Bicara soal seks

by nuzuli ziadatun ni'mah


Mari membicarakan hal tabu yang satu ini. Topik asik yang sebenernya semua orang suka tapi terkungkung nilai dan moral untuk membicarakannya di luar lingkaran terdalam pertemanan.

Well, enggak ding, saya masih merasa topik ini juga tabu dibawa keluar dari diri sendiri atau lingkungan yang paling intim dengan kita. Saya cuma mau sharing aja, karena tiba-tiba waktu makan nastel tadi siang, saya terdorong untuk segera membahasnya. Hehehe.

Seks, sesuatu yang akan datang pada seluruh entitas manusia tanpa terkecuali. Di kuliah tempo hari, saya kembali diingatkan tentang oedipus complex dan electra complex. Kalau kamu belum tahu tentang keduanya, saya jelaskan sedikit ya, lengkapnya baca sendiri di wikipedia atau cari di google.

Oedipus complex merupakan konsep Freud dalam memahami psikologi manusia. Oedipus complex membicarakan tentang ‘rasa benci alamiah’ yang dimiliki seorang anak laki-laki terhadap ayahnya sejak lahir. Menurut Freud, rasa benci ini muncul karena persaingan mendapatkan cinta ibu bahkan ketika si anak laki-laki masih bayi. Sedangkan electra complex merupakan postulat Jung sebagai hasil studi psikoseksual terhadap anak perempuan. Menurut Jung, sama halnya dengan anak laki-laki, sejak kecil anak perempuan menganggap ibunya adalah saingannya dalam mendapatkan cinta sang ayah.

Penjelasan lebih lanjutnya sangat seru menurut saya. Tapi saya belum punya waktu sebanyak itu untuk lebih mendalami baik Freud maupun Jung, meski kesukaan saya pada psikologi begitu tinggi, saya tetap harus tahu diri bahwa saya nggak punya waktu sebanyak itu buat baca buku. Setidaknya saya masih menulis, syukurlah.

Mungkin kalau kita ditanya apakah kita mengalami salah satu dari kedua sindrom itu, banyak yang akan menyangkal. Tapi saya mau mencoba refleksi sejujur-jujurnya biar tulisan ini nggak mentah banget dan jadi nggak ada gunanya.

Electra complex saya pikir pernah ada dalam diri saya meskipun saya nggak segitu membenci ibu saya (dalam artian mendapat cinta ayah saya). Konsep ini bukan konsep milik masyarakat tradisional, tapi milik Jung yang entah dia hidup di lingkungan yang seperti apa hingga bisa berpikir demikian. Namun, bahkan kita sudah merasa akrab dengan istilah “Dad always be an every girl’s first love”, di sana electra complex bersemayam. Mungkin ketika sudah dewasa semacam ini, saya tak lagi merasakan hal itu, tapi bisa jadi suatu ketika dulu saya begitu dekat dengan ayah saya, sampai-sampai berusaha merebutnya dari ibu saya. Pernah suatu ketika saya melihat keluarga kecil dengan seorang anak perempuan. Sungguh, electra complex terlihat begitu nyata di sana, di mana anak perempuan berusaha melakukan segala hal untuk membuat ayahnya kagum dan merasa bangga.

Hal-hal semacam itu, secara naluriah terekam di dalam diri manusia lewat gestur. Kecenderungan manusia akan seks terlihat dari gerak-gerik kita setiap hari. Pada wanita, hal itu diperlihatkan lewat membusungkan dada, atau misal laki-laki ketika duduk ngangkang misalnya. Ada banyak gestur lain yang muncul berkenaan dengan adanya naluri seksual dalam diri manusia.

Secara naluriah, bahkan manusia memiliki siklus dalam tubuhnya untuk memproduksi hormon-hormon yang mampu memicu hasrat seksual. Misal pada wanita, produksi esterogen yang tinggi memicu naiknya hasrat seksual dan hal semacam itu bisa dirasakan oleh tubuh. Masa-masa sebelum menstruasi itu menyiksa buat saya karena nafsu makan akan meningkat dan tubuh saya mengalami rasa sakit yang aneh. Saya nggak tahu pasti bagaimana siklus yang dialami laki-laki, tapi saya pikir siklus semacam itu tetap ada.

Demikian, sangat wajar jika hal-hal semacam seks menarik perhatian manusia, karena itu ada di alam sadar dan alam bawah sadar kita. Bahkan kalau kamu belum pernah tahu cara berhubungan seksual, kamu akan tetap bisa melakukannya kok. Kesimpulan dari mana saya juga nggak tahu, saya cuma merasa hal itu ultra naluriah, bahwa ketika secara alami tubuh kita merasaka dorongan seksual, seharusnya dia juga secara naluriah memiliki metode-metode untuk meredam hasrat seksual tersebut.

Pertanyaan selanjutnya: kenapa saya tiba-tiba nulis ini?

Seperti sudah saya ungkapkan di atas, saya tiba-tiba terdorong untuk membicarakan hal ini. Tapi sebenarnya pertanyaan awal yang muncul di pikiran saya adalah kecenderungan sexual harrasement yang sering ada di masyarakat atau di berita-berita, bisa jadi bahkan di dalam kehidupan sehari-hari kita.

(Agak canggung sebenarnya membicarakan ini di sini, secara orang-orang yang mampir ke sini pasti langsung memberikan penilaian meraka. Tapi sudahlah, pencitraan itu nggak berguna buat saya.)

Banyak berita yang memberitakan adanya sexual harrasement terkhusus pada perempuan. Bahkan di banyak angkutan umum, disediakan ruang khusus untuk wanita demi menghindari sexual harrasement. Lebih dari kejadiannya, sebenarnya yang perlu diteliti adalah mengapa hal itu bisa terjadi di dalam masyarakat kita?

Citra seks sebagai hal yang harus dihindari saya pikir cukup menyumbangkan peran sebagai penyebab adanya interest explosion di dalam diri seseorang. Bagi orang yang tidak tahu sebelumnya tentang seks, maka melihat atau bahkan melakukan hal-hal yang berhubungan dengan seks menjadi sangat menarik untuknya, bahkan bisa jadi berlebihan kemudian. Seks sebagai hal yang selalu ditutup-tutupi dan memalukan untuk diketahui bersama membuat orang nggak mau mencoba untuk melihat lebih dalam adakah anaknya memiliki kecenderungan seks yang berlebihan atau berbeda dengan kebanyakan orang. Ataukah kita memiliki kecenderungan seks yang menyimpang dan berlebihan?

Seks mengambil banyak peran di dalam kehidupan manusia. Dalam memilih pasangan, dalam menjalani hidup, dalam berpakaian, dalam berkehidupan lah pokoknya, setidaknya seks mengambil peran di sana. Perkembangan fashion merupakan salah satu bentuk doktrinasi akan hal-hal yang dianggap memalukan dan memicu hasrat seksual di masyarakat. Bahkan perdebatan tentang pakaian yang menutup aurat atau tidak ini masih dibahas dengan begitu berapi-api oleh banyak orang. Silakan tengok sendiri. Semua itu tentu saja ‘hanya’ karena perihal seks. Lebih jauh, pembahasan seks ini juga masuk ke penggalian dokumentasi sejarah tentang pakaian tradisional Indonesia yang memang tidak pernah mengganggap ‘keterbukaan’ bagian tubuh sebagai hal yang memalukan.

Kita kemudian, berhadapan dengan nilai-nilai dan moral.

Di masyarakat tradisional, dimana mereka menganggap payudara ‘hanya’lah bagian tubuh manusia, lebih jauh bahkan sebagai pemberi kehidupan bagi generasi berikutnya, tentu saja akan merasa bahwa itu biasa saja. Masyarakat modern lah, yang karena upayanya untuk menutupi bagian-bagian tubuh itu atas nama nilai-nilai dan moral, akhirnya terkungkung sendiri terhadap ketertarikan seks mereka.

(Saya nggak mau menyinggung masalah agama dulu ya di sini, itu perihal lain yang kalau turut dibahas akhirnya malah nggak kemana-mana.)

Nilai-nilai tentu saja, membuat masyarakat memiliki prioritasnya sendiri dalam bertindak di masyarakat, entah itu bertentangan dengan dirinya sendiri atau tidak. Tapi masyarakat itu berubah. Masyarakat berdinamika mengikuti jamannya. Kita berkembang sedemikian rupa menggeser yang dianggap tidak diperlukan, menggantinya dengan sesuatu yang baru.

Pengetahuan seks secara blak-blakan dianggap tidak sesuai dengan norma. Buku pelajaran dihindarkan dari pengetahuan seksual, gambar-gambar dihilangkan dari buku pelajaran karena dianggap tidak pantas. Padahal, dari mana para laki-laki akan tahu tentang wanita, dan sebaliknya? Maka yaudah, dicobain aja sendiri-sendiri. Salah siapa pendidikan nggak mengizinkan muridnya untuk mengetahui hal-hal semacam itu.

Ah, saya sarkas sekali. Bukan. Saya bukan mengutuk sistem pendidikan kita begitu saja. Mungkin ada pertimbangan lain dalam menghilangkan materi itu di sekolah. Tapi seharusnya, anak selalu diperkenalkan dengan seks, paling baik dari lingkungan keluarga dan tidak membiarkannya mencari-cari seorang diri dan akhirnya tersesat.

Kalau kita? Tahu diri saja di lingkungan apa kita hidup dan bagaimana menyelaraskan diri dengan lingkungan. Refleksi adalah hal yang paling mujarab untuk hidup lebih baik dan tidak semua orang bisa melakukannya dengan ikhlas. Tapi bentuk resistensi apapun yang mau kita lakukan, kita sudah terkungkung nilai-nilai dan moral.

*

Kesimpulan tulisan ini apa?

Seks adalah hidup kita, dan perilaku yang berhubungan dengan seks adalah wajar adanya. Kamu suka nonton film bokep atau ngeliat mbak-mbak seksi akan saya anggap wajar. Tapi dalam bertindak, saya berusaha untuk yakin bahwa manusia punya pertimbangan jauh lebih penting dari sekedar kebutuhan untuk memenuhi hasrat seksual. Produksi dan reproduksi nilai-nilai dan moral nggak bisa kita hindari untuk memagari perilaku kita di depan masyarakat. Tak ada hal berbau individual yang bisa dengan bebasnya dibenturkan dengan masyarakat, karena dalam masyarakat terdapat kesadaran kolektif yang sama; bisa jadi bahwa seks itu buruk.

Mengutip Pak Laks, setidaknya dengan menggali lebih dalam baik ke dalam diri sendiri atau ke dalam diri orang lain, jauh hingga masuk ke dalam, pada suatu titik kedalaman kita akan bertemu dalam kesepahaman, hehe.

Lalu, untuk menghindari kecenderungan seks yang berlebihan gimana mbak? Bekerjalah sampai gila hingga kalian lupa kalo kalian punya naluri bernama hasrat seks.

Selamat sore,

wordsflow