tiba-tiba hidup menjadi hidup

by nuzuli ziadatun ni'mah


Tetiba hidup mencapai fase yang berbeda dari yang pernah saya bayangkan sebelumnya. Mungkin manusia memang mengalami perubahan-perubahan sebagai sebuah pertanda adanya perjalanan.

Setelah berkali-kali saya curhat ria tentang kehilangan diri, kekosongan, kesepian saya, dan semua hal-hal itu, tiba-tiba hidup terasa begitu hidup. Apa sebabnya? Entah datang dari mana, saya hanya merasa mampu memahami begitu banyak hal yang sebelumnya terasa begitu menyebalkan dan ingin saya buang jauh-jauh sebagai bagian dari hidup saya. Entah sudah berapa kali saya mencoba untuk melarikan diri dari hidup saya dan mencoba mencari hal-hal yang sebenarnya tidak akan mampu saya dapatkan; kehidupan orang lain, pergi menjauhi masalah, dan sebagainya. Pada akhirnya, saya terjebak menjadi diri sendiri saja.

Heidegger menyebut kesadaran akan hal itu sebagai keterlemparan; ketika kita menyadari bahwa ‘takdir’ telah membawa kita pada tempat, keluarga, lingkungan, kondisi yang ini sementara kita tidak pernah meminta. Saya tidak akan berpanjang lebar menceritakan Heidegger di sini, biarkan itu ada di dalam pikiran saya sebagai sebuah bacaan asik siang hari yang nganggur, nanti kalian baca sendiri saya. Saya hanya mau curhat seputar hidup yang begitu hidup. Hal aneh yang sebenarnya tidak butuh untuk saya jelaskan, pun bukan sesuatu yang membutuhkan penjelasan.

Tentunya saya harus menempuh begitu banyak hal untuk mencapai pencapaian perasaan ini. Bahwa saya melalui begitu banyak dialektika dan pergulatan di dalam diri, menentang nilai dan moral, merepresi id dan ego, menempatkan diri sebagaimana ia ingin mewujud, dan sebagainya sebagai upaya untuk mencapai hidup yang sebenarnya. Lantas, apakah hidup yang begitu hidup ini adalah pencapaian akhir?

Bukan, tentu saja.

Hanya saja, perasaan ini begitu membahagiakan dan menghidupi saya hingga akhirnya merasa sayang untuk dibiarkan begitu saja tanpa menjadi tulisan di blog ini. Maka, menjadi sesuatu yang wajib saya bagi kepada khalayak ketika fenomena personal ini saya rasakan, bahwa ada hal-hal yang harus dirayakan setiap waktu dalam hidup kita. Entah mengalami kekosongan, keresahan eksistensial, atau hal apapun juga itu.

Kemerdekaan manusia adalah ketika ia bisa menghindarkan dirinya dari setiap tekanan yang bisa jadi muncul dalam hidupnya. Saya bisa jadi melakukannya dengan melakukan pemberontakan-pemberontakan kecil dalam lingkungan saya terkait upaya untuk membebaskan diri itu tadi. Kebebasan dalam hal ini menjadi tidak menakutkan karena ia bukan given, tapi taken. Jadi sebagai sesuatu yang saya capai, saya menikmatinya.

Entah sih, omongan saya relevan atau tidak, menarik atau tidak, menjelaskan atau tidak, saya tidak ambil pusing. Saya sedang dalam masa bisa menangguhkan segala tekanan dalam hidup saya dengan segala tindakan yang sekiranya bisa saya lakukan.

*

Ah, di jalan tadi saya tetiba kepikiran tentang ‘hal-hal yang dibenci laki-laki dari kaum perempuan’ setelah adanya perbincangan dengan adik saya perihal memilih suami.

Saya kira, saya meyakini bahwa darah patriarki ada di dalam jiwa laki-laki, di mana mereka menghendaki dominasi entah secara sadar atau tidak. Dominasi sebagai power membuat laki-laki merasa secure ketika berhadapan dengan perempuan, sebagai bagian yang muncul naluriah dari dalam dirinya. Demikian, ketika saya dan adik saya membicarakan mengenai ketakutan calon-calon suami bersanding dengan perempuan yang lebih cerdas, itu adalah bentuk insecure mereka terhadap si perempuan ini. Bahkan kemudian, ketika pihak perempuan merelakan dirinya untuk menjadi pihak yang ter-subordinate, tetap saja darah patriarki menghalangi laki-laki untuk mengiyakan.

Hemm, nggak usah saya perpanjang dengan membicarakan hidup saya lah ya. Nanti menimbulkan fitnah dan membuat saya seolah-olah punya tujuan politis. Persetan dengan maksud tulisan. Saya sudah mati lama, sejak saya menyadari keterlemparan saya sebagai entitas yang tidak memiliki tujuan dan tempat bernaung. Saya yang seorang saya sedang menghilang untuk menemukan kesejatiannya. Sedang saya yang ini hanya imitasi dari saya yang sedang berproses menjadi.

Tabik.

wordsflow