Fokus

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sudah menjelang jam 2 pagi, dan saya masih punya 2 tugas review dan 1 tugas bacaan untuk presentasi esok hari. Tapi apa yang saya lakukan? Menyelesaikan orderan gambar, membaca blog teman saya, dan akhirnya, memutuskan untuk curhat (lagi) di blog ini.

Sejauh ini, saya suka membaca tulisan-tulisan saya di blog ini, dan sedikit saya mau membahas tulisan balasan teman saya di blog pribadinya yang saya sebut tempo hari sebelum saya teruskan curhat.

Saya sadar kok, lisan bersifat temporal dan spontan. Oleh karena sifatnya itu, sebenarnya kegiatan ini jauh lebih sulit dibandingkan dengan menulis, karena ada jeda dalam setiap tulisan, ada waktu untuk berpikir dalam menulis, sedangkan berkomunikasi dengan lisan menuntut waktu berpikir jauh lebih singkat ketimbang menulis. Pun demikian kalau saya tertarik membicarakan tentang kejujuran, maka dalam komunikasi langsung hal itu bisa dianalisis melalui gestur, mimik, tatapan, bahkan intonasi. Sedangkan dalam dunia tulisan, hal itu lebih sulit dilakukan karena terkadang penulis memposisikan diri dengan berbagai cara sehingga kita tidak akan serta merta menganalisis kondisi ketika ia menulis. Demikian, komunikasi langsung membuat kita belajar untuk berpikir cepat, makanya teknik presentasi itu penting, hehe. Hanya saja, karena sifatnya yang temporer itu, maka nggak semua yang diucapkan bisa langsung dipahami dengan mudah sesuai dengan ide atau konsep yang dipikirkan oleh pembicara. Oleh karenanya, dunia tulisan menjadi solusi atas hal itu, saya kira.

Demikian, tujuan melakukan komunikasi lisan dan tulisan juga menjadi berbeda. Bisa saja orang menuntut komunikasi langsung untuk sekedar ‘memastikan’ bahwa yang tertulis sejalan dengan lisan, dan dapat dikonfirmasi melalui gestur, mimik, tatapan, dan intonasi. Yah, begitulah singkat dan kira-kiranya lah. Lebih jauh, saya pikir saudara seperguruan saya lebih bisa menjelaskan.

Melanjutkan kalimat pertama saya kaitannya dengan judul, saya kemudian sadar bahwa selama ini saya tidak fokus dalam melakukan sesuatu. Keanehan ini terjadi bisa jadi karena ada sangat banyak hal yang saya pikirkan dan ketidakmampuan saya memilih hal-hal yang mendukung gagasan saya saja. Singkatnya, saya tidak punya kerangka berpikir yang kemudian bisa saya gunakan untuk mensintesa gagasan-gagasan. Hal ini sangat buruk efeknya, karena hal-hal yang ingin saya sampaikan akhirnya nggak sampai, atau minimal diterima dengan tidak sesuai.

Sebenarnya saya selalu merasa tidak layak menulis, sungguh. Ratusan kali saya menulis di blog ini, beberapa kali mengirim tulisan untuk buletin, menulis cerpen untuk beberapa penerbit, atau bahkan menulis dongeng untuk majalah anak-anak pun saya lakukan dengan ragu. Setiap selesai menulis selalu saja ada hal yang saya ragukan.

Lebih jauh, bukan saja hal-hal semacam ini, tapi bahkan skripsi dan catatan pribadi saya pun saya ragukan, hahaha. Hanya catatan kuliah yang bisa saya percayai–atau itu mengindikasikan saya cocok jadi wartawan?. Kadang saya mengais-ais memori ketika saya menuliskan sesuatu, karena di beberapa tulisan saya merasa saya punya kepribadian lain, dan di tulisan yang lain saya merasa begitu telanjang dengan kepribadian yang lain lagi.

Mungkin, karena hal itu bahkan saya merasa kesulitan dalam menjalani hidup perkuliahan saya baru-baru ini. Saya sangat menyukai semua mata kuliahnya memang. Tapi banjir informasi yang begitu banyak tidak bisa langsung saya kotak-kotakkan ke dalam beberapa paradigma di dalam pikiran saya. Akibatnya apa? Ya saya jadi nggak fokus dalam menuliskan gagasan, seperti yang terjadi berulang kali di dalam blog ini.

Saya bahkan kini sadar, bahwa hanya orang yang belum paham yang rela mengambil studi. Kalau saya sudah paham ilmu sosial ngapain saya susah payah ambil studinya kan? Maka tidak salah jika ada asumsi bahwa semua orang yang mengambil mata kuliah tertentu adalah orang-orang yang belum memahami materi kuliahnya.

Mengutip Pak Laks, sebenarnya kegiatan menulis adalah usaha untuk menghapus memori yang ada di dalam pikiran, tetapi juga membaca sekaligus berbicara. Karenanya menulis asik dilakukan karena bukan hanya tangan kita yang sedang bergerak, tetapi mata dan pikiran kita turut bicara dan membaca dalam sekali waktu. Lebih asik lagi karena tulisan bisa dikonstruksikan sedemikian rupa sehingga kita bisa menggiring pemahaman pembaca kepada gagasan kita (tergelitik ngomongin linguistik dan semiotik tapi saya belum paham, jadi kapan-kapan saja lah).

Ah, tapi sudahlah. Saya kira pelan-pelan saya akan bisa berpikir lebih jernih. Kalau pun pada akhirnya saya tidak cocok dengan paradigma apapun, yasudah saya kembangkan saja paradigma saya sendiri, hahaha. Atau, mungkin saya sudahi saja keinginan saya untuk menulis. Mungkin.

Terakhir, tolong doakan keberlangsungan hidup saya di bawah tekanan pe-er dan orderan yak. Terima kasih.

wordsflow