Curhat yang lain

by nuzuli ziadatun ni'mah


Pernahkah kamu begitu rindu untuk merasa kecil, tak berguna, kesepian, dan akhirnya menangis sesengukan di antara derai hujan dan angin? Gunung mengajari saya semua itu. Berpeluh begitu rupa, putus asa, lalu menyadari bahwa saya belum pernah menemukan diri sendiri.

Apa yang begitu hebat dari menjadi seorang manusia? Rene Descartes bilang cogito ergo sum, Husserl bilang karena kita memiliki consciousness of consciousness. Tapi apa sebenarnya kesadaran itu?

Kurang dari seminggu yang lalu saya baru bercerita ke Monot perihal krisis eksistensi yang saya alami. Ini hanya momen perulangan memang, tapi implikasinya jauh lebih berat dari yang saya rasakan sebelum-sebelumnya. Monges pernah bilang kalau itu adalah first quarter life syndrome. Jadi memang wajar jika di umur ini saya mengalami ini berulang kali.

Saya punya teman yang selalu menuliskan hal-hal yang juga saya pikirkan, sampai menjadi mudah buat saya untuk memahami kekacauan pikiran saya lewat penjelasan dia. Orang ini bernama Sentot dan sebelumnya saya pun pernah menyinggungnya. Di tulisannya yang terakhir berjudul otentik, sedikit banyak adalah hal-hal yang saya alami juga belakangan ini. Ah sial.

Saya punya permasalahan akut dalam memandang mata orang lain. Sudah berkali-kali ketika saya bicara dengan seseorang, selalu ada yang bertanya “kamu ngeliatin apa sih?” karena saya tak memandang mata mereka dan malah mengedarkan pandangan ke sekeliling. Bahkan beberapa kali saya dikira menunggu seseorang, atau mencari sesuatu. Saya bahkan menyadari bahwa saya tak pernah punya memori wajah orang lain ketika berbicara dengan saya, hahaha. Sebelumnya saya menganggap ini memang karakter saya, dan sudahlah, yang penting komunikasi tetap berjalan.

Tapi semenjak beberapa minggu yang lalu, saya selalu merasa ragu masuk kuliah Mas Bambang. Itu pertama kali saya begitu merasa terintimidasi karena dipandang langsung ketika bicara. Sangat nggak enak, sungguh. Sayangnya, karena dia dosen makanya saya mencoba bertahan barang beberapa detik saja, sampai akhirnya memutuskan pura-pura sibuk menulis. Setelah kejadian itu, saya berhati-hati untuk tidak kontak mata lagi.

Mungkin, itu juga yang menjadi alasan kenapa saya selalu bisa menemukan hal-hal mendetil dari seseorang. Lebih karena saya selalu mengalihkan perhatian pada sesuatu yang lain kecuali mata saat sedang bicara. Paling menarik buat saya adalah melihat bibir orang lain. Entahlah, selalu saja saya tertarik untuk meneliti lekuk muka seseorang kecuali melihat matanya. Dan bahkan saya selalu bertanya-tanya, bagaimana orang-orang melakukan kontak mata itu dengan yakin, karena saya nggak pernah bisa.

Ah, balik ke topik krisis eksistensi.

Pada suatu ketika yang lalu, saya merasa begitu bingung, karena begitu banyak banjir informasi. Informasi yang nggak bisa saya kotak-kotakkan begitu saya tanpa berusaha untuk menghubungkan dengan hal lain. Nggak bisa, saya nggak bisa melakukannya. Setiap informasi yang saya terima saya debatkan di dalam pikiran saya sendiri.

Pemikiran tentang eksistensi yang akan begitu sulit diterima ketika dibenturkan pada realitas. Manusia tidak menjadikan eksistensi (sesuai maksud Descartes atau Husserl) sebagai prioritas utamanya. Manusia tidak memiliki prioritas hidup yang sama. Lebih dari itu, manusia lebih suka menciptakan kesadaran palsu untuk menutupi keresahannya akan banyak hal. Menonton film, menonton acara musik, membaca novel, apa lah semua-muanya sebenarnya adalah upaya untuk menutupi atau lari dari keresahan. Semakin lama, saya semakin merasa palsu.

Bisa jadi benar kata Sentot, mungkin karena era kemajuan teknologi ini mampu memanipulasi dan mendistorsi pikiran kita. Saya selalu sadar, karenanya saya lebih suka lari menuju kesendirian atau keheningan. Kamar kosan saya adalah tempat paling praktis dan ampuh sejauh ini. Luasnya memang tak seberapa, bahkan lebih terasa seperti penjara. Tapi tempat itu membuat saya bisa memikirkan apapun yang saya mau. Menjadi saya yang paling jujur pada diri sendiri. Menjadi saya yang tak usah memikirkan nilai-nilai dan moral. Menjadi manusia saja.

Sejauh ini, saya sangat menikmati momen-momen bersentuhan. Menyentuh orang lain, menyentuh api dan merasa panas, tersentuh benda tajam dan terluka, dan terutama, mandi adalah favorit saya meski saya jarang mandi. Momen bersentuhan membuat saya merasa waras karena menemukan realitas. Menyentuh apapun menyenangkan, apalagi kalau kehujanan.

Krisis eksistensi tidak bisa sembuh dengan cara menuliskan ini. Setiap saya menulis, selalu ada yang saya pertentangkan kembali. Menulis untuk menyampaikan pemikiran, namun juga untuk mencerna kembali dan memperdebatkan ulang yang terbaca di dalam pikiran. Siklus itu tak akan pernah berakhir sampai mati. Karena itu saya kemudian percaya bahwa di sini, ‘saya’ sudah mati.

*

Jiwa pohon ada di mana? Kalau mati yang hilang apanya?
Apa benda mati tak punya jiwa? Kalau mati dia tetap di sana sampai kapanpun juga?
Kalau kertas ditiup angin tetap mati nggak?

Saya terkagum-kagum pada kematian. Hal itu hingga sejauh ini belum terjelaskan dan belum mampu dipahami oleh pikiran saya. Saya pernah yakin bahwa manusia memiliki kehendak bebas. Tapi mati membuat kebebasan itu menjadi terbatas dan tak berarti. Kita memiliki banyak pengertian untuk mati, pun demikian untuk hidup. Keduanya bisa saja tidak sungguh-sungguh berlawanan. Lampu yang hidup tidak sama dengan manusia yang hidup. Matinya manusia kehilangan nyawa, tapi jasadnya tetap hidup, ia tetap membusuk; tetap berproses. Matinya tumbuhan dan manusia bisa jadi sama, tapi pengertian hidup keduanya berbeda.

Saya lebih suka membayangkan bahwa hewan dan tumbuhan punya pemikiran yang sama dengan kita. Bahwa mereka punya emosi yang sama menjadi begitu menyenangkan untuk dibayangkan.

Saya ingin mengabadikan kematian–maksud saya ke-mati-an; keadaan mati. Melihat yang mati membuat saya merasa tak berarti. Manusia hilang ketika mencoba mati, dan yang mati tak berdaya mencoba hidup. Melihat kematian membuat saya merasa lebih hidup.

Sakit jiwa? Mungkin.

Melihat lebih banyak orang semakin membuat jiwa saya ‘sakit’. Melihat orang, berarti mengupayakan membaca pikirannya memahami kecenderungannya, memaknai kalimatnya, merasakan emosinya, dan banyak hal lain yang harus saya lakukan untuk bersosialisasi. Tapi apa itu begitu melelahkan? Tidak sebenarnya. Saya suka mengobrol dengan banyak orang. Bahkan saya menyadari bahwa saya jauh lebih cerewet dari jaman SMA, dan selalu saja dalam banyak pembicaraan saya menemukan diri saya yang mencoba mendominasi forum. Selalu begitu dan justru diri saya sendirilah yang membuatnya begitu melelahkan.

Ah bukan. Sebenarnya karena ketika saya berinteraksi dengan orang lain, saya selalu sadar bahwa tidak ada hal apapun yang aku tahu darinya. Saya tidak bisa bersama dengan orang lain. Saya tidak bisa menyentuh mereka. Saya tidak tahu apapun tentang siapapun. Tak mampu menghapus jarak jiwa yang ada di antaranya. Perasaan teralienasi (bukan alienasi konsepnya Marx) yang begitu dalam justru datang dalam kebersamaan, dan itu menyakitkan. Justru dengan melihat dari jauh saya merasa jauh lebih hidup dan nyata. Entahlah, saya masih saja menutupi semua hal itu dengan tetap menjadi makhluk sosial pada umumnya.

Hemm, nulis apa lagi ya? Renderan video saya masih belum selesai juga padahal sudah lewat 3 jam, dan masih ada review yang menunggu.

Ngomong-omong review, bukunya Nancy Peluso sebenarnya mengundang untuk direview di blog ini. Apa lagi temanya menarik banget, tentang konversi hutan di Jawa. Nanti lah ya kalau saya sudah punya cukup waktu luang dan nggak dikejar-kejar untuk menyelesaikan banyak hal. Sungguh, saya harus menulis itu.

wordsflow