Babak (ii)

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ketika marah, ambillah air dan basuh mukamu hingga kamu merasa tenang. Jika itu tidak juga menyembuhkan, maka ambillah air wudhu dan dirikanlah shalat. Jika tidak kunjung reda juga, maka tidurlah hingga marahmu itu sirna.

Kapan saya mendengar kalimat itu? Saya lupa. Yang pasti itu terekam dalam ingatan saya.

Seharian tidak memegang handphone membuat hari saya cukup baik, meski dengan adanya insiden ketiduran tadi siang saya jadi nggak ngerjain tugas, skip kuliah Marxis (dan itu artinya utang 1 tugas), dan membuang waktu satu hari hanya untuk tidur. Tapi, saya memikirkan betul tulisan saya tadi pagi dan menyadari bahwa rasa depresi saya tadi pagi sudah tidak saya temukan begitu bangun tidur.

Saya bermimpi ke Barcelona, tempat yang tak pernah ada di angan-angan saya bakal saya kunjungi, dan entah bagaimana itu muncul di mimpi saya tadi siang. Mimpi itu setidaknya, mempertemukan saya dengan teman-teman SMA saya dan membuat saya memiliki pembicaraan berarti di sana. Bisa jadi, mimpi itu yang menyembuhkan saya tadi siang.

Ngomong-omong tentang postingan saya sebelum ini, saya sedih menemukan diri sedepresi itu, hahaha. Maksud saya, sebagai bagian dari sejarah hidup saya, kenyataan itu menyebalkan.

Apa itu masa lalu?

Saya pernah bilang di blog ini bahwa saya adalah manusia saat ini. Bagi saya, hanya saat ini lah yang penting, sedang masa depan hanya tentang probabilitas, dan masa lalu hanya ada di angan-angan. Apa maksud saya dengan itu?

Begini, suatu peristiwa akan menjadi sejarah begitu peristiwa itu berlalu. Padahal setiap detik ada hal baru yang terjadi dalam hidup kita, sehigga akan ada sangat banyak peristiwa masa lalu yang terekam dalam pikiran. Tapi, pikiran kita selektif untuk hanya mengingat beberapa peristiwa saja, dan menyimpannya sebagai sejarah hidup. Buat saya sendiri, sejarah hidup ini sebenarnya akan menampakkan ke-sejarah-annya, justru ketika kita tidak berusaha untuk mengungkapnya lewat tulisan, atau lewat lisan. Artinya, ia menjadi dirinya sendiri di dalam pikiran kita. Misal sejarah adalah bahasa, maka ia adalah langue, sedang yang kita uraikan di hadapan orang lain adalah parole. Dalam hal ini, kepada siapapun kita bercerita, meski ada perubahan-perubahan dalam cerita, sebenarnya kita menyimpan kejadian asli (peristiwa itu sendiri) di dalam pikiran, sebagai langue.

Mekanisme mengingat itu sangat unik. Kamu mengingat dengan pikiran, tapi sebenarnya yang menciptakan ingatan itu adalah adanya respon saraf dari masing-masing indera kita. Dari penglihatan, penciuman, pendengaran, pengecap, dan sentuhan. Itulah mengapa, kadang kita mengingat, misal mengingat masa SMP ketika mencium bau lotion yang kita pakai masa SMP, dan seterusnya.

Demikian, sejarah tidak secara langsung beimplikasi pada hidup kita di saat ini (detik saya menulis). Tidak ada yang bisa dilakukan sejarah pada hidup kita sekarang, dan sejak sejarah tercipta, kita sudah teralienasi darinya. Yang menakutkan itu masa depan, karena probabilitas itu relatif terhadap jumlah variabel yang kamu gunakan untuk menghitungnya.

Tapi, manusia lebih mudah terkungkung masa lalu dibandingkan takut akan masa depan. Saya pikir, itu karena imaji tentang masa lalu lebih jelas di dalam pikiran manusia, sedang masa depan selalu menjadi yang absurd dan buram.

Siklus. Saya memahami ada siklus di pikiran saya, di mana pada suatu masa saya akan begitu keras melakukan penolakan atas memori-memori masa lalu. Mencoba merutuki pilihan-pilihan yang tidak pernah saya ambil, dan seterusnya. Tapi di masa lain, saya akan menjadi manusia yang ultra positif yang memberi motivasi ke banyak orang dan tanpa sadar menyebarkan aura positif ke orang-orang di sekitar saya. Menemukan bentuk kontradiksi ini sangat mudah dari saya, karena bahkan isi blog ini semuanya adalah kontradiksi pikiran saya sendiri. Mungkin, jika dikaji secara hermeneutik dan didekonstruksi, kalian akan sadar bahwa saya tak pernah sungguh yakin pada satu hal. Saya selalu mendua dalam berargumen dan beropini. Menolak, tapi juga mengiyakan. Itu mirip love-hate relationship, huehehe.

Pada akhinya, sudah begitu banyak hal yang saya tulis di sini, entah yang pernah sungguh secara sadar saya tuliskan atau ketika sedang dirutuki emosi. Agak mengherankan jika hingga hari ini pun, saya masih bisa menemukan hal untuk saya tuliskan dan bagikan di blog ini, saya anggap itu sesuatu yang luar biasa. Maka kiranya saya semacam mencoba mengintimasi atau apa, abaikan saja. Tulisan-tulisan di sini tidak selayaknya menjadi pikiran orang lain juga. Toh sesuai tagline, setiap pengalaman pantas diingat, hehe, jadi peruntukkan tulisan ini sebenarnya adalah untuk diri saya sendiri.

Okaai, saya sudahi dulu karena besok hari sibuk, hehe.

wordsflow