Life Serenade (xvi): motif

by nuzuli ziadatun ni'mah


Lagi-lagi, saya akan mengutip beberapa hal dari Game of Thrones, hehehe. Semenjak beberapa waktu yang lalu, saya memikirkan berbagai alasan yang mendasari tindakan seseorang. Benarkah semua itu karena faktor ekonomi dan politik semata, atau ada hal yang jauh lebih kompleks lagi? Atau justru sebenarnya yang mendasarinya sangatlah sederhana?

Sebelum ke intinya, saya harus menyampaikan bahwa beberapa orang di sekitar saya mengatakan bahwa setiap tindakan manusia berdasarkan faktor politik dan ekonomi. Beberapa melakukan rasionalisasi atas tindakannya untuk mencapai keuntungan-keuntungan tertentu, beberapa ada yang melakukannya untuk mencapai tujuan politik tertentu. Di postingan saya yang sebelumnya saya kira saya sudah cukup menjelaskan bahwa saya sendiri pun masih bertanya-tanya tentang hal itu, karena terkadang, ada hal yang tidak bisa dijelaskan dari tindakan manusia.

Well then, saya jadi teringat dengan novel-novel detektif atau komik detektif yang pernah saya baca beberapa tahun yang lalu. Dalam tindakan kriminal, selalu saja yang dicari adalah motif, bukan tujuan dari tindakan itu. Justru dasar tindakannya yang menjadi pertanyaan. Misal ada orang yang melakukan pembunuhan, selalu saja yang menjadi pokok penyelidikan adalah alasan dan motif pembunuhannya. Mungkin karena dalam kasus tersebut tujuan akhirnya sudah jelas, yaitu menghilangkan nyawa seseorang. Jadi ada logika sebab-akibat di sini, bahwa jawaban yang kita cari adalah ‘karena’, bukan ‘untuk’.

Tapi saya pikir hal ini menarik, karena saya juga baru memikirkannya bahwa bisa jadi selama ini saya salah memandang tindakan seseorang. Saya pikir selama ini saya selalu berorientasi pada hasil yang ingin dicapai seseorang dalam bertindak, bukan hal-hal sederhana yang bisa jadi menjadi motif yang kuat untuk mendasari tindakan seseorang.

Contoh sederhana, misal dalam urusan pertemanan. Ada suatu pernyataan yang menyatakan bahwa, there is some one who talk to you in their free time, and another one free their time to talk to you. Sebenarnya itu agak nggak rasional sih menurut saya. Saya pribadi beberapa kali bahkan melakukannya dan sebenarnya, tak ada keuntungan apapun yang saya terima dari tindakan-tindakan itu. Justru yang kemudian terjadi adalah sedikit penyesalan karena menghambur-hamburkan waktu yang saya punya untuk hal-hal yang entah kebergunaannya. Dan banyak contoh lainnya yang, yaah cari saja sendiri.

Kebingungan seputar tujuan dan motif ini akhirnya saya temukan jawaban sementaranya dari Game of Thrones. Sungguh, saya suka sekali film itu, hahaha.

Pada episode terakhir season ini, Cersei menyampaikan sesuatu yang membuat saya ber-aha ria. Saya pikir, jawaban paling sederhana yang mendasari semua tindakan adalah because you feel good about it. Perasaan puas, perasaan nyaman itu mengeliminasi semua hal-hal kompleks lain di luar itu. Rasionalisasi misalnya, bertujuan untuk mencapai keuntungan dan memastikan bahwa kita akan tetap bertahan hidup. Dengannya, maka kita merasa lega bahwa setidaknya kita tidak mengalami kerugian. Pada akhirnya hal-hal semacam kepuasan, perasaan nyaman, dan perasaan lega ini lah yang saya kira bisa menjadi motif yang paling kuat yang dimiliki manusia dalam bertindak.

Kadang, ini juga bukan perkara mencapai kebahagiaan, karena tidak semua tindakan itu bertujuan untuk mencapai kebahagiaan diri. Bahkan beberapa tindakan justru dilakukan agar orang lain tidak mencapai kebahagiaan, meski kita juga kemudian tidak bahagia. Aneh sekali manusia ini, kita seakan sakit jiwa. Tapi benar, beberapa orang rela untuk tidak bahagia asal orang lain juga tidak mencapai kebahagiaan yang tidak mereka capai. Mereka merasa puas dengan itu. Karena merasa itu tindakan yang menyenangkan untuk dilakukan.

Agak dangkal sih mungkin penjelasan ini, jelas karena saya juga nggak menggunakan metodologi tertentu untuk meneliti sejauh mana kebenaran pendapat saya. Tapi entah bagaimana, sebenarnya jawaban ini cukup buat saya. Tidak salah bahwa faktor ekonomi dan politik mendasari tindakan manusia, tapi hal itu tidak bisa digunakan untuk menjelaskan tentang alasan tindakan bunuh diri seseorang. Sedangkan ‘because they feel good about it’ saya pikir mampu menjelaskan hal itu; para pelaku ini bermaksud mencapai kelegaan dengan lari dari masalah, sehingga hal itu saya pikir menjadi rasional. Tujuan akhirnya tetap sama, mencapai kepuasan dan menghindari tekanan.

Tindakan yang lain yang saya pikir juga bisa menjadi dasar saya menyimpulkan adalah adanya kesenangan kolektif dalam melakukan tindakan yang menyimpang. Kadang manusia tidak memasukkan nilai-nilai dalam tindakan kita. Kita memahami bahwa masyarakat kita memiliki nilai dan norma dan karenanya tindakan kita akan terbatas pada hal-hal itu saja. Tapi kemudian, ketika kita memiliki rekan yang juga melakukan tindakan yang sama, maka secara otomatis membuat kita merasa aman dan lega. Kita keluar dari tekanan atas tindakan-tindakan yang menyimpang dari nilai dan norma tersebut. Kita mencapai perasaan lega dan rasa puas.

Terus menerus, hal itu direproduksi dengan cara yang berbeda-beda dan tujuan akhir yang berbeda-beda. Bisa jadi setiap yang melakukannya memiliki tujuan yang berbeda, namun ‘bentuk’ tindakannya bisa jadi sama. Akhirnya sama saja, semua ingin mencapai kepuasan dan rasa lega karena terbebas dari tekanan.

Lebih lanjut, mungkin nanti saya akan menuliskan hal ini dengan lebih baik lagi, sementara saya sendiri sedang tidak dalam keadaan netral dan berada di bawah tekanan. Tekanan apa? Tekanan ego, hehe.

Tabik.

wordsflow