Personal Space

by nuzuli ziadatun ni'mah


Jum’at malam yang lalu, karena berkeinginan untuk berbagi cerita, seorang teman berkunjung ke kosan saya dan kami berakhir dengan bercerita sangat banyak hal. Di tengah percakapan, ia menanyakan sebuah pertanyaan yang banyak ditanyakan orang-orang yang kenal saya juga.

Tidakkah kamu butuh privasi?”tanyanya.

Pertanyaan itu kadang membuat saya berpikir begitu dalam karena saya menghabiskan begitu banyak waktu di hadapan orang lain, sehingga hampir tidak ada waktu sendiri bagi saya. Karena hal itu pula, saya menciptakan personal space untuk membantu saya ‘lari’ dari hadapan orang lain. Entah sejak kapan, saya mulai menyadari bahwa pikiran adalah kekuatan saya dalam menghadapi banyak hal. Ketiadaan ‘personal space’ secara materiil bisa saya atasi dengan lari ke pikiran saya sendiri. Sehingga karenanya, sedikit banyak saya tidak membutuhkan privasi sebagaimana yang dipertanyakan teman saya.

Meski demikian, saya akan tetap menghargai dan menikmati semua kesendirian saya, ketika saya mengalienasikan diri saya dari lingkungan baik secara literer maupun tidak. Ketika mandi, membuat buku, menulis, membaca, atau melakukan perjalanan, semuanya saya anggap sebagai sebuah kebebasan. Demikian, personal space memiliki pengertian yang lebih luas dari sekedar ‘sendirian’.

Saya begitu menyukai dunia tulis, dan jika saya ingat kembali, masa kecil saya memang banyak saya habiskan dengan buku-buku dan tulisan. Saya tidak banyak berbincang dengan orang lain, hingga kemudian saya menjadi begitu banyak bicara setelah duduk di bangku SMA. Mungkin ‘keterlemparan’ saya ke organisasi sekolah, hingga akhirnya berlanjut ke organisasi kampus membentuk pribadi saya yang ‘baru’. Bukan hanya itu, bahkan baru-baru ini saya menyadari bahwa ada perubahan fisik yang nyata dari wajah saya (akibat banyak bicara? saya tidak tahu).

Keterbiasaan saya banyak bicara atau berada di hadapan orang lain tentu saja membuat saya lari ke dalam diri sendiri untuk mencari privasi itu. Meski seakan-akan semu, saya menyukai tempat persembunyian saya. Kebebasan itu saya raih di sana, kebebasan yang sungguh-sungguh bebas, melalui imaji, dialektika, dan logika. Saya katakan demikian, karena bahkan dalam kesendirian saya di kamar kosan, atau di manapun juga, saya lebih suka berpikir dan melamun daripada melakukan suatu tindakan. Hehehe, entah saya ini pemalas atau pemikir, bedanya tipis byanget.

Lebih jauh, saya juga pernah menyinggung bahwa blog ini juga merupakan personal space saya yang lainnya. Dan ketika traffic blog meningkat tajam, kadang saya begitu curiga hingga berusaha untuk mencari tahu siapa yang mencoba menyelami pikiran saya. Peningkatan traffic blog membuat saya justru merasa insecure dan bukannya bangga karena banyak yang berkunjung ke laman blog.

Banyak orang mendefinisiakan privasi dengan cara mereka sendiri. Masing-masing memaknai privasi sebagai sesuatu yang juga memerankan peran penting dalam berjalannya hidup. Saya ingat masa-masa SMP ketika topik ‘melihat aura’ begitu viral di kalangan teman-teman saya, tapi saya malah mengganggapnya bodoh. Lama setelahnya saya mendefinisikan aura sebagai jangkauan radiasi panas tubuh seseorang, dan ia tidak ada kaitannya dengan personal space. Meski demikian, personal space juga banyak diartikan sebagai sejangkauan tubuh; sejangkauan tangan dan kaki. Begitupun benar karena sudah banyak saya lihat ada orang yang marah-marah ketika kita mendekat hingga sejangkauannya.

*

Sebenarnya saya bermaksud untuk menulis topik-topik penting yang sudah saya rangkum dalam catatan pribadi saya. Tapi catatan itu tertinggal di kosan dan membuat saya tidak yakin bahwa saya akan mengingat semua yang telah saya catat di sana. Karena itu saya mengurungkan niatan itu. Semoga esok saya bisa menuliskan hal-hal penting itu.

Tabik.

wordsflow