Wacana Ekonomi: Penguasaan Pasar (i)

by nuzuli ziadatun ni'mah


Mari bicara tentang sebuah wacana yang entah bagaimana belakangan ini bercokol di pikiran saya. Sebelum saya mulai melakukan pembahasan mendalam tentang konsep yang ada di dalam pikiran saya, ada baiknya saya menjelaskan latar belakang saya sebagai seorang makhluk ekonomi.

Pada tataran praksisnya, bisa dibilang bahwa saya merupakan salah satu masyarakat kapitalis, dimana yang menjadi tujuan utama kegiatan ekonomi yang saya lakukan adalah untuk menimbun nilai lebih. Dalam konsep marxisme, pada suatu mode produksi, nilai lebih inilah yang menjadi tujuan setiap manusia kapitalis dalam mengambil tindakannya. Nilai lebih merupakan nilai yang muncul akibat adanya proses yang terjadi pada faktor produksi dan adanya faktor pekerja di dalam sebuah usaha produksi, sehingga nilai yang tercipta memiliki nilai yang lebih tinggi dari biaya yang dikeluarkan. Dalam konsep kapitalis, maka nilai ini yang akhirnya menjadi tujuan utama dan akhirnya ditimbun untuk digunakan sebagai kapital.

Demikian, konsep kapitalis ini menghegemoni masyarakat luas yang ada sekarang sebagai akibat dari adanya globalisasi dan percepatan sistem tata kehidupan. Hal semacam ini menimbulkan beberapa implikasi praksis, dimana pola ekonomi masyarakat akhirnya mengalami perubahan dari bentuk subsisten, menjadi kapitalis. Meskipun memang pada praktiknya ‘kapitalis lokal’ ini masih memiliki hambatan-hambatan baik karena faktor internal seperti pengetahuan dan preferensi politik, atau faktor dari luar seperti teknologi dan akses.

Faktor-faktor Penguasaan Pasar

Saya melihat bahwa penguasaan pasar merupakan akumulasi dari beberapa penguasaan sektoral, yaitu kapital, jaringan, pengetahuan, dan kebijakan/birokrasi. Dalam hal ini, bentuk ini dapat dijelaskan lebih lanjut dengan aktor utamanya adalah pengusaha, media, ilmuwan, dan pemerintah/birokrat. Saya pikir faktor-faktor ini sepertinya juga sudah pernah dibicarakan oleh banyak orang, terutama untuk yang memiliki perhatian lebih terhadap globalisasi dan gerak kapitalisme di dalam masyarakat kita.

Kapital

Menurut prinsip kapitalisme, hanya mereka yang memiliki kapital yang memiliki akses terhadap alat-alat produksi dan mengatur sistem perdagangan. Dalam dunia bisnis sudah dapat kita lihat bersama bahwa kapital memang mengambil alih dominasi pasar. Pemilik modal menjadi kunci utama dalam penciptaan pasar dan dengan sukses mereka menguasai pasar-pasar ini. Pemilik modal menjadi pihak yang mengendalikan berjalannya pasar, mereka yang menentukan harga pasar dan bagaimana sistem pasar berjalan.

Modal menjadi poin yang sangat penting karena setiap aspek ekonomi hanya bisa diperoleh dengan modal (dalam hal ini uang). Sosial kapital yang dimiliki masyarakat pada masa lalu (atau masih ada hingga hari ini) tidak cukup untuk menjadi dasar penciptaan usaha. Jika ini berhasil pun, bisa jadi sebenarnya pihak-pihak ini secara tidak sadar sedang berada di bawah kekuasaan pemilik modal yang lebih besar; misal perbankan atau korporasi melalui organisasi CSR.

Jaringan

Terputusnya rantai antara produsen dan konsumen oleh pihak distributor adalah faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penguasaan pasar yang lain. Pada sistem yang lebih tradisional, tengkulak adalah contoh kasus yang nyata dalam sistem ini. Kita bisa melihat bagaimana tengkulak berusaha untuk menguasai komoditas dan melakukan pengendalian harga terhadap komoditas tertentu. Demikian, dengan cara ini maka produsen tidak bisa bertemu langsung dengan konsumen karena akses yang tertutup oleh pihak tengkulak.

Pada sistem ekonomi kapitalis, sebenarnya akses inilah yang berusaha untuk dibuka, sehingga pasar bebas bisa benar-benar terjadi. Bahwa konsumen berhak untuk bertemu langsung dengan produsen dan melakukan transaksi ekonomi. Namun saya pikir, bentuk pasar bebas ini adalah upaya untuk merubah tengkulak tadi menjadi bentuk privatisasi akses yang lain dalam bentuk korporasi. Hal ini bisa dilihat dari berbagai waralaba, mall, atau supermarket besar. Hubungan antara produsen dan konsumen sekali lagi dikuasai oleh pihak ketiga yang menjadi pengontrol hubungan ini. Dalam bentuk lain misalnya, adanya kekuatan jaringan dalam penguasaan pasar bisa dilihat dari cara penguasaan terhadap pasar internasional. Bagaimana kran-kran impor dan ekspor dibuka hanya untuk orang-orang (atau pihak-pihak) tertentu saja dan sungguh sulit untuk masuk dan turut menjadi pemain di sana.

Belum lagi media yang juga turut memantapkan para pengusaha dalam menghegemoni masyarakat dengan tayangan-tayangan iklan yang semakin inovatif. Bahwa masyarakat begitu seringnya menghabiskan waktu di hadapan televisi, atau semakin banyaknya orang yang melek teknologi dan begitu dekat dengan gawai membuat setiap hal yang baru dapat begitu mudah diakses (terbukti hanya dalam waktu sehari semua orang bergawai tahu lagi PPAP yang itu). Media di sini saya artikan semua hal yang berhubungan dengan upaya komunikasi, baik secara internal maupun eksternal ke masyarakat luas. Begitu juga untuk menjelaskan jaringan, yang saya maksud adalah setiap bentuk rantai komunikasi yang mungkin bisa dibentuk dan dimonopoli/dikuasai.

Pengetahuan

Sejak awal, pengetahuan menjadi barang yang mahal. Pengetahuan membuat individu (atau kelompok masyarakat tertentu) memiliki kekuasaan yang lebih besar dibandingkan dengan individu atau kelompok masyarakat yang lainnya. Pengetahuan membuat individu mampu mengembangkan strategi yang lebih baik lagi untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Dalam hal ini keuntungan kemudian dapat berupa relasi sosial, penguasaan sumber daya, kekuasaan politik, dan banyak bentuk lain yang mungkin ada.

Lebih jauh, jika kita melihat bagaimana penguasaan pengetahuan ini diproduksi, kita akan menyadari bahwa segala sektor telah ‘dicemari’ globalisasi dan kapitalisme terselubung. Saya pikir tulisan teman saya tentang kesehatan pada artikel di web lembahcode.com sudah bisa menggambarkan bagaimana pengetahuan digunakan dan disalahgunakan untuk menciptakan pasar. Contoh nyata misalnya penggunaan pasta gigi untuk kesehatan mulut dan gigi. Padahal di masyarakat kita, mereka telah mengenal sirih-pinang yang memang telah terbukti menyehatkan gigi dan mulut. Konversi-konversi semacam ini terjadi pada banyak hal, sehingga akhirnya muncul kecenderungan untuk merasa membutuhkan suatu produk tertentu yang sebenarnya, merupakan manipulasi pengetahuan.

Pengetahuan tidak kemudian dijadikan salah satu bentuk upaya untuk keluar dari ketertindasan namun lebih digunakan untuk melegitimasi hal-hal yang ditentang oleh masyarakat. Dalam hal ini saya pikir, akademisi menyumbangkan dosa terbesarnya karena tidak memihak kepada khalayak umum. Saya pun demikian saya kira. Pada setiap disiplin ilmu, banyak temuan dan hasil penelitian yang digunakan untuk semakin menekan masyarakat yang tidak memiliki akses pengetahuan. Mereka dianggap tidak paham, tidak tahu, dan tidak dapat membuktikan analisisnya secara logis dan empirik.

Kebijakan dan birokrasi

Ketiga formula di atas akan semakin mengukuhkan posisi penguasa apabila ditambahkan dengan kekuatan politik untuk mengambil alih ‘hak’ memuat kebijakan. Kebijakan seharusnya bisa menaungi kepentingan masyarakat di atas kepentingan segolongan orang. Namun kita bisa melihat sendiri bagaimana posisi-posisi strategis diisi oleh konglomerat pasar untuk semakin melancarkan penguasaannya terhadap sumber daya dan pasar. Dalam hal ini, pemerintah kemudian menjadi tidak lagi dapat dikatakan berpihak kepada rakyat, sehingga muncullah suara-suara di belakang, “lalu untuk apa ada negara?”

Belum lagi birokrasi yang semakin sulit dan memiliki alur proses yang panjang, membuat masyarakat yang ingin mengembangkan usahanya dibuat menyerah di tengah jalan. Kebijakan dan birokrasi yang pro pengusaha besar sebenarnya sudah banyak juga mendapat kritik dari masyarakat, akademisi, dan kelompok pro rakyat, namun saya pikir, ketika kita sendiri tidak mampu menggalang rakyat (bukan sekedar massa) ke dalam satu suara atau justru turut masuk ke sistem pemerintahan, agaknya masih begitu jauh upaya untuk membuat kebijakan yang pro rakyat ini.

Beyond those things

Indonesia adalah negara yang ‘menyenangkan’ untuk bermain uang dan kekuasaan. Untuk bermain dalam ekonomi politiknya, dan untuk melakukan manipulasi-manipulasi akademis. Saya kira saya cukup kasar di tulisan ini karena dengan menulis ini saya mengesampingkan pihak-pihak yang begitu gigih berjuang atas nama kebenaran dan kejujuran akademis. Saya paham pihak-pihak itu ada, saya memahami bagaimana orang-orang yang memang serius terus berusaha mencapai tujuan pembebasan untuk rakyat. Namun, dalam lingkup negara, kita tidak memiliki kekuatan apa-apa.

Di sini, karena saya berencana menuliskan wacana di postingan selanjutnya, saya hanya berusaha mencoba melihat adakah celah untuk kita bermain lebih cerdas? Adakah potensi yang bisa dimanfaatkan untuk keluar dari sistem yang begitu rumit dan mbundet di negara ini?

Ada. Di setiap sektornya masih ada celah yang bisa kita isi dan bisa kita gunakan untuk mencoba bermain dengan cara yang lebih cerdas. Minimal sekali keluar dari ketertindasan sebagai buruh dan masyarakat kelas bawah.

Sampai di sini dulu, saya coba pikirkan lagi cara menulis dengan baik agar maksud saya bisa tersampaikan. Tabik.

wordsflow