Mencari Tahu

by nuzuli ziadatun ni'mah


Seperti halnya mencari tahu yang enak banget itu, informasi juga nggak selalu sama enaknya. Kadang ada yang agak pahit, atau udah sedikit asam karena lupa diganti airnya, atau teksturnya terlalu keras, kadang ada yang enak nan lembut, macem-macem lah.

Dan begitu juga informasi.

Saya katakan saya sedang mendalami marxisme, karena entah bagaimana paham ini begitu berpengaruh di abad ke 20 dan melahirkan berbagai aliran kiri di masa kini. Kadang kebingungan membedakan pemikiran siapa atas apa, darimana, dan apakah dia masih sejalan dengan pemikiran dasarnya? Seberapa marxis kah dia?

Saya rasa orang-orang mulai mabok klaim, bahwa dia lah yang mampu membawa kebenaran di muka bumi ini. Padahal kebenaran itu, saya pikir tidak tetap.

Parsialisasi pengetahuan, atau sering disebut sebagai spesialisasi profesi atau akademik, menempatkan kita ahli dalam satu bidang, tapi agak kelimpungan menghadapi bidang lainnya. Saya jadi ingat artikel buluk di sepiteng tentang free thinker, dimana dia menempatkan dirinya sebagai demikian. Dia menjadi pemikir.

Parsialisasi itu, kemudian membuat kita tidak mampu menjelaskan keterkaitan hal-hal yang kita temui dalam hidup, dan menempatkan kesadaran realitas sebagai pe-er hidup semua orang, nyaris tanpa bekal yang memadahi untuk menempuh dan menjelaskannya. Hubungan interpersonal misalnya, akhirnya dianggap sebagai ranah psikologi, sementara setiap orang tua harus mampu menjadi psikolog untuk anak-anaknya. Kapasitas alami manusia dibawa keluar dirinya, menjadi hal-hal yang terspesialisasi. Akhirnya memang profesi menjadi beragam, tapi ketergantungan kita semakin tinggi.

Saya sebenarnya ingin menulis sangat panjang, bahkan kalau bisa sepanjang buku 300 halaman. Tapi saya hanya punya ponsel pintar malam ini. Dan dengan keterbatasan itu mencoba meracik beberapa baris kata untuk mengisi awal tahun ini.

Tidak ada resolusi, tidak ada euforia. Tidak ada gelisah atas diri, karena diri telah terlalu jumawa menantang dunia. Hanya gelisah tentang kehidupan yang tersisa, tentang manusia-manusia lainnya, tentang alam tinggalnya. Saya ingin menulis teori, tapi ragu untuk memulai, karena sebagaimana saya sadari, bekal bacaan saya masih jauh dari cukup. Realita yang saya temui masih jauh dari mampu dipahami. Masing-masing masih memiliki celah misteri yang harus dipilah dan coba diisi.

Materialisme gagal dalam percobaannya kepada manusia, komunisme mengalami kehancuran, dan semua paham-paham tetuanya juga mengalami hal yang sama. Lantas masih melenggang gembira kapitalisme tanpa ada yang bisa menyandungnya jatuh. Ada apa? Bagaimana bisa? Sampai kapan? Apakah yang paling baik memang demikian? Apa yang diinginkan tokoh-tokoh puncaknya? Dan bejibun pertanyaan lainnya yang bercokol di pikiran saya.

Belum lagi jika bicara negara? Perlunya apa dia ada? Bagaimana harus ada hadir? Di mana letak berdirinya? Sampai mana jangkauannya? Dan seterusnya, dan seterusnya.

Hanya dengan dituliskan maka semua menjadi sedikit lebih jelas. Hanya dengan disampaikan, semua menjadi lebih bisa diperdebatkan.

Apakah kemudian saya harus mengaku marxis hanya karena membaca buku-buku? Ha, saya saja tidak yakin bisa menjelaskan apa itu marxisme tanpa tatapan tidak yakin dari orang-orang. Percayalah, saya sama buruknya dengan anak SMA dalam belajar sosial. Kehidupan sosial saya agaknya tidak murni, sebagaimana sering saya katakan bahwa saya tidak punya teman.

Dengan semua hal itu, saya ingin mencoba mempertanyakan kembali dari hal-hal paling mendasar sebelum mensintesa segala hal. Apa itu manusia, siapa dia, darimana? Apa itu pikiran? Apa itu peradaban? Bagaimana transformasi peradaban yang paling panjang dan evolutif? Bilamana masyarakat tercipta, dan bagaimana prosesnya? Apa motifnya?

Semua campur aduk pertanyaan itu berbaur di kepala saya sepanjang waktu, demi mempertanyakan kenapa saya mengalami keterlemparan di era ini, di masa pemikiran ini, di tren ini, di waktu ini, dan seterusnya.

Tanpa tahu kapan dimulai dan akan berakhir, mari sama-sama berdoa untuk peradaban yang lebih manusiawi.

wordsflow

Advertisements