Selamat hari Senin

by nuzuli ziadatun ni'mah


Okai, akhirnya saya hapus juga tulisan saya tengah malam tadi. Saya pikir, interpretasi orang akan sangat jauh dari isi pikiran saya tentang tulisan itu.

Well, saya punya buku pinjaman berjudul 13 Tokoh Etika Moral. Sebenarnya saya ingin sekali membahas tentang amoral; lebih karena saya pribadi selalu mengalami pertentangan antara isi pikiran dan tindakan. Jika moral adalah yang ada di dalam pikiran, jelas selama ini saya amoral. ‘Moral’ yang saya tampakkan di permukaan sebagai bentuk kepedulian, kebijaksanaan, kebaikan, semuanya hanya sebuah topeng menutup jati diri saya yang ketiga; saya ketika berhadapan dengan diri sendiri.

Membicarakan moral jelas akan juga membicarakan tentang personality, dan tentunya ada beberapa bentuk kepribadian yang dimiliki seseorang. Saya membaginya menjadi tiga yang utama; kita ketika berhadapan dengan diri sendiri, kita di hadapan orang-orang yang paling kita percaya, dan kita di hadapan masyarakat luas. Hem, bisa dibilang saat ini saya sedang membentuk kepribadian di hadapan orang-orang yang saya percaya.

Blog ini, bagi saya bukan merupakan media publikasi umum. Saya tahu hanya beberapa orang saja yang mau mengakses laman depan blog ini atau mengupdate blog setiap kali saya membuat tulisan baru. Maka, saya tak pernah sungkan membuka diri saya di tempat ini. Hal menarik yang tentang memiliki blog pribadi adalah pembicaraan tentang isi blog hanya akan ada di dalam pikiran pembaca atau sesama pembaca. Dan saya menyukainya.

Sudah banyak hal yang saya baca, selalu saja merasa kurang. Begitu banyak artikel yang saya edit, tetap saja kesemuanya tidak terasa nyata.

Sebenarnya, saya tak pernah menemukan arti yang sesungguhnya dari ‘kepedulian’. Selalu kosong, dan sungguh, seberapapun saya berusaha untuk merasakan empati itu, tak ada apapun di sana kecuali kekosongan.
Apa demikian saya masuk golongan manusia tidak berhati? Mungkin.

*

Senin yang lain. Sekali lagi mengulang hari, melanjutkan tanggal.
Kenapa hari berulang dan tanggal tetap diteruskan? Kenapa hari berselang tapi tempat tetap?
Mengapa kita melupakan waktu-waktu yang berlalu? Mengapa waktu tak dapat diingat setiap detilnya? Atau saya hanya tak mampu?

Refleksi selalu jadi bagian yang paling manusiawi dari bersosialisasi. Tanpa refleksi, pemahaman itu nihil adanya.

Apakah refleksi hanya bisa diperoleh dengan jalan seorang diri?
Sendiri itu berarti sepi, tak ada bukti. Tak ada yang menyatakan keber-Ada-anmu. Tak ada yang menyatakan eksistensimu. Tapi kamu masih bisa berdialog dalam pikiranmu.
Kalau kita bicara di dalam pikiran, yang sedang bicara siapa? Itu bukti eksistensi atau hanya mekanisme otak? Jika eksistensi bisa dibentuk seorang diri, kenapa butuh entitas lain?

Apa kamu yakin kita tidak berbagi pengalaman dengan capung dan cuaca? Apa kita hidup berjalan begitu saja, lalu mati ditabrak lari?

Setiap hari Senin kembali, imaji seminggu lagi tercipta rapi kembali.
Katanya material semesta saling menjauh, lalu kelengkungan runag dan waktu menjadi berubah. Kenapa hari tetap Senin sampai Minggu? Ah, di Jawa ada pon wage kliwon legi pahing.

Nanti matahari nabrak bumi atau ditelan pusat galaksi?

Kamu melihat konflik setiap hari. Setiap nilai dibenturkan begitu bebasnya. Terombang-ambing di dunia materi tanpa memahami mengapa manusia ditempatkan di bumi.
Hanya akibat evolusi? Sedih sekali.
Hanya hukuman Tuhan? Sedih sekali.

Jiwa pohon ada di mana? Kalau mati yang hilang apanya?

Apa benda mati tak punya jiwa? Kalau mati dia tetap di sana sampai kapanpun juga?
Kalau kertas ditiup angin tetap mati nggak?
Benda mati adalah akumulasi kerja manusia. Keren sekali. Tak akan ada karet gelang di meja kalau bukan karena tangan manusia yang membawanya. Tak ada apapun berpindah kalau tanpa buah kerja manusia.
Begitu juga sampah-sampah di luar angkasa, atau di lautan sana, atau di dataran Afrika sana. Tak bisa ke sana tanpa kerja manusia.
Manusia yang mana?

Reproduksi keluh kesah setiap hari. Tapi mesin-mesin penggeruk-penggiling terus bekerja. Cerobong asap juga begitu. Lalu sepasang mata lebar dua centimeter kita tetap nanar melihatnya.

Kalau sudah habis semua, eksistensi mau ditaruh di mana? Esensinya tetap ketemu nggak?

Ah, kamu bertanya terus menerus aku pusing.

*

Selamat hari Senin.

wordsflow