman dalam merawat anak. Mereka lebih tahu sinyal-sinyal dari si anak ketika lapar, buang kotoran atau mengantuk. Ibu kita adalah guru yang nyata.

Tapi, pernyataan saya harus saya sanggah dengan tegas, bahwa kadang kita lupa bahwa anak bukanlah diri kita. Merasa ‘memiliki’ dan ‘mencintai’ tidak kemudian menjadikan kita berada di level yang lebih tinggi untuk mampu mengontrol di anak. Kita tidak punya keterampilan apapun untuk menerjemahkan keinginan anak-anak kita, dan mengutarakan hal-hal yang ia pikirkan. Kita hanya diberi kemampuan untuk melihat pola perilaku anak-anak kita, sehingga kita menjadi seolah-olah tahu tentang isi pikiran anak kita.

Pada akhirnya relasi ibu-anak bukan menjadi hubungan memiliki-dimiliki, namun dipahami-memahami. Hal ini sangat penting untuk dibedakan, agar setiap ibu mampu memahami bahwa kita akan teralienasi dengan anak sejak ia keluar dari rahim. Ketika ia sudah tidak lagi bergantung kepada kita.

Saya jadi ingat Game of Thrones, salah satu TV Series yang saya caci maki di awalnya tapi dikagumi kemudian. Ada hal-hal tersembunyi di film itu, dan yang cukup saya ingat dan saya pikirkan adalah hubungan Cersei dan anak-anaknya. Saya pikir, saya belajar banyak dalam relasi ibu-anak dalam film itu. Ketika sang ibu merasa dirinya memiliki si anak, saat itulah ia justru kehilangan kendali atas anak-anaknya. Sangat terlihat bagaimana cinta si ibu justru memisahkan ia dan anak-anaknya, betapa tidak tersentuhnya jiwa si anak hingga ia pun kehilangan kepercayaan dari anak-anaknya sendiri. Hubungan ibu-anak itu menakutkan.

Lain cerita, ketika siang ini saya berkesempatan untuk bertukar cerita dengan ibu kos saya yang juga saya kagumi. Si ibu baru melahirkan setelah 10 tahun menikah, dan punya 4 anak setelahnya. Dalam cerita-cerita siang tadi, betapa di usia yang sudah senja begitu, si ibu masih bisa bergembira dengan cerita hidupnya yang bisa dibilang tidak selamanya bahagia. Menikah bukan solusi katanya. Selalu ada masalah setiap tahap hidupmu, itu pasti dan menikah itu perihal menemukan partner berjuang yang tepat katanya. Sebagai seorang ibu, saya suka dengan karakternya. Dia memahami bagaimana caranya mendapat kepercayaan dari anak-anaknya. Sementara Mas Bambang pernah bilang bahwa cita-cita orang tua Jawa adalah untuk dirawat anak-anaknya di kala tua, si ibu adalah ibu yang mandiri bersama suaminya. Dia keren lah pokoknya.

Sudah banyak kata yang saya tuliskan. Masih banyak waktu yang saya punya untuk bertukar cerita dengan banyak wanita, untuk tahu lebih banyak tentang relasi ibu-anak. Entahlah, saya hanya mencoba merefleksikan hal-hal ini dalam kehidupan saya. Semoga saya masih berada di jalur yang tepat.

wordsflow