Tengah Malam Ini (ii)

by nuzuli ziadatun ni'mah


Malam kedua saya posting lewat handphone.

Sebelum saya mulai, mungkin sebaiknya kalian membaca postingan seorang teman yang saya pikir it’s too true (sila klik di sini). Semoga kalian menemukan pencerahan sebelum mendengar curhat tak penting saya di malam ini.

Sering sekali saya berpikir bahwa masih ada orang-orang yang membaca blog ketika media sosial sudah begitu banyak, dan blog pribadi semacam ini sudah begitu tua dan layak untuk ditinggalkan. Tapi walau bagaimana, saya justru merasa hidup lewat tulisan-tulisan di dalam blog ini. Dan menjadi barang mewah ketika ada media online yang tidak ‘murahan’ sebagaimana media sosial yang lainnya. (oke saya kasar, maafkan)

Seharian ini saya mencoba melarikan diri dari sekret dan merenung di kosan sembari terapi dengan membuat buku. Kerajinan tangan, menjadi hal yang paling saya kuasai sejak kecil, dan dari sana saya merasa mampu mengendalikan banyak hal. Orang-orang di sekeliling saya baru-baru ini mengeluh tentang menjemukannya kuliah, atau belajar. Mungkin karena memang sedang masa ujian, sehingga semuanya terasa begitu membebani. Tapi, manusia-manusia yang tidak mampu melarikan diri dari sekolah akhirnya merasa lebih tertekan, lantas merasa dirinya yang paling gagal.

Entah kenapa bab nilai lebih dalam Das Kapital begitu terngiang-ngiang di pikiran saya. Manusia era ini (yang tidak mampu saya definisikan), kehilangan relasi dengan produsen dari komoditi yang kita konsumsi. Sebegitu teralienasinya hingga kita menerima begitu saja label yang diberikan oleh perusahaan atas makanan yang kita makan. Kemarin saya menemukan sebuah postingan dari seorang teman yang menjual roti. Dia memaparkan sumber bahan mentah dari roti yang ia buat, setiap sumbernya ia sebutkan. Di akhir catatan foto dia menambahkan “bukankah sebaiknya makanan kita traceable?”

Saya menghabiskan masa kecil dengan bermain di sawah dan kali dekat sawah. Setiap sore kami mencari kepik dan tidak pernah menemukan kegunaannya kecuali warnanya yang bagus. Ada sebuah sumur yang legendaris di tengah sawah. Lebih karena di sana ada timba dengan pemberat batu (bukan model katrol tarik) dan dekat dengan saung. Saung favorit kami dikelilingi rumput gajah, dan saat rumput belum dibabat untuk pakan ternak, tempat itu menjadi persembunyian paling nyaman.

Di waktu-waktu itu lah, bahan pokok makanan lebih banyak kami peroleh dari sawah. Kami tahu bagaimana masing-masingnya ditanam, kualitas air yang mengairinya, atau siapa-siapa saja yang merawatnya. Di hari ini, hanya sejumlah kecil orang yang masih mengetahui sumber makanan yang mereka konsumsi.

Sempat terlintas di pikiran saya, bahwa sebagaimana rekan saya yang jualan roti tadi, akan ada masa dimana orang-orang meragukan makanan yang mereka makan. Bahwa kita tidak akan makan segala sesuatu yang tidak jelas asal usulnya dan akhirnya menanam sendiri makanan yang ingin kita konsumsi. Di sudut rumah mungkin kita bisa memelihara sekandang kecil ayam petelur. Atau, setiap beberapa rumah tangga menanam jenis yang berbeda-beda untuk saling menghidupi satu sama lain.

Sebagaimana saya ceritakan semalm tentang keinginan saya menari-nari, sebenarnya itu adalah bagian dari kesadaran atas hilangnya kebudayaan. Apa itu kebudayaan untuk manusia-manusia karbitan di jaman ini? Saya mengenal kesenian sebagai sebuah hal yang eksklusif dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Mengenal budaya sebagai sebuah paket wisata yang menumbuhkan romantika semata. Mencoba menemukan nilai yang hanya sebuah reproduksi semu ala kapitalis. Tidak bermakna sama sekali.

Lalu kalut mencoba menciptakan sendiri atmosfer yang menjauhi era yang pesakitan ini. Mencoba kembali pada yang telah mati. Antara takut hanya menemukan romantika atau berharap mencapai makna. Tidak ada yang pasti.

Meski muak, tapi saya selalu membuka media sosial, mengklik berita yang ingin saya baca, mengumpat pada beberapa, bersyukur pada beberapa. Kadang, saya merasa tergugah menerima ajakan abang saya jadi pedagang angkringan dan menemukan orang-orang baru yang bisa diajak bicara setiap waktu. Atau jadi tukang loper koran sehingga bisa jalan-jalan seharian. Tapi yah, hanya seandainya. Nyatanya toh saya lebih memilih kuliah dan memastikan pada negara bahwa penganggurannya berkurang karena pendidikan. Atau membuat buku untuk memastikan kapital tetap berputar, dan saya punya daya beli untuk melanggengkan kapitalisme.

Tapi malam masih panjang. Masih saja bumi tak mau mempercepat diri. Padahal manusia sudah tak lagi mau menunggu lama untuk pagi kembali. Seolah-olah mereka ingin bekerja sampai mati. Menumpuk pundi-pundi tanpa peduli.

Dimana semboyan hidup sederhana, hidup secukupnya? Katanya filsafat sudah mati, tapi kita merindukan dan mencari-cari. Seolah lupa siapa yang melemparnya pergi. Menyisakan agama yang tak juga diterima jiwa-jiwa yang resah.

Baiklah, setidaknya nyamuk-nyamuk masih bergembira mencoba mencuri darah dari saya.