Sedikit tentang Pasar

by nuzuli ziadatun ni'mah


Tadinya saya mau memberikan judul ‘Pasar’ untuk artikel ini. Namun tampaknya kata itu semakin memiliki bobot di dalam pikiran saya sehingga tak mungkin lagi saya bisa menggunakan istilah itu secara ‘kasar’.

Saya tidak akan bicara yang berat-berat, sungguh. Sekali lagi saya hanya akan curhat seperti tulisan saya sebelum-sebelumnya karena jujur saja, saya tak pernah mau repot-repot mengambil rujukan kemana pun. Hal ini karena secara anarki saya menganggap bahwa meski gagasan itu diawali oleh sebuah grand theory, pada akhirnya gagasan itu diolah kembali oleh pola pikir individu sehingga, setiap yang keluar kemudian sebenarnya bersifat otentik. Tentu saja ini berkaitan juga dengan retorika penulisnya, memang. Well, tapi gagasan saya barusan bukan dalam tataran untuk didebat. Saya tahu bagaimana cara menyangkal pendapat saya pribadi. Hanya saja saya ingin memberikan pemahaman ke pembaca alasan-alasan saya tidak pernah mengambil kutipan secara sengaja atau mencantumkan tokoh penggagas dalam tulisan-tulisan saya. Toh ini bukan tulisan ilmiah.

Saya luar biasa lelah karena banjir informasi yang tiada henti tanpa jeda dan kategorisasi, sehingga tiba-tiba segala hal terhubung dengan tak terkendali. Jelas bahwa beragamnya informasi membantu kita untuk memahami konsep dan fenomena lebih baik lagi. Namun tidak bisa tidak bahwa tumpang tindih informasi menuntut kita untuk memihak salah satu agar tetap waras. Atau kalaupun memihak lebih dari satu pihak, kita harus punya kontrol pemikiran untuk memilah ‘mana yang lebih sesuai untuk digunakan’.

Suatu ketika saya pernah menuliskan tentang Modernisasi dan Toko Kelontong di buletin Lembah Code edisi 1 (bisa diunduh di http://lembahcode.com) tanpa sungguh-sungguh memahami masing-masing yang sedang saya bicarakan di sana. Entahlah, pemikiran saya saja dalam tulisan itu sudah kabur dan saya untungnya hanya ingin menjadikan tulisan itu sebagai pembanding saja.

Saya refleksi saja ya tentang konsep pasar, dengan bagian yang ingin saya ambil adalah exchange cost.

Menarik saya kira untuk membedah konsep keterjangkauan di masyarakat kita saat ini. Saya pernah sungguh stress mencoba merasionalisasi fakta sosial di masyarakat bahwa ada masyarakat yang sebegitu miskinnya hingga penghasilan mingguannya hanya 5000 rupiah misal, dibandingkan dengan bos-bos perusahaan kapitalis yang penghasilan hariannya mencapai milyaran. Terlalu tidak masuk akal buat saya.

Teringat kemudian pada suatu kuliah KKA, pemerintah Thailand mengatakan bahwa pada dasarnya, rakyat kecil, atau kaum-kaum yang termarjinalkan itu memiliki peran yang tidak kecil dalam masyarakat perkotaan. Kenapa? Karena manusia sejauh ini masih memiliki kualifikasi yang tidak mampu digantikan oleh mesin. Bisa jadi yang dimaksud adalah fleksibilitas individu baik dalam bergerak maupun berpikir. Saking fleksibelnya, manusia bahkan dijadikan komoditas oleh kapital. Karenanya, keberadaan kelas-kelas di bawah ini menjadi penting untuk menjaga keseimbangan pasar, agar barang produksi tetap terbeli, dan kapital tetap menguasai nilai lebih.

Menjaga keseimbangan dengan cara apa?

Inflasi itu menurunkan daya beli masyarakat karena harga yang ada menjadi lebih tinggi. Nah, jika daya beli menurun, maka barang-barang industri tidak akan terbeli dan walhasil, perusahaan pun merugi. Nah, untuk mencegah hal itu, maka inflasi itu diakali dengan perbaikan kesejahteraan buruh, paling mudahnya menaikkan gaji buruh. Di sini ada permainan yang sangat cerdik di dunia pasar. Karena manusia adalah komoditas, maka sulit sekali untuk bisa mendominasi transaksi, sehingga buruh ujung-ujungnya hanya akan manut. Untuk melawan? Punya apa buruh-buruh ini untuk melawan?

Tanpa bertele-tele singkatnya, sistem dominasi pasar itu masuk ke masyarakat sebagai sebuah hubungan sirkular, yang akhirnya saling berkaitan satu sama lain. Mengerikan sekali kalau harus dipikirkan dengan detil.

Kembali ke masalah modernisasi dan toko kelontong. Saya mau memberikan contoh kasus dalam pola pemilihan lokasi belanja saya untuk bisa menggambarkan konsep keterjangkauan di masa kini.

Saya pikir, masyarakat tradisional tidak memusingkan keterjangkauan lebih dari urusan finansial. Sehingga yang kemudian dianggap terjangkau adalah yang murah. Sudah. Begitu juga kelas atas jauh lebih mudah dibaca persepsinya tentang keterjangkauan pasar.

Jauh lebih rumit ketika membicarakan tentang kelas menengah, apalagi kelas menengah itu memiliki range dari yang mendekati miskin sampai mendekati kaya. Saya kira saya sama-sama sepaham bahwa kelas menengah adalah kelas yang sudah mampu memiliki surplus finansial di atas kebutuhan pokoknya. Di dalam kelas menengah ini, sebenarnya harapan-harapan keseimbangan disampirkan. Maka kecenderungan kelas menengah menjadi kunci penting menurut saya.

Dalam persepsi keterjangkauan ini, akan sangat berlainan dengan persepsi kelas bawah dan kelas atas. Sangat kentara karena level kelas menengah ini memiliki sejuta pertimbangan untuk mengalokasikan surplus pendapatannya. Pun demikian arah investasinya juga sangat beragam. Bahkan, dalam ukuran yang paling sederhana saja, misal berbelanja cemilan pun kelas menengah akan sangat selektif.

Nah, di sini dimulai skenario itu. Belanja berarti memilih tempat belanja. Maka pertimbangan pasar, toko kelontong, waralaba, atau supermarket menjadi 4 hal yang dipertimbangkan. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan yang menjadi pertimbangan si pembeli. Di sini lah kemudian exchange cost mengambil perannya yang brilian. Pertimbangan masyarakat kelas menengah jauh lebih kompleks ketimbang masyarakat kelas bawah. Kelas menengah mendasarkan aktivitasnya pada keinginan untuk membeli, sehingga faktor-faktor kepastian, keamanan, kebersihan, kenyamanan, eksistensi, dan hal-hal semacamnya juga menjadi pertimbangan dan masuk ke dalam pertimbangan harga.

Demikian, tidak mengherankan ketika selisih harga toko kelontong dan waralaba yang bahkan mencapai 500 rupiah, masih akan tetap banyak yang memilih waralaba. Mereka menjual hal-hal yang mendikte kelas menengah untuk mempertimbangkan pemilihan lokasi transaksi. Hal-hal absurd semacam itu disebut sebagai exchange cost. Besarnya exchange cost ditentukan sendiri oleh pembeli, sehingga bisa jadi ada kelas menengah yang menganggap tidak setimpal dan ada yang menganggap lebih menguntungkan.

Nah, orang-orang yang berperilaku demikian, menurut saya sudah bisa dimasukkan ke dalam kelas menengah (saya pun masuk ke dalamnya). Tapi justru orang-orang ini yang sebenarnya bisa membawa perubahan karena kami lah yang memiliki pola perilaku tidak teratur dan cenderung mudah berubah. Hebatnya, kapitalis pun cerdas dalam membaca perilaku aneh kelas menengah, mungkin karena analis mereks dulu juga kelas menengah kali ya, sehingga tetap saja ‘kemenangan’ terhadap kapitalis selalu hanya menjadi semu semata.

Ngomong-omong, saya masih ingin meneruskan tapi sangat melelahkan hari ini. Jadi saya tunda sampai Senin, semoga masih berkesempatan.

wordsflow