sudah lupa atau memang tidak tahu

by nuzuli ziadatun ni'mah


Kita lupa banyak hal sejak dilahirkan. Katanya karena manusia mengalami amnesia atas pengetahuan asal yang sedari mula sudah kita miliki. Mungkin benar, mungki juga hanya karena manusia hanya tidak mau belajar.

Kita lupa belajar ilmu sosial, karena mengira hubungan sosial bisa dipahami lewat relasi faktual realitas, padahal banyak yang tersesat atas munculnya kesalahpahaman menanggapi fenomena.

Kita lupa belajar filsafat, sehingga kehilangan diri dan tidak mengkritisi keterlemparan kita di dunia sebagai sebuah ‘takdir’ yang tidak diinginkan. Hingga begitu saja menerima nasib sebagai jalan takdir.

Kita lupa belajar hukum, bahwa selain hukuman ada keadilan yang meletakkan dirinya lebih tinggi darinya. Semua bukan perkara kesamaan, tapi kontekstualitas.

Kita lupa belajar politik, bahwa setiap tindakan manusia memiliki maksud dan tujuan yang mungkin tidak sama, mungkin merugikan atau setara, mungkin berlangsung lama atau sementara.

Kita lupa belajar ekonomi, bahwa di atas resionalisasi selalu ada sesejahteraan yang menghantui. Apa guna akumulasi tanpa kesejahteraan mampu dipahami?

Lupa juga belajar tentang ilmu alam, bahwa alam bukan sebuah objek semata, ia bergerak seperti halnya manusia. Melakukan perjalanan panjang, berubah, bersenang-senang, dan mampu menyampaikan amarah.

Kita lupa pula bahwa ilmu pasti hanyalah alat dan model untuk menjelaskan yang tidak dipahami. Ia bukan sesuatu yang harus selalu diamini. Bahwa di antara yang pasti dan nol, selalu ada ruang antara yang bisa diisi.

Kita lupa banyak hal, bahwa ilmu hanya pelengkap kehidupan, kehidupan manusia dan seisinya. Yang bukan sebuah keharusan dan kewajiban berkehidupan, tapi alat pembantu dan selalu hanya bisa membantu.

Ya, kita selalu lupa akan banyak hal, entah siapa yang mampu mengingatkan.

Tapi, lupa saja atau sengaja melupakan?

wordsflow