Di Tengah Presentasi Epis

by nuzuli ziadatun ni'mah


Yang paling saya suka dari mengerjakan tugas adalah saya dipaksa untuk menjebloskan diri dengan suka rela masuk merasuk bahkan ketika tubuh saya tak mampu lagi menjangkau kedalamannya. Berkali-kali selama berbulan-bulan dan mungkin bertahun-tahun ini, saya sering mengalami kesulitan untuk memahami teori, dan bisa jadi tidak berpindah halaman bahkan setelah sepuluh kali membaca bolak-balik. Menyedihkan.

Presentasi epis akan berlangsung seharian, dan saya harus sekali menulis di siang hari ini sebelum kembali pada Foucault, Marx (lagi-lagi), dan Gramsci. Tiga tokoh luar biasa yang bisa disatukan oleh Tania Li di bawah tajuk The Will to Improve (kenapa ya saya suka banget sama ibu ini?). Dan dengannya, saya terpaksa mendalami Marx lebih dalam, meskipun sembari menyimpan malu karena begitu sulit saya mendalami hal-hal itu. Why oh why.

Semalam dalam upaya saya untuk mencoba menyicil power point (yang mana adalah hal paling tidak saya suka), Tengdu malah mengajak kami (dengan pasang speaker) untuk turut menonton film dokumenter tentang “pemberontakan” di Ukraina.

Ada hal-hal yang kembali bermunculan, sebagaimana buku yang tengah saya dalami ini, bahwa kita selalu sulit untuk lepas dari konflik. Ada sebuah catatan yang dibagikan seorang teman di facebook, tulisan itu dimuat di Indoprogress. Dalam narasi panjang, ada sebuah pertanyaan yang terselip, “apakah rakyat pernah salah?” Itu pertanyaan yang ternyata juga mampir di pikiran saya sepanjang perjalanan sosial saya. Bahwa ada begitu banyak jenis manusia yang saya temukan di keseharian, di dalam ruang kelas, atau di manapun di dunia ini adalah bukti bahwa rakyat, atau masyarakat tidak bisa begitu saja disamakan. Ada proses-proses yang terjadi dalam kehidupan sosial sekecil apapun, yang darinya kita berusaha untuk mendalami dunia. Saya sudah pernah membahas ini sekilas sebelumnya.

Tidak mau berpanjang lebar karena seharian ini saya akan mendengar begitu banyak teori dipaparkan dan dijejalkan dalam diri saya, namun saya masih mengais-ngais Marxis seolah bebal untuk menerima pemikiran orang lain.

Saya ingat dalam perbincangan makan siang dengan seorang teman, saya sempat mengajukan pertanyaan mengenai “adakah kemungkinan lain selain perlawanan?”, dan pertanyaan itu juga saya perluas ke banyak hal. Saya paham bahwa perlawanan muncul bukan tanpa sebab, bahwa ada hal-hal yang begitu mendesak untuk segera membebaskan diri dari hegemoni kekuasaan. Tapi meski tidak ada jaminan apapun akan masa depan, manusia berusaha untuk terus melawan tekanan. Kawan saya mengatakan kemudian, bahwa bagi mereka yang penting adalah memperjuangkan hari ini, hari esok bisa kita songsong bersama. Begitu pula mungkin, banyak orang di dunia mendalami kehidupannya sendiri.

Relasi manusia selalu unik dan tidak sama, karena ada proses dialektis yang tidak sama, ada kebersandingan dan penolakan, dan hal itu bisa berlangsung bersamaan. Maka, penilaian atas suatu kejadian melalui penyederhanaan-penyederhanaan hanya akan membawa kita pada pengetahuan parsial, demikian kehidupan hanya terjelaskan sepotong-sepotong saja.

Saya sering malu dengan teman-teman saya, dengan diri sendiri terutama, dan dengan ilmu pengetauan. Apa sebab? Sebagai wujud yang menyimpan pemikiran-pemikiran, saya tidak pernah keluar dari zona nyaman dan menantang dunia. Tapi dalam hal ini, ada hal yang membuat saya terus merasa ragu, bahwa saya tidak cukup berkapasitas untuk menulis sesuatu yang berkualitas dan mampu dipertanggungjawabkan. Keraguan yang terus menerus saya produksi dan reproduksi ini yang kemudian membuat saya semakin ragu melangkah, menentukan arah, dan menempatkan diri.

Well, lagi-lagi saya menye-menye, hahaha.

Tapi sebagaimana alam, dan begitu pula manusia, kita terdiri dari air dan api, ada bagian teduh dan dingin, serta panas dan beringas. Manusia memiliki kadarnya sendiri sebagaimana alam mencoba memperlakukan dirinya sendiri. Bahwa pada suatu saat dia bisa memberikan rasa nyaman pada manusia, dan berikutnya memberi bencana, meski keduanya adalah hal yang sama. Relasi manusia, demikian, memiliki naik-turunnya sendiri. Siklus alam membuat manusia tidak berdaya pada beberapa hal, dan akhirnya mati menjadi finalnya.

Ah, saya lebih ngelantur di postingan ini, sudahlah. Sampai jumpa!

wordsflow