menelaah kekosongan, menafsir keterasingan

by nuzuli ziadatun ni'mah


Mari kita kembali pada perenungan akan kekosongan, hehe. Saya suka deh kalau libur, saya jadi punya waktu untuk menulis.

Begini, saya berupaya untuk nge-breakdown bagaimana konsep kekosongan ini menghegemoni saya selama beberapa waktu ke belakang. Benar bahwa saya sudah mengakui ‘kesembuhan’ saya di postingan terakhir. Tapi, saya menyadari bahwa, lebih dari itu, sebenarnya saya masih berada dalam kekosongan yang sama. Apakah rasanya berbeda? Tentu saja, dan saya mencoba untuk menjelaskan ini kepada diri saya sendiri melalui tulisan ini.

Menurut saya, ada dua hal yang mendasari pemaknaan manusia akan suatu fenomena atau peristiwa yang akhirnya berimplikasi pada tindakan-tindakan yang ia ambil. Mengutip Husserl mengenai consciousness, keistimewaan manusia di atas makhluk lainnya adalah adanya ‘kesadaran’ di dalam diri manusia; hal yang tidak dimiliki makhluk lain. Kesadaran ini membuat manusia memiliki pemaknaan-pemaknaan tersendiri akan adanya suatu peristiwa atau fenomena. Yang kedua, adanya konsep consciousness dan sub-consciousness milik Freud, bahwa meski perilaku kita didasarkan pada consciousness, tapi ketika kita menemukan bahwa ada akibat-akibat atas ketidakmampuan diri memenuhi keinginan, maka ada hal-hal yang dibuang ke sub-consciousness; perasaan cemburu, sedih, trauma, dsb. Ekspresi perasaan-perasaan ini adalah sedih, marah, dan lebih dari itu adalah perasaan kesepian.

Sampai sini, saya anggap dua konsep yang saya ambil akan cukup menjelaskan pemikiran saya tentang fenomena yang sedang saya alami ini. Yah, meski saya nggak yakin sih, karena kecenderungan saya comot-sana-sini-yang-penting-saya-paham membuat pemikiran saya sulit saya sampaikan ke orang lain. Lagi-lagi, harus saya tekankan juga bahwa tidak ada yang final dari sebuah pemikiran. Sekali kita sudahi, matilah kita.

Ada yang berbeda dari menyadari akan adanya kekosongan dengan merasa kosong itu sendiri. Merasa kosong memiliki dampak yang lebih terasa daripada menyadari adanya kekosongan. Merasa kosong mambawa kita pada keadaan dimana segala hal kita tolak dari diri kita sendiri, hingga akhirnya tenggelam dalam diri sendiri, hancurlah kita. Kabar baiknya, saya sudah tidak lagi merasa kosong, tapi menyadari akan adanya kekosongan. Dalam artian, antara merasa dan menyadari, kesadaran memiliki porsi yang lebih besar, sehingga perkara ini ada pada desakan untuk memahami bagaimana kekosongan itu mengambil peran.

Kadang saya bicara tidak berdasarkan pada pemikiran tertentu, dan lebih membiarkan spontanitas itu mengambil alih pemikiran saya. Akibatnya, saya tidak memahami konstruksi kalimat saya dan ide di balik pendapat dan kata-kata saya, seperti semalam misalnya. Ketiadaan ide itu saudara-saudara, diambil perannya oleh percakapan. Dalam percakapan, kita membenturkan diri kita dengan lingkungan, dengan orang-orang lain yang ada di sekitar kita sehingga kita bisa memahami yang kita sampaikan berdasarkan cara berpikir orang lain, bukan dengan cara berpikir kita. Saya suka bicara tanpa arah begitu, membiarkan diri saya membawa pembicaraan melalui bagaimana orang lain menerima kata-kata, bukan mengemukakan konsep sejak awal.

Hubungan percakapan dengan kekosongan? Saya akhirnya memahami bagaimana kekosongan mengambil peran di dalam diri melalui cara saya merespon lingkungan dan segala isinya. Kekosongan mengombang-ambingkan segala hal, sehingga ketika saya bertindak secara sadar, saya pikir saya sebenarnya sedang berusaha menggantungkan diri pada sesuatu. Mencoba menjadi terdependensi.

Berbeda dengan merasa kosong. Karena perasaan berada di alam sub-consciousness (dimana kita selalu merasa kesulitan untuk menjelaskannya), maka untuk bisa memeranginya, saya merasa perlu untuk membawanya ke alam consciousness saya. Dengan menyadarinya, saya memberi makna kepadanya dalam upaya untuk mendekati kekosongan itu sendiri. Merasa sedih misalnya, datang dari alam sub-consciousness, sehingga untuk memahami perasaan itu, kita harus menyadari perasaan itu sehingga mampu menelaah ada apa di balik perasaan itu.

Apakah ia bisa dihilangkan? Tidak. Kekosongan hanya bisa disiasati saya rasa. Caranya? Tunggu dulu, hehehe.

Mari membandingkan dengan adanya dunia ini. Penelitian menyebutkan bahwa hanya 5% dari isi universe yang telah mampu diketahui oleh ilmuwan, sedangkan yang 95% yang lain masih belum diketahui. Dalam hal ini, 95% itu kemudian disebut sebagai dark matter (25%) dan dark energy (70%). Manusia menamai sesuatu atas ketidaktahuan kita akan sesuatu itu. Maka, kekosongan pun demikian. Saya menamainya demikian karena pemahaman akan ‘kosong’ itu belum bisa saya temukan, sehingga memaknakan itu sebagai ‘kosong’ adalah upaya saya untuk menggantungkan diri padanya.

Apakah maknanya sungguh-sungguh tentang kosong sebagaimana ia didefinisikan? Mari kita lihat asal muasalnya.

Menyadari akan adanya alienasi adalah gerbang awal untuk memahami kekosongan. Kita sebagai sebuah entitas sebenarnya selalu terpisah dari segala sesuatu yang ada di luar diri kita. Menyatunya kita dengan lingkungan adalah peran consciousness, dimana ia bisa menerjemahkan segala hal agar mampu ‘menyatu’ dengan diri kita. Dari sana, kita menggunakan terminologi identitas untuk menggantungkan diri kita agar dapat mencapai consciousness. Misal, saya mengakui bahwa saya wanita, maka saya menggantungkan diri saya pada diskursus (discourse) wanita, sehingga saya memiliki identitas. Dengan menggantungkan diri pada suatu diskursus, maka kita menjadi sadar akannya dan menapaki langkah menjauh dari kekosongan, atau ketiadaan, atau kehampaan.

Saya pribadi percaya bahwa adanya consciousness bisa membawa saya memahami bagaimana fenomena itu muncul dan mempengaruhi manusia. Jauh dari pemikiran tokoh-tokoh eksistensialisme yang mencoba untuk mengintisarikan ontologi, saya lebih suka memahami bagaimana realitas ontologi ini menyatakan dirinya dalam pikiran saya. Pe-er saya kan perihal bagaimana menjelaskan relevansi teori pada keadaan faktual saya, hahahaha. Jadi ya begitu.

Kalau ada yang nanya maksudnya ini apa, hemm, ya begini saja yang bisa saya sampaikan. Secara saya menyadari bahwa kemampuan saya dalam memahami teori itu jongkok banget, dan lebih suka memakai nalar sendiri, maka bisa jadi tulisan ini nggak bisa dipahami oleh orang lain. Hehe.

Yasudah lah yaa. Selayaknya entitas yang mencoba mensiasati kekosongan, maka saya akan menggantungkan diri pada impuls kesenangan, biar nggak hambar. Hehe. Semoga saja selera humor saya jadi lebih baik setelah ini.

wordsflow