Membicarakan masa depan

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sebenarnya saya mau menulis tentang lanjutan balada kamar mandi yang sudah lama tidak saya update, ah tapi saya menulis saja deh nggak usah sok-sokan bikin tulisan seri gitu, haha (padahal nanti juga nulis lagi yang begitu).

Sewaktu mandi kemarin sore, saya teringat dengan masa-masa ketika saya masih kecil, masa SMA dan kebelakang, ketika membicarakan hal-hal seputar cita-cita dan impian masa depan terasa begitu membuai dan relevan dengan hidup. Segala hal yang berbau masa depan terasa begitu jauh dan buta, namun selalu saja mengundang untuk diperbincangkan. Ketika itu (dan sampai beberapa waktu yang lalu) agenda tentang berrumah tangga dan percintaan adalah wacana yang selalu menyenangkan. Sekarang? Saya harap masih sama, hanya saja intensinya saja yang berbeda.

Perkataan yang menciptakan kenyataan, dan perkataan juga yang mengubah kenyataan agar mampu diterima oleh pikiran. Kita berusaha untuk menyatakan hal-hal yang ingin kita percayai dengan, yaah, mungkin perubahan-perubahan.

Membicarakan masa depan masih relevan hingga saat ini, tentu saja dengan topik-topik yang lebih, serius. Yang serius yang bagaimana? Yang bisa mengisi kekosongan rasa, yang memicu adrenalin saya. Yang mana? Entahlah.

(ah, saya kehilangan semangat menulis)

wordsflow