Tengah Malam Ini

by nuzuli ziadatun ni'mah


Entah mengapa saya begitu malas membuka laptop malam ini. Padahal ada begitu banyak seruan-seruan yang harus segera diutarakan di pikiran saya. Sesekali upload dari handphone deh, biar nggak usah panjang-panjang.

Saya seakan terhenyak akan hening di lincak malam ini. Anak-anak sedang sibuk mempersiapkan diri untuk ujian akhir esok hari. Seharusnya saya pun sibuk dengan ujian akhir dengan laporan-laporan tentunya.

Saya ingat bahwa sudah lama saya tidak kembali ke rumah. Tapi apakah ia masih rumah? Rasanya harus saya akui bahwa saya mulai meragukannya. Tidakkah rindu dengan orang tua? Ya tentu saja. Tapi, jika saya katakan rindu saya berbeda, adakah yang akan percaya? Bagi saya, berpisah akan lebih membesarkan kerinduan dan cinta, meski saya tahu itu juga durhaka.

Lalu saya ingat sekret dan kamar kosan. Dua hal yang selalu bisa membahagiakan diri saya entah bagaimanapun bentuk raga dan jiwa saya. Keduanya menjadi obat. Keduanya menyediakan kemewahan yang tidak ada di tempat lain, teh tong-tji panas, sleeping bag hangat, kesibukan, kemalasan, dan privasi. Entah saya hanya mencoba melarikan diri atau sungguh keduanya menjadi hal penting di hari ini. Saya tak tahu, pun belum mampu menentukan jawaban pastinya.

Linimasa laman sosial media masih heboh dengan berbagai isu terbaru. Entah latah atau baru-baru ini itu menjadi hal yang paling penting di hidup mereka. Ribut-ribut ini memuakkan, dan tidak hilang rasa muaknya bahkan setelah berkali-kali mencoba untuk mengatakan pada diri sendiri bahwa ini bukan urusanmu. Sementara itu, ada teman-teman Papua yang terus membagikan artikel-artikel pro Papua. Sebuah upaya besar menuntut hak sebagai manusia.

Saya ketinggalan berita tentang beasiswa, penelitian, teknologi, ataupun hal-hal baru ilmu pengetahuan. Tentunya saya juga semakin jauh dengan arsitektur, meski rasa-rasanya juga masih merangkak dalam upaya mendekati antropologi. Sementara sebaya-sebaya saya sudah banyak yang menikah, beberapa menimang anak, lulus profesi, punya konsultan, menerbitkan buku, jadi pembicara sana-sini, masuk koran berkali-kali, atau minimal, mereka memiliki rekan hidup. Sementara saya masih berupaya memperbaiki diri, mencoba mempertahankan usaha, dan mencoba tidak banyak peduli. Seiring waktu, saya semakin yakin bahwa tugas saya hanya mengisi terus laman blog ini. Tanpa peduli siapa pembaca, apa yang dicari, darimana ia, dan untuk apa tulisan-tulisan ini.

Tidak ada rasa, hanya kekosongan malam tanpa musik, emosi yang teredam, wangi indomie yang menguar, dan udara dingin semilir yang baru-baru ini mewarnai Jogja. Suara ketik hape sepanjang huruf demi huruf mulai tertera dalam layar kaca. Ah, sudah berapa lama saya tidak menonton TV? Rasanya saya begitu ingin tertawa menyaksikan vampir-vampir Cina.

Lagi-lagi saya mengeluh tentang hidup, padahal saya tidak menderita sama sekali. Makanan bisa datang bagaikan dikirim dari surga. Air tinggal buka keran. Kepanasan ada tempat berteduh. Butuh tidur pun tinggal melipir ke kasur. Terlalu banyak waktu luang, hingga tidak tahu untuk apa waktu-waktu yang berlebihan. Kadang ketika hujan turun, ada dorongan untuk keluar dan menari di bawah hujan. Mengimajinasikan hidup berkejaran di bawah naungan pohon-pohon besar. Sesekali bergurau di sekeliling api sembari menyesap teh tong-tji. Tak perlu peduli apapun kecuali percakapan dan kebebasan.

Kita hidup dalam ketidaktahuan yang demikian menyesakkan. Kehilangan terlalu banyak hal menyenangkan untuk menuju pemenjaraan. Bisa jadi sekret dan kamar kosan menawarkan hal yang tidak ada itu, sehingga saya begitu mencintai keduanya. Sering saya justru merasa bangga dicap gadis serampangan atau bahkan liar dan tidak mengurus diri. Ah, peduli apa saya pada orang-orang? Kita hanya jiwa-jiwa yang terpenjara pada raga yang terpaksa harus diterima.

Lalu teringat bahwa bumi hanya satu ini. Ketika ia mati, maka tidak ada lagi kami, kita, kamu, saya, mereka, dia, dan semua isinya. Menjaganya sama seperti menjaga raga. Keduanya memiliki batas agar tidak rusak selamanya. Agar mampu istirahat sebelum kembali bekerja. Tapi saya belum melakukan apa-apa pada bumi. Menyapunya tidak pernah, menanaminya dengan pepohonan nihil, membersihkan airnya, atau apapun, tidak satupun saya lakukan. Hanya manusia yang berangan-angan, seolah peduli tapi tak mau mengolah diri.

Saya bingung. Tiba-tiba saya merasa kesepian. Sebagaimana saya memiliki 24 jam dalam sehari, hanya beberapa jam yang mampu saya ingat sebagai kenangan. Selebihnya saya tidak menemukan jejak hilangnya.

Antara saya dan banyak manusia, tentu saja bukan saya yang paling menderita. Saya toh bukan siapa-siapa, yang perannya juga belum dituliskan oleh penguasa semesta.

Entahlah, rasanya terlalu hening bahkan ketika ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Bahkan saat anggota badan bergerak, ada bagian hening yang tetap bertahan. Entah itu apa, entah dimana, entah kenapa.

Biarlah, saya ingin kembali ke dunia mimpi saja. Letak kebebasan dan bahagia berpilin menyatu tanpa ragu.

wordsflow

Advertisements