Sajak (xxv): hening

by nuzuli ziadatun ni'mah


Lirih pada suara yang terekam antara mata dan jiwa, bergetar di antara gemerisik gersang dan temaram.

Kapan terakhir kau dengar tonggeret berceracau pada pokok pinus?

Sabtu yang lalu aku mendengar rapal mantra lirih teredam. Kukira itu engkau, tapi kutemukan kau di sudut mata tengah kukuh bergeming–entah pada apa.

Kupikir, tak ada yang lebih sunyi dari sunyi itu sendiri, hingga aku menghalusinasikan percakapan, lalu gelak tawa, tangis teredam, pertanyaan, dan pernyataan-pernyataan.

Di mana kau sembunyikan waktu? Yang memaksaku untuk berlalu, atau memaksamu untuk bertemu bifurkasimu.

Rasanya begitu lama cengkerama dalam sebuah demi sebuah kata kudengar darimu. Sunyi mengutuk bunyi agar terbang saja ke ketiadaan.

Sial, aku terpaksa terpana pada kelancangannya mengatur kita–kita yang mana? kita yang kapan?

Diam-diam waktu menapak pada lantai rindu, tapi tatapku terpaku pada kaki yang lelah meragu.

Tak ada yang berubah pada jarak, yang ada hanya aku yang berselingkuh dengan tali gerak.

Tak ada yang berubah pada riuh, yang ada hanya sunyi yang semakin merengkuh gaduh

Hening. Dan ternyata aku pun bergeming.

wordsflow