Quarter Life Crisis

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sebelum mulai, saya mau memberi chit-chat sedikit seputar hidup saya. Okai, laptop saya berhasil menyala kembali setelah percobaan selama 3 hari untuk menyalakannya. Ada paper yang harus saya kumpul besok, dan ini latihan menulis yang lain. Saya akan jalan-jalan lagi ke tempat jauh. ‘Menalar Marx’ membantu saya menemukan hal-hal tersembunyi tentang Marx. Perbincangan dengan Njum yang absurd tadi siang sekali lagi kami miliki. Orderan buku yang sudah selesai dikerjakan semuanya, dan sekali lagi kena omel pelanggan. Daaaan, bagian paling membahagiakan adalaaah, besok ada kuliah umum Tania Murray Li. Damn, saya akan bertemu ibu keren itu (sok tau abis padahal baru baca 2 bukunya).

Well, topik yang saya bahas kali ini adalah hal yang, errrr, sedang saya (dan wanita-wanita kelas saya) alami, hehe. Ah, sebelum saya melanjutkan, saya merasa berhutang karena belum meneruskan tulisan tentang referedum Papua. Nanti ya saya coba untuk memberikan argumen dan pandangan saya tentang hal itu. Nah, tentang topik ini, ada sesuatu yang rasanya begitu mendesak untuk saya utarakan sebelum saya melupakannya.

Masalah quarter life crisis, sesuatu namanya, agaknya merupakan krisis yang sudah banyak dialami oleh manusia di bumi ini. Terbukti karena fenomena ini sudah bernama men, otomatis dia sudah banyak dibicarakan. Tentu saja tulisan ini tidak akan menjadi sesuatu yang luar biasa, tapi saya mau mencoba meninggalkan perhatian pada permasalahan ini.

Tepat ketika saya sedang merancang kata-kata dan alur tulisan sembari membuat buku di kosan, saya tetiba tersadar akan sesuatu. Quarter life crisis sebenarnya sebuah upaya penjelasan mengenai kebingungan dan keresahan manusia-manusia yang menginjak umur antara, atau umur ambang, di mana perpindahan ini membutuhkan ‘aklimatisasi’ yang tidak gampang. Di sana, kemudian istilah krisis itu mengemuka. Namun, definisi saya ini tidak lengkap, karena kata ‘antara’ atau ‘ambang’ butuh penjelasan yang panjang. Ambang yang seperti apa? Antara yang mana? Apakah krisis tersebut adalah sesuatu yang sungguh menyejarah, atau tercipta karena adanya perubahan pola hidup manusia-manusia milenial?

Cerita tentang peningkatan penyakit psikis telah banyak mengemuka karena persoalan dunia modern yang semakin banyak. Dalam penelusuran singkat, dimungkinkan bahwa krisis yang sama dialami oleh manusia-manusia masa lalu ketika mereka pengalami perpindahan sebagai anak menuju remaja, dimana mereka akan menjadi insan-insan yang siap dijodohkan. Dan tadaaa, ambang itu ada bukan pada umur 25 tahun. Well, kesimpulan yang terlalu cepat, tapi biarkan saya senang dengan penjelasan itu. Mari masuk ke bagian bahasannya, huehe.

Tak lebih dari sebulan yang lalu, kami pergi camping ke Kaliurang, dan pada suatu sore yang menyenangkan, tanpa sadar kami tergabung dalam satu kelompok wanita. Pembicaraan tentang gender telah menjadi topik yang asik, karena permasalahan gender adalah perjalanan sejarah yang panjang. Tentu saja karena perbincangan di kalangan wanita tidak pernah bisa fokus, mampirlah kami ke pembahasan umum wanita-wanita di umur 25 tahun, masalah cinta dan pernikahan. Dua hal ini, adalah topik yang selalu menarik, meski ide-ide tentangnya agaknya masih sulit merubah stigma dan realitas tradisinya.

Sebagai pihak yang tidak memiliki pengalaman bercinta (eits), meski saya pun mencintai, saya akhirnya menjadi pihak yang hanya mengumpulkan data semata. Tiga dari lima orang bercerita tentang kegagalan hubungan mereka karena ‘masalah’ agama. Hal sensitif itu berbenturan dengan begitu banyak hal yang terjadi dalam keluarga, lingkungan, dan interpersonal pihak yang berhubungan. Pernikahan beda agama, dalam hal ini menjadi permasalahan yang mendalam dan berkepanjangan, karena akhirnya akan berbenturan dengan instansi pemerintah, instansi agama, keluarga, masyarakat agama, dan lingkungan sekitar. Pun, masa depan kedua pihak akan terus menerus tidak menentu karena dinamika masyarakat agama begitu fluktuatif.

Seorang teman memberikan cerita yang agak berbeda. Ia adalah anak dari keluarga yang tidak berkeyakinan sama, kedua orang tuanya berasal dari keluarga pembesar dua agama yang berlainan tapi satu hulu. Meski orang tuanya merupakan ‘produk’ pernikahan beda agama, namun ternyata hal itu tidak membuatnya mendapat legitimasi keluarga untuk melakukan tindakan yang sama. Apa sebab? Menurutnya, sejarah kelam perjalanan hidup orang tuanya membuatnya tidak mendapat dukungan untuk melakukan tindakan yang sama sebagaimana kedua orang tuanya ‘menghasilkan’ dia ke dunia ini. Dalam hal ini, saya pribadi mencoba untuk tidak terburu-buru mengambil sikap karena dibutuhkan penalaran-penalaran lebih jauh dalam menyikapi hal sensitif semacam ini.

Pernikahan, sebagaimana sudah banyak dibicarakan orang, merupakan merger dua perusahaan besar bernama keluarga. Demikian, keluarga sebagai sebuah kelompok manusia yang jamak dan beragam, harus bersatu padu dalam satu pernyataan yang sama untuk menerima sebuah keluarga baru sebagai jaringan terdekatnya. Demikian, maka ‘transaksi’ pernikahan menjadi transaksi yang rumit dengan segala persyaratan implisit dan eksplisitnya. Permasalahan pernikahan selalu berhubungan dengan ‘restu’ sebagai sebuah legitimasi sah dari pihak keluarga kepada calon menantunya.

Ini rumit menurut saya.

Keinginan terdalam saya sebagai individu, adalah menemukan partner yang mampu saya ajak bicara terus menerus seumur hidup, bersedia melalui perubahan-perubahan hidup dengan saya, dan tentunya mereproduksi gen kami ke dalam wujud baru. Dengan tujuan-tujuan yang begitu personal, maka hegemoni keluarga menjadi sesuatu yang cukup saya tentang (sebenarnya saya nggak punya masalah keluarga sih, hahaha, cuma ingin mendramatisir). Keluarga sebagai sebuah lembaga paling dasar, memiliki ikatan darah yang tidak putus terhadap anak, sebagaimana ia merupakan reproduksi gen orang tuanya, maka statusnya sebagai anak tidak akan berubah karena bukti material atas hubungan itu ada dalam darahnya. Sedang dua manusia yang bersatu dalam hubungan pernikahan, sebenarnya lebih tidak punya ikatan. Dengan logika demikian, saya pikir jika memang harus (dalam artian saya ada dalam kondisi harus menentukan pilihan berat) maka saya lebih berani menantang diri atas keluarga, hahaha. Sombong betul saya.

Agak sulit memberikan penjelasan yang tenang untuk hal ini, saya pribadi tidak selalu mau dan mampu memberi sebuah argumen. Penyebabnya sesederhana karena saya belum berada dalam kondisi untuk menentukan pilihan. Demikian, hal-hal yang saya pikirkan hanya serupa idealisme saja, dan entah pada tataran prakteknya, kita lihat saja nanti.

Tapi, saya mencoba menjadi manusia yang mengamini keterlemparan saya sebagai makhluk milenial di era Indonesia yang sedang menuju modern tetapi dalam kungkungan ilmu pengetahuan yang postmo ini. Bersikap di hari ini bisa begitu salah karena banyaknya hal yang carut-marut dan tidak tentu penjelasan dan arah geraknya. Pun demikian dengan urusan pernikahan yang begitu pelik dalam kerangka pikir saya, atau kami, meski bisa jadi, ada orang yang menikah dengan cara mudah karena kerelaannya mengikuti tata aturan. Hemm.

Dan okaaai, meski akhirnya tulisan ini tidak mencerminkan judulnya (men, topik quarter life crisis ada banyak banget padahal!), tapi sudahlah, saya mau nggarap tugas, hehe.

Sebagai sebuah catatan akhir, saya kira sudah bukan saatnya bagi saya untuk bermenye-menye menangisi dan mengasihani diri perihal cinta dan pasangan hidup, haha. Kiranya dia datang begitu saja dan mencoba menarik saya dalam hidupnya, saya kira itu hal yang ajaib. Sembari berpikir begitu, saya rasa membaca blog ini bisa menjadi syarat yang menyenangkan untuk diterapkan. Apalagi sejauh yang saya ingat, lebih dari buku diary saya di kosan, blog ini menyimpan lebih banyak pemikiran dan perkembangan mental saya selama 7 tahun giat menulis. Jadi, saya merevisi keinginan saya mewariskan diary saya nanti. Sebaliknya, justru saya sepertinya akan membakarnya saja jadi debu, toh isinya saya ingat baik. Blog ini saja lah yang menghidupi dunia ide saya, hehe.

Daaan, selamat malam. Saya kira saya sudah membuang satu lagi sampah dari bilik ide saya.

wordsflow

Advertisements