Selipan: ketika membaca Capital

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ada sebuah buku berjudul Capital, yang tidak pernah saya sangka akan saya baca, saja kaji, saya review, dan saya kritik sebagai bagian dari pembelajaran akademis saya. Saya tidak banyak kenal dengan Marx, tidak sungguh-sungguh paham seluk beluk kehidupannya; siapa Engels baginya, apa yang selama ini ia kerjakan, di mana dia pernah tinggal, and so forth.

Tapi, sesuai judul tulisan ini, saya merasa butuh segera menuliskan catatan ini. Setiap 3 minggu sekali saya akan kembali membaca Capital yang memang menjadi dasar pembelajaran pemikiran Marx sebelum lanjut ke artikel kritik dan pengembangannya. Dalam sela-sela membaca bab mengenai surplus value, saya menyadari betapa menakjubkannya konstruksi pikiran Marx sehingga mampu menuliskan begitu tebalnya buku, meski secara garis besar ‘hanya’ membicarakan mengenai keseluruhan mode produksi.

Setiap detil ia pertanyakan kembali, setiap detil ia ulangi hingga sebagai pembaca, saya sering kali harus mengulang-ulang kalimat yang sama untuk memahami maksud Marx. Sebenarnya saya menikmati menkaji halaman per halamannya meski dengan terbata-bata mengeja bahasa Inggris-nya, atau setiap maksud dari kalimat-kalimatnya. Seolah-olah saya membaca sebuah novel, tapi berisi tentang pemikiran logis dan dialektis dari seorang Marx.

Ketika membaca semacam ini, saya seolah ingin memberi semangat pada diri sendiri, bahwa tulisan, bagaimana pun akan tetap berguna. Pertanyaannya hanya; apakah kebergunaan itu hanya untuk menciptakan ketidakbergunaan yang lainnya atau tidak?