Epistemologi, 212, Marxis, dan Referendum Papua (iii)

by nuzuli ziadatun ni'mah


Marxis

Di luar masalah apakah orang-orang terlalu nyinyir atau tidak dengan kejadian hari ini, saya masih berupaya untuk menjadi individu yang mengambang di antara keduanya. Biar saja dianggap tidak punya pendirian atau menjadi pihak yang menentang agama, karena di hari ini saya masih memiliki pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai agama. Well then, mari lanjut ke pembahasan berikutnya.

Marx, adalah tokoh yang saya pikir sangat luar biasa keren terutama atas sumbangsihnya memberikan cara pandang yang berbeda pada ilmu sosial. Harus saya katakan bahwa kuliah saya selama satu semester kemarin tidak mampu memberikan pemahaman menyeluruh dan mendalam mengenai pemikiran Marx, melalui Das Kapital. Saya pikir, seharusnya buku itu dibaca setiap orang yang mengaku berpendidikan di hari ini. Bukan karena substansinya, tapi lebih dari itu, Marx menawarkan pemikiran kritis atas fenomena sosial, dimana sebelumnya tidak banyak dijamah oleh bidang-bidang ilmu sosial, apalagi antropologi.

Lewat materialisme, dialektika, dan logika, ada begitu banyak hal yang mampu kita jamah dan kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Mengkritisi setiap hal dengan mempertanyakan ulang setiap detilnya adalah gerbang awal mencoba memahami bagaimana realitas itu berjalan. Sayang sekali, ilmu ini tidak memberikan kemampuan untuk memprediksi masa depan, dan beruntung sekali karena antropologi memang ilmu masa lalu, hahaha.

Enggak sih. Yang saya maksud adalah karena antropologi Marxian (dan paradigma lainnya juga) memfokuskan studi pada masa lampau, maka sulit sekali untuk ‘memaksa’ antropolog memberikan rekomendasi teknis mengenai bagaimana membuat masyarakat menuju ini atau itu. ‘Ketidakmampuan’ itu yang kemudian diambil alih oleh pemerintah, instansi-instansi, atau bahkan masyarakat sendiri dalam mencoba menerapkan kepengaturan yang mereka anggap paling sesuai dengan kondisi mereka saat ini.

Pun demikian dengan fenomena 212 dan isu penistaan agama ini, yang menjadi perhatian hanya pada bagaimana hal itu terjadi, dan sekiranya apa yang menjadi dasar tindakan dan sedang diajak ke mana orang-orang ini? Penilaian-penilaian terhadap hal-hal yang mungkin akan terjadi selanjutnya selalu hanya menjadi sebuah spekulasi, bukan secara pasti akan mampu menggambarkan dengan rinci. Di sini kita bertemu dengan batas manusia, bahwa yang bisa kita definisikan sebagai sebuah kebenaran hanya hal-hal yang sudah terjadi saja, sedang masa depan masih akan terus menjadi hal yang terus mencoba diraba.

Das Kapital adalah buku yang asik menurut saya, dan sejauh ini adalah buku yang detil. Saya bisa menemukan setiap bagian dibahas hingga hal-hal yang paling mendasar dan mendalam. Sebagaimana yang dikatakan Marx mengenai produksi, hilangnya relasi antar pekerja dan konsumen menjadikan hubungan dagang menjadi hanya sebatas antara konsumen dan produk semata. Kita tidak akan tahu bagaimana sebuah komoditi diproduksi, sudah melewati hal apa saja, atau bagaimana nasib orang-orang yang memproduksinya. Putusnya relasi ini kemudian digantikan dalam bentuk informasi komoditi di bagian label atau bungkus saja.

Banyak orang saya lihat memusingkan label halal dalam setiap kemasan, terutama karena hilangnya relasi yang saya jelaskan tadi, membuat konsumen merujuk pada hal yang pasti. Nah, menjadi sulit ketika kita bertemu dengan label halal, karena sejauh yang saya tahu, label halal ini banyak sekali syaratnya untuk akhirnya bisa nangkring menempel pada sebuah komoditi. Saya ingat pernah melihat video tentang produksi susu sapi di Australia yang dipaksakan pada sapi-sapi di sana. Sapi indukan dipaksa untuk hamil dan demikian produksi susunya akan semakin banyak. Begitu melahirkan, maka induk sapi dipisahkan dari anaknya, dan bahkan anaknya dibabat habis begitu saja karena tidak berguna untuk bisnis ini. Di sini, kita bertemu pada kesulitan memverifikasi masalah halal atau tidaknya suatu makanan.

Silahkan mendebat dengan dasar pemikiran yang jelas untuk contoh kasus barusan, saya tidak akan ikutan karena nggak minum susu.

Marx menjadi seorang penolong bagi saya, karena di masa paling penting perkembangan peradaban, ia menuliskan Das Kapital. Buku itu membuat dirinya tidak hanya menjadi seorang tokoh saja, tapi juga membuat namanya menjadi sebuah paham; marxisme. Wow sekali yak. Cara berpikir Marx yang menyeluruh membuat saya meyakinkan diri bahwa saya berada di jalur yang tepat. Lewat telaah terhadap Das Kapital, saya menemukan penjelasan akan perubahan ekstrim masyarakat dunia yang mulanya hidup subsisten dan seragam menjadi manusia yang ‘kehilangan diri’ di era ini.

Okai, saya mulai mengalami kebingungan karena penulisan ini seharusnya dilakukan dalam kondisi prima, dan tau-tau sudah jam 12 malam. Baiklah, baiklah. Coba sedikit lebih sehat.

Dalam perenungan saya sore tadi, saya kembali tersadar akan kebingungan saya mengkonstruksi kebudayaan. Berkali-kali saya menganggap kebudayaan hanya milih manusia yang sesungguhnya, sedang manusia-manusia kota adalah manusia-manusia robot yang jauh dari nilai dan pemaknaan. Tapi benarkah? Apakah budaya konsumsi tidak boleh menggantikan kebudayaan di masa lampau? Saya merasa bahwa banyak orang yang mulai lelah untuk hidup mengikuti rutinitas saja di kota. Demikian, maka kegiatan-kegiatan yang berbau seni, atau olah raga, atau rekreasi, adalah hal-hal yang akan terus dicari untuk mencapai keseimbangan. Manusia kota tidak butuh upaya untuk mencari makan, karena upaya itu telah ditransformasikan ke dalam bentuk kerja dalam mode produksi kapitalistik. Manusia mencari berbagai bentuk pelarian untuk menentramkan jiwanya yang haus.

Sayang kemudian, kapitalis melihat itu sebagai peluang untuk semakin memperlebar kapitalisme. Kita bisa melihat dari berkembangnya mapala sebagai sebuah lembaga berideologi menjadi hanya sekedar pihak lain yang turut meramaikan alam. Simbol perlawanan dijadikan komoditi dan hanya menjadi sebatas komoditi di mata kapitalis, meski orang dengan begitu yakinnya menganggap itu sebagai sebuah perlawanan. Kita diombang-ambingkan dalam ketidakmampuan diri menjelaskan realitas yang sedang dijalani.

Apakah saya mampu? Tidak. Menemukan diri adalah yang hal yang paling sulit, dan terus coba dilakukan oleh saya, kamu, dan 7 milyar lebih manusia di dunia ini. Kegamangan itu membuat saya selalu hanya bisa berlindung di bawah atas sekret atau di ruangan 2,5×3 m kosan saya sembari mencoba memikirkan banyak hal dalam waktu luang saya. Realitas dunia terlalu jauh untuk mampu saya anggap sebagai sesuatu yang nyata. Hal itu tentunya karena terputusnya relasi antar saya dan fenomena-fenomena itu, sehingga ia tetap menjadi hal-hal yang tidak saya pahami.

Semua manusia yang saya temui adalah objek studi bagi saya. Kalau kata pujangga-pujangga ilmu pengetahuan masa lalu (ciah), ada yang disebut sebagai makro kosmos dan mikro kosmos, bahwa hukum-hukum yang lingkupnya seluas alam semesta tercitrakan dalam unsur terkecilnya, dan vise versa. Konsep ini (bisa jadi) yang juga saya gunakan untuk memahami manusia. Saya mempelajari manusia di sekeliling saya secara mendalam bukan hanya pada kata-katanya saja, namun juga tulisan, tindakan, gestur, dan setiap detil yang ada padanya. Hal ini saya lakukan sebagai upaya untuk melihat diversitas masyarakat dunia. Tugas manusia untuk menerjemahkan realitas ke dalam pemikirannya dan sebaliknya juga, menerjemahkan pemikiran ke dalam realitas. Susah-susah sedap sih hal ini, dan luar biasa memberatkan pikiran.

Dari 3 tulisan dengan judul yang sama ini, saya sebenarnya sedang berupaya untuk menjelaskan bahwa setiap hal yang tampaknya tidak berhubungan sebenarnya saling berhubungan dan bahkan bisa jadi merupakan kerabat dekat. Ilmu pengetahuan yang sudah terbagi menjadi begitu kecil membuat setiap studi hanya menjadi sebuah studi parsial saja tanpa pernah menemukan konstruksi besar yang menyeluruh. Maka, kita sebagai manusia yang katanya terpelajar tetap tersesat karena peta hidup yang kita punya tidak mencakup keseluruhan fenomena. Tapi saya masih yakin setiap manusia masih tetap berupaya mendekati realitas dengan melakukan studi terhadap dirinya sendiri. Hal-hal semacam itu, seharusnya bisa menjadi ilmu pengetahuan sendiri, sayangnya tidak ada yang mau, hahaha.

Sudahlah, saya sudah mulai ngelantur, besok saya lanjutkan.

wordsflow