Takut terasing dan menjadi tak bernilai

by nuzuli ziadatun ni'mah


Menjadi tak bernilai. Menjadi tak bernilai. Menjadi tak bernilai. Menjadi tak bernilai.

Lelah ya membaca blog saya yang isinya suram dan selalu pesimis? Saya pun demikian. Beberapa kali saya berencana menulis fabel atau cerpen lagi di blog ini, tapi mandeg dan akhirnya saya harus mengakui bahwa saya memang sedang tidak sehat kejiwaannya.

Saya tak pernah merasa se-tidak-bernilai ini sebelumnya. Sebegitu dalam saya merasakannya hingga saya nggak tau harus bagaimana merespon hal ini.

Di satu sisi, saya menemukan teman-teman baru yang bisa diajak bicara hal-hal yang terlampau serius dan terlampau berat untuk dibawa di sembarang forum. Di satu sisi saya mencapai popularitas tersendiri dari bisnis maya saya. Sedangkan di sisi lain, saya tak lagi menemukan rumah di manapun. Saya tak bisa menemukan itu di manapun kecuali di dalam diri saya sendiri; bersama jiwa dan emosi dan pikiran saya sendiri.

Perasaan terasing yang begitu dalam dan tak terjelaskan sedang menggerogoti kewarasan saya dalam merespon lingkungan saya tinggal. Saya tak tahu adakah orang-orang di sekeliling saya berupaya untuk ‘mendekati’ saya atau tidak, sayang karena saya tak mampu merasakan upaya itu.

Sembari menulis ini, saya cukup bertanya-tanya kenapa saya melakukannya di depan publik, di mana link ini pasti akan muncul di akun twitter saya dan berpotensi dibaca oleh orang-orang yang saya kenal. Saya sendiri menyadari itu. Tapi menuliskannya di buku harian saya yang sudah saya abaikan sejak tahun lalu hanya akan membuat saya semakin terpuruk. Justru mencoba bicara di hadapan khalayak akan lebih membuka nalar rasional saya dalam merespon keterasingan ini.

Am I happy?

Pertanyaan sederhana ini ternyata baru saya sadari bahwa terlalu sulit untuk saya jawab. Sudah lama, entah sudah berapa lama saya merindukan masa-masa saya masih SMA ke belakang, ketika pikiran saya masih penuh dengan mimpi-mimpi yang layak dikejar; sekolah ke luar, berkeliling Indonesia, membangun rumah sendiri di pinggir sungai, mengumpulkan buku untuk dibuat perpus, mencoba menjadi komikus, dan menjadi penulis novel. Masa-masa di mana saya tak perlu berpura-pura tertawa, atau berpura-pura dirundung duka. Masa saya masih jujur dengan hidup dan diri sendiri.

Sampai sejauh ini, saya berterima kasih jika ada yang membacanya, meski saya yakin kepedulian orang lain hanya akan bertahan 2 detik setelah membaca ini. Maaf kata-kata saya menyakitkan, tapi hampir tak ada orang yang saya percayai.

Saya pikir, sebenarnya hal-hal semacam itu yang justru mengungkung saya dalam diri sendiri. Rasa percaya pada orang lain yang tidak pernah bisa saya miliki, entah itu dalam mencoba peduli, dalam status pertemanan, atau dalam apapun, justru membuat saya sendirilah yang menjauhkan diri dari kerumuman. Menjadi terasing dalam keramaian. Tapi dengan menyadarinya, tidak lantas membuat saya mampu menjalaninya. Kesadaran tidak bergitu saja berimplikasi pada tindakan.

Saya pernah menulis tentang bersentuhan beberapa waktu yang lalu di blog ini juga. Dalam bersentuhan dengan benda apapun, kamu akan memahami realitas. Kamu menggantungkan realitas pada respon yang dimiliki oleh syarafmu, bahwa jika kamu mampu merasakannya, berarti kamu ada. Kita mencoba mendapat respon ketika berbicara, untuk menemukan bahwa diri kita dianggap ada. Kita akan terus memproduksi sesuatu sebagai upaya untuk mendapat timbal balik–memberikan bukti eksistensi sebagai yang Ada.

Ah, saya kira saya agak terlalu jauh, dan saya takut akan menuliskan banyak hal yang tidak perlu.