Dalam Euphoria

by nuzuli ziadatun ni'mah


Tidak bisa tidak, saya harus menulis di blog sekarang juga.

Setelah semalam saya berurai air mata dan didera kesedihan mendalam (bohong) karena laptop saya totally dead, dalam kondisi setengah putus asa saya mencoba sekali lagi menghidupkan belahan jiwa saya yang lain ini. Dan ternyataaa, nyalaaaa. Wuhuhuuuu. Well, lebih menggembirakan karena tulisan saya tentang kerja dan Marind-Anim masih ada pada tempatnya, dan tersimpan. Wow sekali lah.

Demikian, maka hal ini patut dirayakan dengan menulis sebuah postingan baru di blog. Yeeee. Lalu, apa yang mau dituliskan?

Saya ingin mengupdate sedikit kehidupan saya yang tetiba sibuk di akhir kuliah, hehe.

Pagi tadi saya sesaat menyadari bahwa mungkin (hanya mungkin), keputusan saya untuk kuliah lagi adalah sebuah kesalahan. Di saat saya memiliki sebuah usaha untuk bertahan hidup, saya tidak pernah sedikit pun punya waktu bebas untuk mengembangkan usaha saya tersebut. Demikian, customers saya tidak pernah bertambah, usaha saya tidak pernah berkembang, dan saya kesulitan untuk membuat inovasi produk. Saya berusaha untuk menelusuri kembali motif sebenarnya mengapa saya memutuskan untuk sekolah lagi. Apakah sekolah adalah hal yang saya butuhkan? Saya inginkan? Dan mengapa saya justru menyisihkan hal yang sebenarnya begitu saya nikmati setipa prosesnya?

Secara singkat, saya bisa mengatakan iya, bahwa saya hidup dengan kontestasi merasa butuh untuk mengaktualisasi diri. Belajar sendiri membuat saya mengaktualisasi diri secara tidak terarah dan justru membuat saya tidak mampu menyadari apa yang sebenarnya sedang saya cari. Masuk kuliah menjadi babak baru bagi saya karena dengannya saya harus menentukan ke mana saya mau melangkah. Kuliah saya menyodorkan empat konsentrasi dan dengan berani saya mengambil konsentrasi bertajuk ‘Dialektika Negara, Kapital, dan Masyarakat Sipil’. Saya yang tidak pernah percaya dan selalu angkuh untuk rela mengutip harus dan wajib mengutip sana sini dalam review atau tugas kuliah. Sebagai bekas anak Arsi yang tidak pernah diajari menulis dengan benar, hal itu luar biasa sulit.

Saya mencoba untuk tetap menjadi normal di setiap upaya saya menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang jelas membuat saya minder. Hampir semua orang di kelas saya berasal dari Antropologi. Sebagian lain yang tidak mengambil jurusan tersebut setidaknya pernah memiliki pengalaman kerja lapangan, dan saya nol besar. Dunia saya hanya seputaran teks dan jauh dari realita. Maka seperti yang saya ungkapkan di postingan sebelum-sebelumnya, keberadaan saya di dunia teks membuat saya semakin merasa tidak berguna sebagai seorang akademisi, lebih lagi sebagai manusia.

Maka, pertanyaan sederhana seputar  melemparkan diri ke dunia Antropologi menjadi sebuah pertanyaan besar dimana sebenarnya saya sudah nyaman dan lebih bahagia di dunia saya sebelumnya; membuat buku dan menulis cerita fiksi. Pencarian atas itu masih ada hingga saya menulis ini. Saya suka akan rasionalitas, tapi hal semacam itu hanya saya gunakan untuk menentukan pilihan. Sedangkan pada hasil, saya seratus persen percaya pada kuasa the invisible hand. Demikian, saya mendua dengan mempercayai keduanya. Biar saja, saya kan orang Jawa.

Saya terpesona pada caption seorang teman tentang karyanya berjudul ‘merely an illusion’.

We realize that we’re out of energy. Everything has been sucked by something strange. Our time, our mind, both of them have been distorted. In the end, what we thought was love, perhaps was merely an illusion.

Oke, masalah hati memang urusan lain. Tapi selalu seru untuk di-update kaaan, hehe. Tidak ada yang menarik di hari ini. Saya menyimpulkan bahwa masalah hati itu selalu palsu, tapi juga tulus di saat yang sama (kan, saya selalu mendua; karena takut dinilai atau karena ingin menegaskan diri?). Dalam urusan cinta, saya lebih percaya gestur daripada kata-kata. Saya tiba-tiba berusaha menafikkan teks dan bahasa. Maka, begitu juga semua tulisan saya, semuanya bisa jadi bohong belaka, hahaha. Absurd banget deh.

Biarlah hidup berjalan begitu saja kata seorang pujangga. Pujangga lain mencoba untuk menghindari gerak hidup yang tidak memberi kebebasan. Masalah way of life ini saya yakin sudah ada seribu satu manusia yang mencoba merumuskan cara yang paling menenangkan untuk hati dan pikiran. Masalahnya, setiap manusia itu unik, dan keunikan ini berimplikasi pada setiap detil hidupnya, bahkan dari persoalan keyakinan akan way of life yang paling pas untuk dirinya.

Saya bagaimana?

Mungkin saya memang cenderung suka menyiksa diri sendiri. Seolah-olah memikirkan hal-hal buruk, perihal kecemburuan, iri hati, rendah diri, dan kawan-kawannya akan selalu membuat saya sadar tentang hidup yang saya jalani. Bahwa dengan merasakan hal-hal itu membuat saya kembali sadar bahwa saya hanya manusia biasa, yang perannya di dunia ini tak seberapa, dan tidak lebih besar dari sampah. Berkali-kali saya merasa tidak berguna, menyadarinya dalam darah dan daging, dan menanamkannya sedalam akar-akar pohon di dalam pikiran saya. Alasannya sesederhana karena pikiran saya selalu kembali ke sana meski sejuta kali saya mencoba untuk melarikan diri.

Setiap kali mendapat respon buruk dari orang-orang yang saya inginkan, pemikiran itu kembali. Setiap tidak memperoleh hal yang saya doakan, pemikiran itu kembali. Setiap kali mengalami mimpi tentang hal yang tidak didapatkan, pikiran itu kembali. Ada sangat banyak hal yang membuat pikiran itu kembali. Dan saya menyerah untuk memintanya pergi.

Kadang saya meminta diri sendiri untuk selalu ceria, ala kadarnya, polos bagai bunga-bunga yang baru mekar, atau upaya respon apapun yang positif. Berhasil di awal, gagal di hari kedua dan seterusnya. Maka ego pribadi untuk menunjukkan kompetensi di hadapan orang lain seringnya lebih ingin saya wujudkan, meski setelahnya bisa saja saya menyesalinya.

Masih terang di ingatan saya bagaimana rasa malu bertahun lalu masih bertahan hingga hari ini. Dan masih banyak rasa malu lain yang bertahan hingga hari ini, entah pelaku-pelakunya mengingatnya sebagai sebuah peristiwa penting atau tidak. Upaya menghindari perasaan yang tidak perlu selalu gagal saya wujudkan. Tapi berikutnya, saya mencoba menerima bahwa kontrol emosi hanya akan membuat saya menjadi robot dan semakin tidak berguna.

Tapi benarkah?

Manusia itu amat sangat rumit, saking rumitnya saya begitu terpesona dengan setiap manusia. Hal itu juga yang membuat saya menyayangkan metode penelusuran psikologis yang melihat karakter manusia dengan menggunakan rumus-rumus atau aturan tertentu, hati kecil saya menolaknya. Tapi melihat kumpulan manusia ‘hanya’ dari relasi sosialnya juga tidak memuaskan rasa penasaran saya tentang manusia. Selalu ada yang tidak saya temukan dari masing-masing disiplin ilmu ini. Karenanya, hidup menjadi ‘lapangan’ buat saya untuk menelaah masing-masing manusia. Demikian, jika saya mengganggu Saudara-Saudara dengan melihat tanpa tedeng aling-aling maafkan kelancangan saya. Saya tanpa sadar suka memperhatikan orang dengan keterlaluan, dan sering juga memberikan penilaian awal terhadap siapapun.

Hemm, curhat ini saya cukupkan saja, karena sudah hampir 1000 karakter. Saya masih ada pe-er untuk memahami postmodern yang saya pikir sudah saya pahami, tapi ternyata belum sama sekali. Duh deeek, kacau sekali. Hahaha.

Yaudah, tabik.

wordsflow