Epistemologi, 212, Marxis, dan Referendum Papua (i)

by nuzuli ziadatun ni'mah


Berat sekali pikiran saya belakangan ini, seberat memulai mengetik tugas epis, marxis, dan merespon fenomena sosial.

Baiklah, mari memulai tulisan ini dengan mendaftar kejadian-kejadian di hidup saya, dan agaknya perlu ditambahkan kejadian-kejadian luar biasa di Indonesia. Kuliah semester satu saya menuntut saya menentukan dimana saya sedang berpijak dalam tataran filosofis dan kerangka berpikir. Hampir semua mata kuliah bahkan secara jelas memaksa saya untuk memastikan diri bahwa saya memilih salah satunya, sedangkan di semester ini, saya sudah mencemplungkan diri ke dalam pemikiran Marx meski saya tidak berani mengatakan bahwa saya sungguh seorang Marxis. Bersamaan dengan kegamangan tersebut, Indonesia dihadapkan pada dua fenomena sosial, yang menurut saya ekstrim; aksi damai 212 dan demo referendum Papua Barat. Meski agak ragu menulis ini, tapi aksi saya membuka laman facebook sungguh menggelitik saya untuk segera menulis.

Epistemologi

Sebagaimana mencari harta karun, mencari ilmu juga tidak mudah. Filsafat ilmu memberikan dasar bagi kita untuk memulai pencarian terhadap kebenaran melalui beberapa pintu masuk; positivisme, fenomenologi, hermeneutik, materialisme, strukturalisme, dan tentu saja, postmodernisme. Keenamnya menawarkan titik mula yang berbeda dan sejauh ini tidak ada yang menganggap salah baik satu atau keseluruhan titik mula tersebut. Yang ada hanya, masing-masing menuai kritik dan demikian, masing-masingnya juga menawarkan kekurangan dan kelebihannya sendiri dalam upaya mencari kebenaran itu.

Dalam proses menuju titik akhir mata kuliah ini, saya diwajibkan untuk membahas atau atau beberapa di antaranya secara mendalam hingga ke akar-akarnya, setidaknya membantu saya dalam memberikan pijakan untuk mulai menulis secara lebih bertanggungjawab dan lebih terarah. Hal itu tentu saja, membuat saya kelimpungan karena sejauh ini, saya tidak menyakini apapun sebagai sebuah kebenaran, bagi saya relativitas kebenaran itu nyata adanya. Demikian, maka saya semakin ragu untuk menancapkan kaki di antara salah satunya, hingga akhirnya saya baru memutuskan memilih judul seminggu yang lalu.

Banyaknya hal yang berseliweran membuat saya bingung memulai tulisan ini.

Saya menyukai manusia, sangat suka mempelajari manusia dan mencoba mengorek bagaimana manusia berpikir dan menentukan hal-hal dalam hidupnya. Karenanya, saya menganggap bahwa manusia adalah subjek pembelajaran paling tidak tentu, unik, dan candu. Sayangnya, psikologi terlalu paten karena mencoba untuk mengeneralisir manusia, dan baik sosiologi maupun antropologi tidak mau atau terlalu gengsi untuk mengakui bahwa setiap manusia itu berbeda, unik, dan tidak bisa begitu saja disamakan di bawah terminologi ‘masyarakat’. Meski demikian, saya tetap menjatuhkan pilihan pada antropologi, bukan hanya karena titik mula studinya yang tidak dimulai dari grand theory, tapi lebih dari itu, karena studi antropologi adalah studi dengan dasar epistemologi dan paradigma yang paling tidak tentu dan tidak dibakukan. Antropologi menjadi studi yang paling labil, mengambang-ambang, dan justru bagian itulah yang membuat saya semakin mencintai studi ini.

Hal itu pula yang membuat saya khawatir untuk memilih satu atau beberapa dasar untuk berpijak. Saya takut mati dalam pemikiran yang itu-itu saja. Padahal hal itu menyalahi keyakinan saya sendiri tentang manusia yang tidak tentu, unik, dan dinamis. Manusia (saya) dipusingkan oleh begitu banyak hal, rasa, ide, eksistensi, materi, ketidakpastian, Tuhan, dan entah berapa banyak hal lagi di dunia ini. Oleh karena itu, saya tidak bisa memilih satu epistemologi sebagai dasar, saya merasa saya harus meyakini bahwa semua epistemologi itu bisa digunakan bersama dalam sebuah kerangka pemikiran yang menyeluruh, entah siapa nanti yang mau menggagas atau menamakannya apa.

Bisa jadi, karena saya hidup di era ilmu pengetahuan mencapai era postmodern, maka saya merasa itulah satu-satunya cara untuk ‘melihat’ segala sesuatu secara menyeluruh dan ‘benar’. Di sepanjang kuliah Membaca Etnografi saya juga melihat kecenderungan saya menyukai tulisan-tulisan yang berbau Marxis, post-struktural, dan postmodern; material oriented, paradoxial, mendua, dan tidak tentu. Dinamika pemikiran saya bahkan terus menerus saya haturkan dalam setiap tulisan di blog ini; dari saya yang sok-sok-an hidup dengan bermartabat, hingga saya yang tak peduli pada penilaian orang lain. Karenanya, saya agaknya mencoba menyimpulkan sementara bahwa saya menyukai hal-hal yang mampu menyajikan realitas sebagaimana adanya, bukan bagaimana ia seharusnya.

Di tengah kegalauan itu, saya bertemu dengan buku Tania Li yang berjudul The Will to Improve. Perkenalan di tengah ketidaktahuan itu membuat saya menyadari bahwa fenomena sosial yang menarik perhatian saya adalah yang kekinian, hal-hal yang terjadi sejak saya dilahirkan, dan buku itu merangkumnya dengan baik. Sejauh yang saya ingat, saya memang menggandrungi sejarah, hanya saja kesukaan saya hanya bertujuan untuk memahami realitas masa kini, bagaimana sejarah membentuk, mengubah, atau memberikan kontribusi di masa kini, baik di dalam pemikiran maupun dalam realitas materinya.

Tidak bisa tidak, maka sejarah merupakan hal yang penting dan patut untuk dipelajari. Dalam berhubungan dengan manusia lain pun demikian, meski beberapa orang justru mencari sejarah seseorang untuk memberikan justifikasi tertentu. Bagi saya tidak, pengetahuan tentang sejarah seseorang akan mampu memberikan konteks atas pemikiran atau kecenderungan orang dalam merespon hal-hal di masa kini. Hal semacam itu mirip dengan metode berpikir penganut hermeneutik. Konteks ini bagi saya sangat penting, karena sistem internal manusia menciptakan rajutan memori di dalam pikirannya, baik yang diinginkan atau tidak, dan hal-hal itu tidak bisa disangkal bahwa ia juga mempengaruhi kita di hari ini.

Kehidupan manusia juga demikian adanya. Untuk memahami bagaimana realitas tercipta di hari ini, saya merasa harus mendalami sejarah hingga ke masa mulanya manusia mampu menyadari sesuatu. Kesadaran ini bagi saya menjadi awal mula, karena tanpa kesadaran, maka manusia tidak menjadi unik satu sama lain, hanya serupa kucing disebut kucing. Hal semacam itu tidak bisa tidak membuat saya harus menggunakan kerangka pemikiran materialisme, jika tidak ingin tersesat ke dalam berbagai mistifikasi. Sumber-sumber referensi sejarah harus juga tepat dan mampu dikonstruksi secara logis dan rasional. Hal ini sudah banyak dilakukan dan masih terus dilakukan untuk merekonstruksi sejarah dunia dan manusia. Kabar baiknya, penelusuran sejarah ini juga dilakukan melalui memetika, yang menawarkan cara pandang baru terhadap kebudayaan. Dalam antropologi lebih sering disebut diskursus. Saya pikir, penelusuran sejarah dan penggabungan dua sejarah ini akan memberikan konteks yang lebih mudah dipahami karena dua hal ini saling berdialektika dalam pikiran manusia. Proses panjang itu bisa jadi meninggalkan bekas-bekas dalam diri manusia, melalui gestur dan sub-consciousness.

Tidak lepas dari hal-hal itu, saya juga melihat bahwa tindakan manusia juga dipengaruhi oleh proses dialektis di dalam dirinya, bahwa setiap manusia bertindak didasarkan dari tafsirnya sehari-hari. Hal yang bersifat spontan dan ‘harus disegerakan’ ini yang juga akhirnya mempengaruhi jalannya sejarah hidup manusia dan peradaban. Maka proses ini tidak boleh dilewatkan untuk mampu melihat secara keseluruhan bagaimana dinamika itu berjalan. Sayangnya, kadang tafsir hanya didasarkan pada sistem komunikasi manusia melalui bahasa yang disebut sebagai satu-satunya sistem komunikasi. Bagi saya, hal itu justru menjadi terlalu sempit, karena manusia juga berkomunikasi melalui gerak tubuh, dan utamanya gestur sebagai sesuatu yang menyejarah.

Begitu banyaknya relativitas yang berkelindan di dalam pikiran saya membuat saya tidak bisa dan tidak mau menempatkan diri dalam satu pijakan ketika membicarakan manusia. Demikian, menyebut masyarakat sebagai masyarakat saya pun tidak bisa saya lakukan tanpa merujuk pada satu kelompok tertentu. Hal ini yang sebenarnya saya tahu sebagai kelemahan saya, terutama karena saya telah mencelupkan diri dalam studi antropologi. Dan dalam upaya untuk meyakinkan diri, atau mencoba merancang sebuah kerangka berpikir baru, saya menetapkan untuk menjadi seorang materialis historis, karena hanya itu yang tidak menyalahi logika saya untuk melihat manusia.

*

Hemm, ini sudah terlalu panjang, jadi saya pecah saja jadi beberapa tulisan, hehe.

wordsflow