Memoritmo

by nuzuli ziadatun ni'mah


Oke, sempurna sudah malam-malam belakangan ini untuk membangunkan jiwa melankolis saya yang sudah akut.

(Ada Adelaide Sky yang menjadi backsound tulisan ini)

Memori, hal yang kita akrabi selama ini. Akun astronomi yang saya ikuti sejak beberapa hari lalu sudah mengabarkan bahwa akan ada supermoon di malam ini, yang mana bukan supermoon biasa tapi hanya terjadi setiap 32 tahun sekali. Jadi ‘jangan sampai kelewatan’ katanya. Maka saya pun sedikit banyak mencoba menantikan meskipun patah arang sejak siang karena mendung tebal telah menggantung dengan anggunnya. Mungkin sudah beberapa kali saya menyinggung ketertarikan saya pada fenomena langit, dan itu tidak bisa saya anggap sebagai sebuah romantisme saja, karena indeed, saya begitu mencintai astronomi meski setengah mati mencoba memahami hukum-hukumnya.

Berita tentang supermoon tadi akhirnya coba saya buktikan juga, dan yang saya temui adalah pendar terang bulan di balik awan mendung. Ah, saya terpesona, meski tidak bisa melihat seluruhnya.

Momen itu, berpadu dengan peristiwa dua hari ini dimana never ending rain happened di lokasi rapum organisasi saya, forever alone journey saya ke sana, tetiba mengingatkan saya pada kamu dan memori suatu ketika. Sering sekali saya memerintah diri sendiri untuk lebih diam dari saya yang biasanya, karena bahkan saya sendiri pun lelah mendengar suara saya. Karena saya begitu menikmati momen sendirian, moment diam, dan momen menulis.

Saya paham, bahwa meski peristiwa menciptakan sejarah, namun tidak semua bagian dari sejarah merupakan memori yang sama-sama berarti bagi semua orang. Hari-hari mendaki yang bagi saya adalah momen kontemplasi yang sangat berharga tidak kemudian memiliki makna yang sama bagi orang lain yang bahkan mengalami peristiwa itu bersama. Karenanya, nilai suatu peristiwa berimplikasi pada mengendapnya peristiwa menjadi momen berharga, atau hanya tersisih sebagai sejarah semata.

Ada orang-orang di dunia ini yang begitu ingin saya ajak bicara, tapi tak pernah saya menemukan wacana yang sesuai untuk memulai percakapan. Entah karena sudah tidak ada yang menarik antara kami, atau saya yang tidak mampu memulai percakapan. Berkali-kali dicoba pun, pada akhirnya hanya berakhir dengan menyadari bahwa saya terlihat bodoh dengan percakapan itu, tidak bermutu, dan hanya bisa mengutuki diri sendiri, lalu berupaya untuk menghapus memori. Kadang kala saya lebih percaya bahwa pencapaian tertinggi dari sebuah relasi adalah kesepahaman dalam diam, antara sikap permisif atau memang sebuah idealita.

Demikian, saya mengingat pada suatu hari di bulan yang sempurna untuk mendaki, di tempat kita bermalam, di bawah langit benderang dengan semua bintang yang mampu dilihat di langit selatan, saya dan kamu berhadapan dalam diam. Diam yang lama; yang entah bagaimana begitu mengendap di pikiran saya (tak pernah tahu denganmu). Saya begitu ingat, di malam itu, saya menciptakan berpuluh-puluh, kalau bukan ratus, pertanyaan yang mungkin bisa saya lontarkan kepadamu, tapi tidak pernah saya lakukan. Seolah-olah diam menjadi hal yang paling kita inginkan, meski saya yakin ini hanya sebuah pembenaran lama setelahnya. Begitu pun, setelah saya ingat kembali, ada begitu banyak peristiwa yang kita habiskan hanya dalam diam, tanpa percakapan berarti. Dengannya, akhirnya saya menyimpulkan bahwa tidak ada yang berarti dari relasi yang pernah tercipta di antara kita. Dengannya, saya menegasikan harap dan imaji.

Meski saya mencoba untuk tidak lagi mengingat yang tidak perlu, tapi peristiwa itu telah menjadi momen yang sangat berarti buat saya. Dan entah bagaimana saya mengingatnya dengan begitu detail malam ini, seakan peristiwa itu baru saja terjadi beberapa waktu yang lalu. Ah, saya rindu mendaki bumi, dan berangan-angan begitu rupa tentang makhluk-makhluk kerdil yang mencoba menjelajahi dunia antah berantah. Ya, makhluk-makhluk kerdil itu adalah kita yang keluar-masuk hutan, mencoba mengarungi aliran airnya, menjelajahi gua-guanya, dan memanjat setiap tebing curamnya. Dari ketinggian bumi saya selalu mencoba mengimajinasikan bagaimana Tuhan mungkin memperhatikan kita, tersenyum pada laku kita, merawat kita, dan membanjiri kita dengan cintanya.

Imaji itu masih bertahan hingga detik saya menulis ini. Dengannya saya ‘melihat’ diri sendiri mengarungi hidup yang panjang, berupaya mencarimu di setiap tempat yang mungkin kamu datangi, dan memaknai apapun yang ingin dimaknai. Hal-hal kecil seperti wangi pinus, udara dingin ketinggian, hujan, pendar lampu jalan, langit benderang, dan banyak hal kecil lainnya, agaknya masih membuat saya mengingat memori-memori masa lalu, tentangmu, tentang masa-masa menyenangkan, tentang masa kecil penuh impian.

Saya selalu merasa salah ketika mengingat bagaimana saya memulai percakapan, bagaimana mempertahankan, dan bagaimana mengakhiri percakapan itu. Saya sering mengutukinya pelan, meski setelahnya sekali lagi mencoba mengimajinasikan sebuah percakapan baru. Bagi saya, kamu hanya eksis di dalam pikiran saya, karena sebenarnya tidak pernah secara nyata kita saling menyentuh jiwa masing-masing. Meski ingin, saya pikir ‘menginginkan’ tidak lagi menjadi sebuah kata yang sesuai untukmu. Saya pikir, ada lebih banyak memorimu yang lebih patut dihargai selain momen diam kala itu, karenanya bisa jadi ada subjek yang lebih penting dalam hidupmu.

Maka, saya ucapkan selamat tidur kepadamu. Semoga ada mimpi yang menunggu.

wordsflow