Perang

by nuzuli ziadatun ni'mah


Setiap hari ada saja perdebatan yang saya lakukan di dalam pikiran saya. Postingan ini, mungkin akan sangat berkaitan dengan dua judul setelahnya, yaitu tentang gestur dan personality. Tapi lagi-lagi, harus saya sampaikan bahwa ini adalah diary publik saya, yang sepenuhnya berisikan opini tanpa kajian empirik dan bisa jadi nggak mengandung kebenaran logis. Setidaknya, saya akan tetap mencoba menjelaskan dengan cara saya meski yaaah begitulah, hahaha.

Bicara perihal kapitalisme di minggu-minggu belakangan ini membuat saya memikirkan lebih jauh tentang power. Apa gerangan yang bisa membuat orang termasuk dalam kelas yang lebih unggul dari manusia di sekitarannya?

Kalau menurut bos marxis saya sih, memang sedari awal muncul orang-orang yang memiliki kemampuan yang lebih unggul dari spesies manusia sejenisnya. Sejak awal, meski kita tidak terbagi dalam kelas-kelas tertentu, manusia sudah saling mengeksploitasi satu sama lain. Entah itu karena perbedaan ukuran, tingkat kecerdasan, umur, status dalam garis keturunan, atau kemauan kerja. Perbedaan itu membuat sebagian manusia menjadi lebih unggul dari yang lainnya.

Kalau begitu, bagaimana dengan anggapan bahwa semua manusia itu setara?

Saya kira ada konteks yang berbeda dalam menyatakan pendapat itu, bahwa yang dimaksud adalah potensi untuk lebih unggul. Saya sih jenis orang yang mengakui adanya kemampuan terpendam pada setiap individu. Demikian, maka setiap orang sebenarnya memiliki potensi untuk menguasai suatu keterampilan jauh di atas orang lain.

Dari premis awal bahwa manusia dilahirkan berbeda-beda, kemudian saya mencoba langsung melompat jauh ke masa kini ketika semua hal seolah-olah dikuasai oleh kaum kapitalis. Ketika ada begitu banyak tangan-tangan yang terlalu berkuasa hingga rasanya nggak masuk akal. Sungguhkah kita nggak punya cara lain untuk melawan kecuali dengan tunduk saja? Apa iya mereka sudah begitu berkuasanya?

George Orwell dalam novelnya 1984 menceritakan bagaimana jadinya bila suatu negara dikendalikan sepenuhnya, dari unsur paling privat hingga yang paling publik, bahkan hak-hak dasar manusia pun dikontrol oleh negara. Saya kira novel itu berlebihan meskipun bisa saja terjadi. Tapi, jika akhirnya represi semacam itu terjadi, kira-kira bagaimana reaksi kita sebagai individu?

Sudah menjadi naluri manusia untuk mempertahankan dirinya dari tekanan-tekanan sehingga kemudian manusia melakukan proteksi-proteksi yang memungkinkan dirinya untuk bertahan, baik secara fisik maupun mental. Ketika pada jaman dahulu manusia masih terbatas dalam berbahasa, mereka tak mampu melakukan diplomasi, tak ada tawar-menawar, dan tak ada transaksi yang terjadi untuk mencapai kesepakatan. Mereka akan lebih memilih untuk berperang sebagai jalan yang paling mudah, adil, dan cepat. Perang menjadi hal yang paling mudah dilakukan.

Belakangan, ketika perdagangan semakin berkembang dan semakin banyak orang yang saling mempelajari bahasa kelompok lain, muncul orang-orang yang bisa menjadi penerjemah. Perang selanjutnya menjadi jauh lebih diplomatis, menggunakan etika-etika dan aturan-aturan yang sama-sama dihormati oleh kedua pihak yang bertikai. Perang kemudian diawali dengan diplomasi sebelum akhirnya diputuskan eksekusinya.

Tapi justru sekarang saya pikir manusia abad 21 semakin tidak punya aturan etis dalam memutuskan hal-hal semacam itu. Jika manusia pra sejarah menggunakan kekuatan dan akses sumber daya sebagai parameter keunggulan, maka manusia modern memiliki jauh lebih banyak hal. Power di jaman kita hidup jauh lebih menyebalkan, karena komunikasi, jaringan, sumber daya, ekonomi, politik, dan teknologi bisa menjadi kekuatan yang bisa digunakan untuk berkuasa atau memulai perang. Demikian, maka perang bisa terjadi hanya karena masalah mempublikasikan komik 4 baris berisikan tokoh yang di-bully, atau selembar gambar tentang simbol agama yang dibakar. Saya pikir, alasan untuk memulai perang di jaman ini jauh lebih beragam dan bahkan ada yang kelewat sepele. Dengan segala keberagaman itu, maka untuk menciptakan dunia ciptaan Orwell, harus ada hal yang sangat revolusioner sampai akhirnya manusia tak lagi punya pikiran untuk melakukan apapun kecuali makan dan bernapas.

Hemm, sebenarnya itu pendahuluan sih, karena saya lebih pengen membahas tentang perang batin dan konfrontasi, hehe. Mungkin karena objek kajian yang ini jauh lebih nyata dan saya menjadi pelakunya, maka saya jadi nggak se-ngawang-awang kalau ngomongin kapital. Bahkan dalam level perang batin dan perang antar individu (konfrontasi) pun, saya kira yang jadi pokok perhatian tetap saja sama; individual power entah itu dalam hal kepercayaan diri, pengetahuan, kemampuan komunikasi, atau apapun.

Perang batin ini sangat menarik, karena yang diperangkan adalah banyak hal dan hanya diketahui dan diselesaikan di dalam pikiran kita sendiri. Sebagai pembaca Freud, saya mencoba memahami melalui konsep id, ego, dan super ego yang mempengaruhi seseorang (anggap saja saya) dalam bertindak di masyarakat. Ini jelas berkaitan dengan personality dan individual branding yang dilakukan oleh setiap orang, sadar atau tidak. Tetapi, saya pikir perang batin jauh lebih mudah untuk diselesaikan karena hanya berkaitan dengan diri sendiri. Toleransi yang diberikan ke diri sendiri akan lebih mudah dilakukan daripada memberikan toleransi kepada orang lain. Tentu, karena kepuasan diri sendiri adalah hal yang dicari hampir semua manusia.

Namun, menjadi tidak mudah ketika kita harus melakukan konfrontasi dengan orang lain dan hal itu tidak sejalan dengan tatatan atau nilai-nilai yang ia pegang. Singgungan yang semacam itu kemudian memunculkan asumsi dan akhirnya mempengaruhi pandangan terhadap personality kita.

Sebagai makhluk sosial, singgungan semacam itu wajib dipikirkan, meski bukan berarti kita harus mengalah. Maka dari itu, kontrol terhadap power dan pemahaman pada power kita sebagai individu harus ada. Mungkin bisa dibilang kalau bentuk konfrontasi yang paling mudah adalah perang argumen, dan saya lagi tertarik membahas itu. Hasil pemikiran saya mengatakan bahwa manusia bisa lebih unggul dari orang lain dalam perang argumen karena pertanyaan. Perang argumen saya rasa hanya perihal siapa yang bisa melontarkan pertanyaan lebih dulu. Kalau hal itu tidak bisa dilakukan, hal kedua yang harus dipastikan adalah bisakah kita memutarbalikkan pertanyaan itu sehingga sebaliknya, kita menjadi pihak penanya? Pertanyaanlah yang mengatur jalannya pembicaraan. Pertanyaanlah yang mengatur level keunggulan seseorang dalam berbincang. Ketika melihat itu di banyak acara TV, dan saya pikir Mata Najwa mampu memberikan gambaran itu secara nyata. Bahkan di dunia penelitian, membuat pertanyaan adalah hal yang sangat krusial. Pertanyaan membawa kita pada asumsi-asumsi dan hipotesis yang mendasari proses penelitian selanjutnya.

Relasi dua orang sungguh unik buat saya. Dalam relasi ini, karena pengetahuan hanya dimiliki oleh dua pihak, maka tekanan sosial bisa diabaikan. Super ego memerankan bagian yang tidak terlalu banyak di dalam relasi ini. Lagi-lagi ini menurut saya. Saya bisa berasumsi demikian karena ini adalah perang antar dua orang saja, hanya perihal mengakuan atau penyangkalan. Satu pihak mendesak pihak lainnya. Maka kemudian penilaian akhirnya hanya terjadi antara dua orang itu saja, titik. Perkara akhirnya hal itu tersebar ke luar dari lingkaran itu adalah soal yang lain lagi. Tapi perang argumen berjalan dengan cara demikian sampai salah satu pihak tak mampu menjawab pertanyaan atau tidak ada lagi pertanyaan yang ingin disampaikan. Demikian, ketika saya dihadapkan pada perkara yang hanya diketahui saya dan lawan bicara saya, adalah penting untuk membuat asumsi dasar dan mencari tahu nilai-nilai yang dipercaya oleh lawan sebelum mengeluarkan pertanyaan.

Bahkan di level terkecil pun, perang selalu penuh dengan taktik dan permainan. Dan jika dalam level negara ia memberikan efek perubahan yang sangat besar, maka dalam level individu pun seharusnya ia membawa perubahan bentuk relasi yang sangat besar pula.

wordsflow