Saya Menggendut dan Saya Tidak Suka

by nuzuli ziadatun ni'mah


Proses terapi saya selama di kosan dengan membuat begitu banyak buku dalam satu waktu membuat saya banyak berbincang dengan diri sendiri, dan mengakibatkan ledakan gagasan di dalam pikiran, dan urgensi untuk segera menulis.

Beberapa waktu belakangan saya merasakan ada yang aneh pada badan saya. Perasaan malas yang membelenggu tiba-tiba, celana yang terasa tidak nyaman, dan lingkar pinggang yang pas dengan celana, secara akurat membuktikan bahwa saya menggendut. Saya bahkan bersusah payah ke rumah adik saya hanya untuk menemui kenyataan bahwa berat badan saya 60 kg!! Saya sedih men, sedih sekalii, karena itu artinya dalam 2 minggu saja saya sudah naik 3 kg.

Kalau mau dibilang saya termakan fenomena cantik ala manusia abad ini, saya jawab saja iya. Tapi di samping itu saya lebih tidak menyukai bahwa saya bervolume, bahwa saya menjadi berat dan susah bergerak. Kapan terakhir kali saya olah raga? Entah berapa abad yang lalu saya begitu bersemangat olah raga, entah untuk mencari keringat atau lari dari kekacauan pikiran untuk mencapai titik lelah. Saya dulu bahagia olah raga, sekarang terbelenggu diri sendiri karena ketidakmampuan mengatur waktu belajar. Sebenarnya menggendut ini adalah siklus sih, karena setelah coba saya pahami, saya akan menggendut secara agak ekstrem seminggu sebelum dinding rahim saya mengalami peluruhan. Tapi tetap saja rasanya tidak menyenangkan. Ah, tapi sudahlah.

Lanjut perihal dialektika di dalam pikiran tadi, selama membuat buku saya mencoba menguraikan gagasan saya satu per satu. Banyak pertanyaan saya berkisar di seputaran ke-tidak-terima-an saya bahwa setiap akademisi berhak membahas dengan berbagai perspektif ilmu. Tidak kemudian antropolog hanya dari sudut pandang antropologi saja, namun juga bisa ke segala hal yang berkaitan, demi memperkaya pemahaman. Namun dalam proses dialektis itu, saya menemui kenyataan bahwa pengetahuan multi disiplin yang tidak dibarengi dengan pembentengan kasus yang tepat, justru tidak akan membuat sebuah tulisan berarti untuk dibaca atau dituliskan. Membahas topik ini kali bagus di judul lain biar postingan ini berakhir sebagai sampah saja lah, yang bagus nanti saya tuliskan.

Kasus saya yang menggendut ini sangat mengganggu saya, karena tidak bisa saya jelaskan. Di sini saya menjadi menyadari sekali lagi bahwa saya pun teralienasi dari diri sendiri. Bahwa yang terjadi di bawah kulit kita pun tidak mampu kita pahami. Maka beruntung sekali jika ada manusia yang mampu memberikan penjelasan mengenai hal-hal semacam itu, atau setidaknya memahami pemikiran diri sendiri. Dengan itu, maka ia menjadi tidak sepenuhnya teralienasi dari diri sendiri. Setidaknya Ada mampu mengada melalui dirinya. Ih opo sih ini?

Sudah ya, besok saya dongengkan tentang sesuatu yang lebih berguna.

wordsflow