Melihat kematian; produksi kesedihan, keprihatinan, kesenduan

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu,
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati disisimu, manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tau

Mari sini, sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik, dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung

Kita tak pernah menanam apa-apa
Kita tak pernah kehilangan apa-apa

_Soe Hok Gie

Mengapa saya begitu suka berada dalam kondisi ‘sedih’ adalah hal yang selama ini saya pertanyakan. Simply because I’m comfortable with that saya rasa. Tapi saya pun nggak yakin dengan itu. Bisa jadi karena saya merasa hal-hal semacam itu menciptakan sensasi sendiri buat saya, dan sensasi itu terasa nyaman dan menghidupkan. Atau karena saya sebenarnya berupaya untuk mencapai empati yang sesungguhnya, maka mendekati kesedihan adalah cara yang bisa saya lakukan.

Apakah patriarki itu salah? Apakah emansipasi harus diutamakan?

Berkeadilan itu sulit, karena manusia bertahan hidup lewat dependence relation. Memahami makna oppressed saja begitu sulit. Apakah ketika ada kerelaan kita harus melihatnya sebagai being oppressed juga? Yang mana yang masuk definisi itu?

Puisi Soe Hok Gie adalah yang paling sering saya rapalkan di dalam pikiran. Saya bisa merasakan kesendirian, keterasingan, dan kerusuhan di dalam pikiran ketika membaca itu. Saya bisa membayangkan latar penulisannya meski itu hanya angan-angan saya semata.

Di saat seperti ini–ketika tak ada manusia lain yang bangun, hujan turun, sayup-sayup suara musik dari i-Tunes, keheningan, dan ketenangan–saya bisa merasakan bagaimana kematian justru menampakkan yang hidup. Memahami bahwa yang mati yang bisa berlaku seperti yang hidup, maka tak akan ada barang berpindah kecuali ada kehidupan yang memindahkan. Karenanya, melihat yang mati memberi bukti pada yang hidup.

Puisi Soe Hok Gie juga begitu. Justru kematiannya dan kenyataan bahwa ia menuliskan deretan kata membentuk puisi menjadikannya hidup. Puisi menyatakan keberadaannya, membuatnya tetap nyata di alam pikiran manusia-manusia yang mengenal atau sekedar tahu namanya.

Bagaimana memaknai sensasi yang datang dari mimpi? Ketika kamu sungguh merasakan sensasi kehangatan bergandengan tangan, basah karena hujan, dan hal-hal semacam itu di dalam mimpi, sementara ia hanya rekaan otak atau reaksi terhadap alam bawah sadar dan keinginan yang terpendam. Ketika mimpi bahkan bisa diciptakan di luar fase REM, apakah sungguh hanya ekspresi keinginan semata? Saya kok lebih ingin percaya bahwa itu adalah media bagi parapsychology phenomenon untuk berasosiasi.

Mengingat mimpi dan merasakan sensasinya sangat menguras ingatan buat saya. Hal semacam itu harus dilakukan dalam diam, dalam keheningan pikiran hingga memori tentang mimpi mencuat dengan sendirinya. Sensasi indrawi yang ditinggalkan mimpi selalu membawa melankolia, dan itu hal-hal yang saya cari ketika bangun tidur. Mungkin saya fetisis, ah tapi nggak juga kok. Saya tetap mencoba waras dan nggak ‘mencari-cari’ hal semacam itu.

Produksi kesedihan dan melankolia adalah upaya untuk mendekati keprihatinan, menjauhkan dari realitas palsu. Kesedihan membawa sensasi yang lebih nyata dari kesenangan dan saya lebih memilih mendekati kesedihan untuk mencapai realitas. Mencari respon pikiran melalui syaraf dan air mata, sehingga realitas mampu di-nyata-kan di dalam pikiran.

Hemm, lebih dari itu, menuliskan hal ngalor-ngidul di blog adalah jenis yang paling saya sukai. Sebuah spontanitas menulis (meskipun ada beberapa yang nggak benar-benar spontan) yang bisa merekam lompatan pikiran di dalam kepala saya. Saya pikir, ini bisa menjadi media untuk mencoba memetakan bagaimana saya mengaitkan satu topik dengan topik lainnya. Sejauh ini, tulisan yang paling membuat saya terkagum-kagum mengenai penjelasan lompatan topik dan logika berpikir adalah novelnya Conan Doyle, the mighty Sherlock Holmes. Dia bisa menjelaskan latar belakang seseorang hanya melalui pengamatan gerak-gerik, ciri-ciri fisik, gestur, dan ‘properti’ subjeknya. Seru sekali.

Dan, saya ucapkan selamat pagi. Saya produksi buku dulu ya, hehe.

wordsflow