Materi

by nuzuli ziadatun ni'mah


Mari saya dongengin tentang kegiatan berenang saya tadi siang. Tapi harus saya tekankan kalau tulisan ini bukan tentang renangnya saudara-saudara, tapi materi. Got it?

Dalam kegiatan renang tadi siang, saya yang berbadan kaku dipaksa menjadi luwes untuk bisa bergerak di dalam air. Saya pikir, klaim bahwa manusia adalah perenang alami merupakan upaya untuk menjadi superior atas makhluk lain yang ada di bumi ini. Manusia mencoba menguasai makhluk-makhluk lain dengan menjadi perenang, atau penerbang. Ah, abaikan kalimat-kalimat ngelantur barusan. Mari balik ke topik renang dulu ya.

Berenang itu sangat menarik menurut saya. Manusia yang pada dasarnya hidup di ruang udara, ruang yang ringan dengan kerapatan molekul yang tidak terlalu rapat, menjadikan manusia melakukan apa aja dengan kecepatan tinggi. Sedangkan di dalam air, manusia memasuki alam lain yang lebih padat. Beruntung sekali bahwa manusia adalah makhluk paling adaptif di bumi ini, sehingga dengan mudah akan menyesuaikan diri dengan kondisi di dalam air.

Medium air yang memiliki kerapatan yang lebih pekat, membuat manusia harus beradaptasi begitu kita memasuki air. Air yang lebih padat dari udara menguntungkan manusia karena demikian, manusia menjadi lebih sulit untuk ‘jatuh’, sedangkan kerapatannya justru menjadikan gaya gesek yang diciptakan semakin tinggi, jadi semakin berat.

Begitu kita masuk ke dalam air, manusia beradaptasi begitu cepatnya untuk merasa nyaman dengan lingkungannya yang baru. Lingkungan baru ini saya rasa, karena memiliki kepadatan materi yang berbeda dengan udara, saya merasa begitu sulit untuk bernapas, seakan-akan saya terkungkung materi padat dari segala arah. Dan memang begitu kenyataannya. Tapi, sifat air yang mendukung tubuh namun memberatkan gerak terasa kontradiktif di badan kita, sehingga meski gerak kita begitu terbatas, namun dukungan air membuat keterbatasan itu mencapai keberimbangan. Ngerti nggak maksud saya?

Yang begitu saya sukai dari berenang adalah realitas materi yang bisa saya rasakan di seluruh titik tubuh saya. Anehnya, realitas materi itu tertutupi oleh ketakutan akan tertelannya fisik saya ke dalam materi, sehingga justru realitas itu coba saya jauhi. Dengan apa? Dengan gerak tubuh, sehingga saya akhirnya, berenang.

Mungkin ini terasa terlalu metafor sih. Tapi sensasi ‘terlepas’ yang saya rasakan begitu keluar dari air terasa begitu nyata dan membuat saya akhirnya memutuskan menulis ini hari ini. Sensasi ini menurut saya adalah ekspresi lega karena akhirnya saya kembali ke ruang yang saya kenal sejak lahir; ruang udara. Padahal, bisa jadi sebenarnya ruang ini juga mengungkung saya dengan kadar yang sama, tapi karena saya sudah begitu lama berada di dalamnya, maka kembalinya saya ke ruang udara membawa kelegaan pada jiwa saya. Akhirnya saya pulang, akhirnya saya terlepas dari upaya adaptasi dengan lingkungan baru.

Aneh sekali bahwa manusia memikirkan segala hal di ruang non empiris, sedangkan segala yang ia rasakan bersifat empiris. Oposisi ini kita temui di mana-mana, seperti halnya penjelasan saya mengenai realitas air yang bersifat dualistik tadi, mendukung dan menghambat. Demikian, kita menemukan bahwa manusia begitu adaptif pada hal-hal yang berada di ambang, manusia suka mendua, dan tidak sungguh-sungguh memilih salah satunya.

Materi adalah dunia ini. Dunia ini adalah materi. Manusia pun materi. Lalu di mana jiwa berada? Di mana pemikiran berada?

Ilmuwan tergila-gila dengan materi, hingga misal, mencoba menemukan suara dan menjadikannya materi melalui gelombang. Sebegitu tergila-gilanya sehingga menjadikan standar ilmu pada hal-hal yang empiris semata. Padahal yang menyatakan sifat empiris itu pikiran, dan dimana pikiran?

Sudah aja deh, nanti saya sambung kapan-kapan. (janji yang tak pernah ditepati)

wordsflow