Prioritas

by nuzuli ziadatun ni'mah


Katanya (kata siapa?), manusia bertindak bersadarkan skala prioritas. Manusia memilih pilihan yang menurutnya paling rasional untuk dilakukan, itu kalau menurut kaum formalis. Beberapa berpendapat bahwa pilihan bisa jadi memiliki perhitungan yang jauh lebih njlimet dari sekedar perihal untung-rugi, bahwa bisa jadi pilihan itu jatuh pada hal yang bahkan paling tidak rasional–itu kalau menurut kaum substantivis. Berbeda pula dengan kaum-kaum lain yang melakukan analisis dan perhitungan-perhitungan berdasarkan paradigma yang ingin mereka percayai dan mencoba mereka percayakan kepada orang lain.

Well, saya pribadi begitu kebingungan sejujurnya, tentang paradigma-paradigma yang begitu banyak ini. Saya masih melayang-layang dan mungkin alasan itulah yang mendasari saja memilih untuk diajari, dan bukannya belajar sendiri dari buku-buku yang tinggal beli, baca, telaah, selesai.

Selalu saja muncul di pikiran saya, kenapa pikiran saya begitu melayang-layang dari satu hal ke hal yang lainnya? Mengapa saya begitu sukar untuk mengambil satu paradigma dan mencoba berpikir dengannya secara runut? Mengapa saya memilih untuk menjebakkan diri dalam pemikiran yang setengah-setengah dan hati yang tidak teguh untuk memilih salah satu pihak saja?

Kadang saya merasa membohongi diri sendiri dengan menulis ini atau itu. Kadang saya merasa begitu abstrak ketika bertindak dan menjatuhkan pilihan. Kadang saya melakukan penyesalan-penyesalan yang tidak perlu, mengulang janji dan sekali lagi mengingkarinya dengan sadar. Kadang saya merasa begitu bermoral dan di waktu yang lain dengan sadar saya menyadari bahwa saya pun amoral (nanti akan saya tuliskan tentang pandangan saya pada personality, tapi nanti yaa).

Sebagai mahasiswa lompatan tanpa dasar pengetahuan yang memadai, saya seakan dijatuhkan ke dalam perpustakaan besar dan dipaksa memilih sejumlah buku favorit dari buku-buku yang bahkan belum pernah saya tahu judul dan pengarangnya. Apa saya nggak gila ketika mencoba untuk mempelajari masyarakat primitif di saat masyarakat dunia sudah menyambut pasar bebas dan perang komoditi yang begitu mengerikan? Bagaimana bisa saya merasa baik-baik saja sementara sebenarnya saya nggak paham apapun tentang jejaring yang lebih besar di negara atau bahkan dunia ini?

Kita–saya dan Anda-Anda semua–bisa jadi masih memikirkan hal-hal yang sesepele kebebasan berpendapat, berpakaian, berideologi, beragama, dan ber-ber yang lainnya, sementara di luar sana ada orang yang nggak memikirkan hal lain kecuali mengambil keuntungan sebesar mungkin dari bisnis kapitalisnya? Dan lebih menyebalkan lagi dia benar-benar berhasil mengeruk keuntungan sebesar-besarnya men, dan dia nyata, bernyawa, bernapas.

Oke, saya sepertinya mulai kehilangan arah dan tulisan ini bisa semakin kacau kalau saya nggak meluruskannya lagi.

Sebenarnya, saya sedang menghadapkan diri pada pertanyaan besar yang sepertinya baru saya sadari baru-baru ini. Ketika saya adalah seorang mahasiswa arsitektur, perspektif saya adalah pembangunan. Saya berpikir dengan logika pembangunan, dan segala hal saya kaitkan dengan kesadaran spasial, baik yang bersifat personal (sejangkauan tangan), atau ruang yang lebih besar. Ketertarikan saya pada bangunan-bangunan lama penuh romantisme dan bangunan tradisional menjelma menjadi candu yang terlalu menggebu-gebu. Lantas saya bertemu dengan vernakular, yang membuat saya akhirnya naik tingkat ke ranah modern tapi rasa tradisional.

Kini ketika saya duduk di bangku lain ilmu sosial, saya akhirnya berhadapan dengan berbagai perpektif yang pada awalnya hanya merupakan kesadaran samar. Saya disajikan begitu banyak metodologi penelitian dengan berbagai bentuk hasil dan tujuan. Pertanyaannya kemudian menjadi lain; paradigma mana yang akan kamu gunakan untuk membahas fenomena sosial? Paradigma ini kemudian, akan sangat mempengaruhi corak hasil penelitian saya. Kemudian juga akan dapat digunakan untuk mencapai tujuan yang berbeda-beda pula.

Tapi menentukan yang paling tepat saya pikir bukan hal yang mudah. Menentukan yang paling cocok di atas yang lainnya adalah perihal mengenal yang paling sesuai dengan konteks dan fenomenanya. ‘Yang mana’ menjadi perkara sulit kalo saya bahkan belum menentukan pihak mana yang mau saya bela. Sejauh yang saya tahu (atau saya aja yang nggak tau?), belum ada paradigma yang bisa membuat saya melihat fenomena sosial dari perspektif mata burung; yang jauh, menyeluruh, menjadi pihak ketiga serba tahu. Pada akhirnya, nggak ada rumusan yang bisa digunakan untuk menjelaskan semua fenomena. Masing-masing harus dilihat sendiri dengan paradigma yang menurut kita paling menarik untuk dibahas. Nggak jauh beda sama arsitektur yang mengambil perspektifnya selalu saja dari sudut yang paling fotogenik. Jadi kan urusannya cuma sama ‘yang paling menarik dibahas/dilihat’ doang kan?

Jauh dari perkara metodologi itu, saya sedang gencar memikirkan jalannya roda dunia ini. Kira-kira kapan ya kita akan meledak dalam kekacauan yang tidak terkendali? Saya pikir pada akhirnya kapitalisme nggak akan bisa bertahan. Tetap akan ada modifikasi, atau yang paling mentok kalau itu tidak terjadi adalah adanya revolusi dan ledakan sosial. Itu menurut saya. Lantas, untuk mencoba mengambil ancang-ancang, saya sebenarnya lebih suka melihat bagaimana bentuk adaptasi terhadap keadaan sosial-ekonomi-politik saat ini. Beberapa masih begitu yakin bahwa perlawanan adalah cara yang paling tepat untuk terbebas dari tekanan kapitalis. Tapi kalau saya kok enggak ya. Saya pikir, saya lebih suka turut terjun menjadi masyarakat kapitalistik tapi berusaha menjadi orang yang lebih licik. Apalagi modal saya sudah cukup kuat sebagai kelahiran Jawa. Hahaha.

Kalimat-kalimat sembarangan ini sebenarnya cuma cuap-cuap saya aja sih. Lagi-lagi ditulis tanpa mikir, tapi kali ini saya tidak sedang ada di bawah tekanan. Hanya karena kita hidup di lingkungan yang baik-baik saja, maka merasa tidak ada masalah. Di sana, sehingga menjadi tidak ada hal yang bisa menjadi prioritas untuk dikerjakan lebih dulu dan diutamakan. Tapi lain keadaannya jika misal, Indonesia tahu-tahu jadi arena perang seperti di masa kependudukan Jepang. Kira-kira saya mau apa ya? Atau tiba-tiba ada manusia semacam Soeharto yang mengeluarkan perintah untuk membasmi orang Jawa.

Mencoba sedikit untuk memikirkan strategi bertahan hidup di era yang begitu dinamis dan sulit dibaca. Suatu ketika dalam diskusi amburadul, saya dan teman-teman menyimpulkan kalau ada dua jenis orang yang sulit dibaca pergerakannya; 1. yang sangat cerdas, atau 2. yang sangat bodoh. Maka jika kita ada di antara keduanya kita hanya akan menjadi domba-domba yang digiring oleh kekuatan kapitalis untuk menghidupi pasar. Asik sekali yak.

Setelah saya pikir-pikir lagi, kayaknya saya harus mulai mengatur strategi menjadi dewa bumi dan orang paling kaya di dunia deh. Bismilah aja lah,

wordsflow