Menelusuri Jejak Masa Lalu

by nuzuli ziadatun ni'mah


Setiap postingan, agaknya merupakan euforia keberhasilan saya menyalakan laptop. Cerita yang sudah sering saya dengungkan memang, tapi sungguh menantang sekali memiliki laptop ini, dan saya nggak tau lagi harus bagaimana memperlakukannya. Semoga liburan besok saya bisa memperbaikinya, hehe.

Apa kabar hidup?

Saya kira saya telah mencapai babak baru lagi, dengan ketenangan dan ketabahan yang baru, dengan karakter dan cara berpikir baru, meski masih dalam kadar keingintahuan dan ambisi yang sama. Kadang, di malam-malam semacam ini saya akan scroll timeline Twitter saya untuk melihat seberapa keren saya dalam menyusun kata dalam 140 karakter saja. Atau hari-hari macam apa yang saya lalui sehingga menghasilkan tulisan blog yang begitu menggebu-gebu, sedih merana, gundah gulana, atau bahagia berbunga. Saya kira, menelusuri jejak pribadi adalah bagian yang begitu menyenangkan untuk dilakukan kapanpun juga.

Saya ingat bahwa masih ada tulisan tentang Papua yang saya tunda. Tapi saya belum lagi tertarik untuk membahas hal-hal yang terlampau berat. Entahlah, ada sesuatu yang menyuruh saya untuk berdiam sejenak dan menghimpun pengetahuan. Tak harus sempurna, yang penting dasarnya kuat dan saya mampu bercerita dan bercakap dengan benar.

Lebih dari itu, saya pikir saya lebih ingin membahas pribadi saya sendiri, hehe. Mungkin cerita saja ya, biar nggak usah berat-berat.

Beberapa hari yang lalu, saya dibuat merasa entah marah, terhina, atau kesal, karena seorang kawan mengatakan “jangan mentang-mentang kamu kuliah antro dan bla bla bla” yang tidak saya ingat lanjutannya. Saya sungguh tersinggung kala itu, dan meski saya tidak paham kenapa saya tersinggung, sedikit banyak saya mencoba menelusuri alasannya.

Sepertinya, jauh di dalam diri saya, ada kekecewaan-kekecewaan yang saya simpan di balik pencapaian-pencapaian yang saya dapatkan secara bersamaan. Kalimat itu, menggungah rasa kecewa saya atas ketidakmampuan diri masuk dengan apik dan dengan sungguh-sungguh ke bidang ilmu itu. Ada hal-hal yang tetap tidak bisa saya terima, meski antro adalah ilmu yang paling membebaskan kata dosen-dosen saya. Ada banyak kesulitan yang saya alami, dan saya tidak pernah berbangga diri mengatakan bahwa saya paham antro. Siapa yang bisa mengatakan dia paham manusia lain? Itu hal mustahil yang coba dibuat-buat dan dipaksakan untuk diterima oleh publik.

Pada dasarnya, saya tidak memahami manusia lain, dan masuk ke bidang ilmu itu salah satu tantangan berat yang harus saya lalui untuk hidup dengan cara yang lebih bernilai menurut saya.

Kekeraskepalaan saya untuk mencoba menerima konsep dan teori orang lain menempatkan pemikiran saya pada hal yang itu-itu saja, berputar-putar dan tidak mampu saya konstruksikan dengan cara yang lebih baik. Hal itu menyebalkan, hingga akhirnya saya memutuskan membaca bacaan yang lebih sesuai umur, mendalami teori-teori yang saya sukai dahulu, sebelum menuju teori-teori yang saya butuhkan. Melelahkan memang, tapi harus dilalui.

Dan lagipula, siapa yang suka hidup dalam putaran yang sama? Ada tuntutan tak kasat mata dari dalam diri untuk terus mengaktualisasi.

Tak ada standar hidup manusia yang sungguh-sungguh benar, saya tahu. Kadang saya begitu iri dengan orang-orang yang bisa sepenuh hati pada pekerjaannya, apapun itu. Kadang saya iri dengan wanita-wanita yang mendidik anak-anaknya dengan bahagia dan penuh cinta. Kadang saya justru mencari-cari kelebihan dari setiap orang yang saya temui, untuk bisa merasa iri. Karena dalam pikiran saya, semua manusia bisa unggul dari manusia lain, asal kita mencari-cari dimana letak keunggulannya.

Pun dalam urusan fisik, setiap orang memiliki kadar kecantikan dan ketampanan yang berbeda. Dan mencoba menyamakan setiap orang hanya akan membuat pandanganmu sempit dan tidak kaya. Di sana, kita hanya akan menempatkan manusia dalam kelas-kelas saja, tanpa mampu melihat bahwa kelas pun ada bermacam-macam jenisnya. Saya pernah membahas ini di postingan sebelumnya, saya malas mengulangi.

Ah, saya jadi ingat apa yang ingin saya bahas di awal saya menulis ini. Ini perihal ketenangan jiwa yang sedang saya alami. Entah karena peristiwa apa, yang mana juga sedang coba saya telusuri, saya mencapai ketenangan jiwa yang aneh. Sekiranya beberapa hari yang lalu saya sempat meluapkan emosi saya dengan mengumpat dan menangis sesengukan di kosan, tapi hari berikutnya, saya merasakan hal yang aneh. Ketenangan yang tidak terjelaskan yang datang entah dari mana.

Saya senang dengan perasaan ini, karena dia begitu menggelitik untuk diselidiki dari mana asalnya. Tapi saya bingung bagaimana cara menelusuri asal muasalnya, karena saya juga tidak paham kapan ia bermula. Apa dinikmati saja? Hehe.

Oiya, saya mau berinfo saja, karena Januari nanti saya akan meninggalkan Jogja. Mungkin itu akan menjadi waktu-waktu yang menyenangkan. Lalu ada tema tesis yang sepertinya akan saya tetapkan di atas pilihan-pilihan lain yang sama menggodanya untuk dijalani. Dan, saya tidak tahu apa lagi yang akan terjadi pada saya, hehe. Sampai jumpa esok. Mari menyapa.

wordsflow

Advertisements