On a sentence

by nuzuli ziadatun ni'mah


Okaaaaiii, malam ini akhirnya saya memutuskan untuk menceritakan hal-hal yang berbau curhat dan personal saja yak. Ini mungkin karena efek ngedit tulisan temen saya, yang entah kenapa saya jadi terpancing untuk membalas tulisannya. Oh men, saya reaksioner banget nggak sih? Hahaha.

Jadi saudara-saudara, kalau kalian mengenal saya, akan sangat mudah menghitung jumlah teman yang saya punya. Entah apa sebab, tapi meski kenalan saya bejibun banyaknya dan bahkan banyak orang yang saya hafal muka dan namanya, tapi hampir nggak ada yang bisa saya akui sebagai teman sungguhan. Ya mungkin beberapa di antara kalian yang membaca ini tersinggung, entah banyak atau sedikit, tapi akan saya coba jelaskan kenapa saya bisa mengatakan demikian.

Well sebelumnya, saya kasihtau dulu sesuatu. Jadi ada seorang teman mapala saya, namanya Hilary Reinhart. Beberapa hari ini saya baru sadar kalo saya tampaknya menulis sesuatu yang hampir sama, dan bahkan judul postingan terakhir kami sama-sama ‘Perang’. Dan saya baru tahu setelah saya posting. Jadi, jikalau ada yang nggak paham maksud tulisan saya, saya mau ngasih rujukan ke tulisan Sentot aja, hehehe. Linknya ada di bawah sana yak, cari sendiri aja.

Oke, mari mulai curhat.

Selama seminggu belakangan, ada curhatan jahat di sekeliling saya, dan saya juga salah satu tersangka. Bahkan saya bisa disebut sebagai dalang dari gosip-gosip ini. Agak sepele sih, cuma perihal interaksi antarpersonal. Teman curhat saya yang bernama Njum beberapa kali bilang kalau ada orang-orang yang curhat tentang saya di belakang. Singkatnya, orang ini mempertanyakan kenapa saya begitu membencinya. Hemm, seru sekali kan.

Meski sebenarnya saya nggak merasa perlu menjelaskan di sini siapa tokoh-tokoh ini, tapi saya rasa saya terpancing untuk bercerita tentang konsep pertemanan di dalam pemikiran saya. Tolong ingatkan jika saya pernah menuliskannya, tapi saya perlu menuliskan ulang, hehe.

Sudah sangat lama saya merasa yakin bahwa nggak ada seorang pun yang tulus dalam hubungan pertemanan. Ketika saya masih TK bahkan, saya sudah menyadari bahwa teman-teman saya mau berteman atau minimal sekelompok dengan saya karena saya jago olah raga. Berlanjut ke bangku SD, saya mendapat banyak teman karena saya bisa ngasih contekan matematika dan bahasa Indonesia. Bahkan di jenjang-jenjang selanjutnya saya selalu punya banyak teman karena saya ‘berguna’.

Awalnya saya tak pernah mempermasalahkan hal itu, toh saya pun nggak mengalami kerugian atas bentuk pertemanan semacam itu. Hingga suatu ketika saat SMP saya pernah dilabrak teman saya karena dia menemukan kertas yang saya gambarin muka dia dan saya gendutin. Kasus sesepele itu akhirnya berhasil membuat saya dijauhi sekelas dan hanya menyisakan satu orang teman. Di SMA saya dimaki-maki di depan kelas oleh teman sekelas saya, terekam CCTV dan dilihat semua siswa. Memang setelahnya mereka meminta maaf, tapi dua hal itu tidak pernah saya lupakan dan sungguh-sungguh saya maafkan hingga hari ini.

Dari hal-hal semacam itu, saya belajar bahwa motif pertemanan seseorang itu bisa sangat bermacam-macam. Bahkan hingga hari ini tidak banyak orang di sekitar saya yang bisa sungguh-sungguh saya percaya sebagai teman. Orang-orang yang dengan jujurnya bisa memarahi saya atau ngasih tau omongan jelek tentang saya tidak banyak. Bahkan saya harus mengatakan bahwa teman jurusan saya hanya seorang saja.

Bukan karena saya tak ingin berteman dengan banyak orang. Tapi, ketika kamu masih merasa asing dengan seseorang, atau minimal kamu menyadari bahwa nggak sekalipun kamu tahu permasalahan hidupnya, maka itu belum bisa masuk golongan teman. Belakangan, saya semakin sadar bahwa bisa jadi orang-orang yang sering berada di dekat kita siang dan malam, bercanda sebebas apapun ternyata menyimpan motif-motif tertentu. Friends with benefit kalau istilah populernya. See, istilah nggak mungkin ada kalau tidak pernah terjadi kan?

Demikian, harus saya katakan juga bahwa bisa jadi saya bukan teman yang baik untuk kalian. Berkali-kali saya dilabrak orang karena dianggap menyebalkan. Padahal di beberapa kasus, penyebabnya hanya sesepele karena saya diam dan tampak jutek. Hemm, sedih sekali punya muka yang selalu keliatan jutek kalau diam. Dalam kondisi yang demikian, biasanya saya justru bersyukur karena saya nggak perlu bertopeng di depan banyak orang. Nggak suka ya udah, kalo suka ya syukur. Begitulah kasarannya.

Tapi, karena hal-hal yang semacam ini jarang saya bagi dengan orang lain, saya jadi suka menganalisis kepribadian orang. Saya cukup banyak tahu tentang orang lain, entah karena sengaja kepo atau saya dapat info dari informan-informan tidak resmi saya. Saya tahu nggak enaknya nggak punya teman, atau nggak enaknya banyak teman. Saya pernah sangat dekat dengan seseorang sampai dia menganggap saya pengkhianat. Oke buat saya, memang nggak semua yang kita inginkan bisa terus berjalan. Dan harus saya akui bahwa nggak semua orang bisa cocok berteman dengan segala jenis orang. Tapi saya mencoba kok.

Di samping itu, sedikit menanggapi tulisan Sentot tentang bahasa teks atau lisan. Saya pikir nggak ada yang lebih benar di antara keduanya. Bahasa lisan menuntut konfrontasi, dan di dalam konfrontasi pun ada taktik dan permainan. Sama halnya dengan literasi, di dalamnya ada yang tersirat dan tersurat. Tulisan ini pun begitu, penuh kode dan taktik penyampaian. Bisa jadi ada orang yang berbahasa lisan dengan sangat baik, tapi tak ada hal berarti di dalamnya. Sebaliknya, bisa saja ada orang yang menulis dengan sangat buruk, tapi dia mampu menyampaikan hal-hal penting dari tulisan itu.

Karena manusia tumbuh dengan kemampuan yang tidak sama, terutama dalam mempengaruhi orang lain. Tak ada kata-kata yang sungguh bisa dipercaya. Kalau pun ada itu hanya ada di kitab-kitab suci saya pikir. Maka, yang bisa kita harapkan dari kata-kata hanyalah kejujuran yang menuliskannya. Tanpa itu, tak ada yang penting dari tulisan atau perkataan seseorang.

Ah, saya sudah ngantuk. Dan nggak berminat mengecek ulang, hahaha. Yasudah, tabik.

wordsflow