setiap jalan menyimpan kenangan

by nuzuli ziadatun ni'mah


Saya mencapai keraguan yang sama belakangan ini. Ketika ada banyak topik untuk menulis, saya seakan-akan mengharuskan diri sendiri untuk segera mengkategorikan bakal tulisan itu ke dalam beberapa akun publikasi. Apakah ia layak untuk menjadi sebuah tulisan panjang yang masuk ketegori personal, atau bisa dianggap cukup layak menjadi tulisan serius, atau bisa dirangkum dalam satu-dua buah tweet, menjadi catatan di timeline, ditulis di sepiteng, atau cukup menjadi catatan personal tanpa publikasi saja? Semua topik di dalam pikiran saya, entah diulang atau tidak, menjadi hal yang harus segera saya tuliskan sebelum tersapu hal-hal lain. Tapi di antara semua pilihan itu, pilihan terakhir tidak lagi menjadi akhir. Bakal tulisan itu harus dibuat sedemikian rupa hingga layak menjadi publikasi. Kalau terlalu personal bisa lah dijadikan sajak, atau tulisan melankolis tanpa subjek, begitu seterusnya.

Dengan semua itu, saya semakin menyadari bahwa cap introvert dan extrovert tidak lagi menjadi hal yang penting bagi saya. Saya sudah menjadi manusia yang menyukai publisitas, melalui cerita-cerita, dan tulisan-tulisan.

Kadang saya merasakan kepalsuan setiap berusaha untuk menulis hal-hal serius yang saya pikirkan. Tentang isu-isu lingkungan, kebudayaan, masyarakat, atau seputar isu-isu terhangat belakangan ini. Saya ingat pernah secara personal melakukan kritik pedas kepada seorang teman karena ia tidak merefleksikan tulisannya dalam kehidupan sehari-harinya. Tapi saya pun jauh dari reflektif, dan bahkan sejauh yang saya sadari, saya hanya cukup terampil menulis.

Pertanyaan-pertanyaan seputar perilaku saya sehari-hari di hadapan orang lain selalu mengganggu saya. Saya menyadari bahwa saya tidak bisa menempatkan setiap orang ‘sama’ di hadapan saya, meski saya berulang kali menuliskan tentang memanusiakan manusia. Saya menyadari bahwa saya masih abai pada banyak hal, ketika saya menuliskan upaya untuk peduli. Dirasa-rasa belakangan, tulisan-tulisan saya semakin terasa terlalu hipokrit, meski saya menulis dalam kesadaran dan pemahaman.

Lari pada tulisan akademis kemudian menjadi satu-satunya pilihan yang paling masuk akal, agar tulisan tanpa realisasi itu menjadi lebih mudah diterima diri. Lantas, membiarkan diri sendiri menulisi blog ini lebih banyak dengan tulisan-tulisan yang terlalu personal. Bukan sebuah keengganan untuk menulis sebuah topik serius di sini, hanya keraguan saja. Saya berpikir untuk membuat review beberapa buku yang sudah saya baca belakangan ini, tapi ragu karena masih ada banyak topik lain yang mengganggu, hehe. Maka, saya upayakan untuk menuliskan semua topik itu sebelum membuat review beberapa buku.

*

Sepanjang jalan selama berhari-hari belakangan, atau berbulan-bulan, saya bergelut dengan begitu banyak skenario penulisan tesis. Saya dihadapkan pada egoisme pribadi untuk melakukan sesuatu yang bisa berguna untuk masyarakat. Sementara itu, dari banyak diskusi saya dengan teman-teman kampus, mereka berusaha untuk meyakinkan saya bahwa tulisan akademis hanya bertujuan untuk memberikan wacana baru dan penalaran baru terhadap suatu permasalahan. Saya masih enggan, saya masih tidak terima.

Sudah begitu banyak buku yang saya baca, banyak opini yang saya tuliskan, banyak diskusi yang saya lakukan, tidak satu pun tindakan yang saya rasa pernah saya lakukan. Ketiadaan tindakan itu menegasikan semua upaya meningkatkan pengetahuan dan sikap kritis yang saya lalui. Saya merasa percuma membaca banyak hal, menulis banyak topik, tapi hanya bisa berdiam diri di hadapan laptop semacam ini.

Mungkin memang benar bahwa dalam dunia nyata, masyarakat tidak memperdebatkan wacana, mereka memperdebatkan realita. Hanya para politikus, para akademisi, dan pelaku bisnis yang memperdebatkan wacana, sehingga tulisan-tulisan, menjadi bagian dari kehidupan mereka. Demikian, wacana-wacana baru dan kritis harus selalu diproduksi untuk mewartakan bahwa akademisi masih berupaya untuk melawan tirani.

Sebenarnya, saya sudah menjauhkan diri dari kebermanfaatan ketika saya tidak berupaya untuk kembali ke masyarakat. Menghindari waktu-waktu untuk pulang ke rumah dan bersosialisasi dengan masyarakat. Seolah-olah berada di lingkungan saya sekarang adalah tindakan yang paling tepat. Padahal, masyarakat kota adalah masyarakat yang jauh dari makna-makna, dari perhargaan atas hal-hal kecil.

Suatu ketika di jalan raya, saya tiba-tiba menyadari ada yang salah dari ‘berada di jalan raya’. Hal apa, yang membuat semua orang tumpah ruah di jalan raya, memacu kendaraannya begitu rupa tanpa berupaya untuk menikmati jalan raya saja? Apa yang menyebabkan seseorang melakukan mobilitas? Ketika itu saya menepi di jalan raya, seraya memikirkan bagaimana kiranya manusia berpindah pada awalnya. Tujuan akhirnya tetap sama, meski orang berpindah untuk berdagang, untuk sekolah, untuk bekerja, dan untuk-untuk yang lainnya, semuanya hanya demi hidup dan menciptakan relasi dengan manusia yang lainnya. Dua hal yang utama dari semua gerak manusia adalah upaya bertahan hidup dan mempertahankan relasi. Saya, kamu, dan semua orang di dunia ini melakukan semua mobilitas itu untuk dua hal itu. Meski beberapa menempatkan posisi ilmu pengetahuan lebih tinggi di atas yang lainnya.

Waktu itu hakiki dan pasti. Sebegitu pastinya, sadar-sadar saya sudah menuju tahun ke-25. Sembari mempertanyakan begitu banyak hal, saya menyadari bahwa saya masih berada pada kekosongan yang sama. Kekosongan akan rasa tidak berguna menjadi manusia, tidak berguna atas semua hal yang saya lakukan, dan merasa begitu tidak berguna dengan mengada di dunia. Jika tidak ada saya pun, tidak akan ada yang berubah dari kehidupan semua orang. Toh saya tidak pernah memberikan pengaruh kepada sesiapapun. Kesadaran akan kekosongan itu kadang begitu menyiksa hingga saya berupaya meyakini Rene Descartes bahwa cogito ergo sum. Kepadanya saya lari dari perasaan itu.

Berubahnya bumi karena eksploitasi manusia menciptakan begitu banyak evolusi, pada tumbuhan, pada virus, pada bakteri, dan semakin beragam pula penyakit yang menjangkit manusia. Berubahnya bumi menyebabkan semakin tingginya tuntutan untuk meningkatkan sekuritas, melalui begitu banyak aspek yang bahkan mencapai kemungkinan menghindarkan tabrakan dengan material angkasa lainnya. Demikian, maka kebutuhan untuk terus ‘maju’ selalu muncul dan tidak menjadikan kita puas dengan gerak hidup yang lambat sebagainya masyarakat primitif. Seakan-akan bergerak lambat menjadi hal yang paling salah di hari ini.

Demikian banyaknya dialog di pikiran saya, pertanyaan-pertanyaan di pikiran saya, lambat laun saya seolah menjauhkan diri dari realitas. Terkadang saya bertanya sendiri dan mencoba meyakinkan diri bahwa hidup jauh lebih penting dari mempertanyakan hidup itu sendiri, maka nikmati saja setiap langkahnya. Tapi momen-momen seperti di jalan raya sering menghentikan saya dan membuat saya mempertanyakan setiap detil tindakan saya. Dengan semua itu saya masih berdialektika.

wordsflow