(tidak usah dikasih judul)

by nuzuli ziadatun ni'mah


Meninggalkan Jogja dalam sebuah perjalanan panjang tampaknya adalah sebuah pilihan yang cukup tepat untuk saya lakukan dalam beberapa minggu terakhir. Memang tidak sepenuhnya saya terpisah dengan dunia tempat saya tinggal. Teknologi telah mampu memutus jarak yang ada, dan menyingkat waktu, serta menyimpankan memori yang kita butuhkan untuk mengingat kembali. Teknologi menyadarkan pada fakta bahwa di hari ini waktu tidak mengendalikan manusia seutuhnya, meskipun kita masih saya bertanya-tanya tentang kematian. Di beberapa tempat bahkan kematian sudah tidak lagi menjadi sebuah misteri secara menyeluruh, kajian tentang kematian dan dunia metafisik sudah begitu banyak dan membanjir di dunia ini.

Lalu apa lagi yang masih menjadi rahasia jika semua hal itu sudah mulai dipahami dan terus menerus coba ditelusuri?

Pertanyaan tersebut sebenarnya tidak bermula dari sana. Adalah ketika berkonfrontasi dengan masyarakat di lapangan, saya dihadapkan pada fakta bahwa selama ini saya terlalu naïf melihat begitu banyak hal yang terjadi di masyarakat, apalagi terkait fenomena dan konflik sosial. Saya ketagihan mengkaji manusia, meski masih begitu enggannya saya meyakini metode-metode psikologi untuk mempelajari manusia. Mungkin karena selama ini saya melihat ‘ilmu psikologi’ yang ‘demikian’ sehingga saya sulit untuk mempercayai ilmunya, hahaha. Enggak ding, karena sejujurnya saya belum kenal ilmu psikologi itu seperti apa.

Sebenarnya saya sedang mencoba untuk mengkaitkan beberapa teori yang sudah begitu umum digunakan terutama dalam kajian sosial kontemporer. Saya suka gaya-gaya analisis ala Marxian, meski masih belajar teori-teori turunannya yang sepertinya sudah sebegitu bercabang bagai anak sungai. Sudah begitu, kajian etnosains sedang banyak dipelajari di dunia antropologi, dengan fenomenologi sebagai dasar epistemologinya, meski etnosains tidak sungguh berakar dari fenomenologi. Lebih dari itu, psikoanalisis juga menjadi kajian yang begitu ‘nyata’ untuk mendeskripsikan individu-individu. Entah saya akan dibilang mendua, meniga, atau seterusnya, saya tidak ambil pusing, yang penting semuanya dapat saya gunakan untuk memahami manusia yang saya temui, saya lihat, atau yang berhubungan dengan saya.

Apa lagi guna semua hal kalau meniadakan manusia dalam kajiannya? Bumi saja ketika tidak ada manusianya hanya sekedar materi, tata surya kalau tidak memberi pengaruh pada keberlangsungan bumi tidak penting untuk dipelajari, dan semuanya-mua tidak akan berpindah atau menjadi penting ketika tidak berhubungan dengan manusia. Saya memang agak egosentris, tapi memang begitu dasar setiap pembelajaran. Setiap hal dipelajari ketika menjadi kebutuhan.

Saya melihat bahwa manusia adalah sesuatu yang tidak akan pernah stabil, karena stabilitas manusia berarti matinya jiwa dan hanya menyisakan manusia sebagai sebuah mesin bergerak, entitas terprediksi dan tidak lagi menarik untuk dipelajari. Maka ketika kita menjadi manusia yang labil, kita masih manusia. Berbanggalah dengan keadaanmu.

Memahami manusia menjadi babak baru dalam setiap hidup, menyisakannya menjadi pekerjaan yang tidak pernah ada usainya. Kecil bertengkar dengan saudara dan teman sebaya, remaja mengenal kedewasaan, pemuda mencari identitas, dewasa memikirkan keluarga, mendidik anak, bergumul dengan perubahan jaman, dan akhirnya menghadapi kematian. Anehnya, dari begitu banyaknya manusia, semuanya mengalami dengan cara yang berbeda, berdialog dengan cara yang berbeda dengan diri sendiri, dan menggunakan logika yang berbeda dalam menanggapi. Setiap perbedaan itu memberikan friksi, menciptakan konflik, membentuk konflik, mencoba menemui solusi atau jalan tengah, dan seterusnya-seterusnya. Aneh kemudian saya kira, ketika masuk ilmu sosial dan merasa salah jurusan, padahal telaah sosial adalah pe-er kita hingga mati.

Begitu berbedanya manusia juga membuat paradigma yang diyakini tidak kemudian bisa mendeskripsikan setiap manusia atau fenomena sosial yang kita temui. Menguasai semua paradigma memang terlalu ambisius, tapi percayalah, hal itu yang dibutuhkan karena antara manusia yang tumbuh di lingkungan dan lahir dari keluarga yang sama pun akan dapat sangat berbeda cara berpikirnya. Di sini saya yakin, logika belum mati, dan altruisme masih tetap ada dalam bentuknya yang berbeda-beda. Hal-hal yang sudah di-‘mati’-kan oleh filsuf dan para ahli sosial sebenarnya masih berkeliaran dalam kelompok-kelompok kecil manusia, berkelana dalam pikiran-pikiran manusia sebagaimana meme merajalela di dalam diri manusia-manusia. Lihatlah bagaimana cara manusia berdebat di hari ini, hehehe. Atau bagaimana diri kalian menolak ide saya mengenai hal-hal yang saya tuliskan di blog ini. Hehe, seru ya.

Agaknya, saking serunya manusia dan segala hal yang melingkupinya, saya menganggap bahwa setiap manusia adalah subjek yang butuh untuk dipahami, dan begitu pula cara menemukan diri sendiri. Sebegitu tenangnya kita nantinya ketika mampu mendefinisikan diri sendiri, dan memahami apa yang sedang terjadi dengan diri sendiri. Kadang memang akan selalu ada yang mengganggu, dan memang begitu cara perubahan menyentuh kita, terima saja, yang penting kita mampu menyadari apa yang sedang terjadi.

Ah, saya mulai mencerahami pembaca-pembaca yang budiman, maafkan.

Ini hanya sebuah upaya untuk melerai rindu saya pada catatan harian saya di blog ini. Rasanya sudah begitu lama saya bersentuhan dengan tuts laptop dan tidak mengetik dengan sebahagia ini, meskipun topik yang saya bahas tidak pernah terlalu penting. Ah, kepentingan juga relatif terhadap prioritas dan logika masing-masing orang, terkadang terhadap kondisi sosio-ekonomi-politik mereka. Setidaknya, ketika masih sulit untuk memahami manusia, kita sudah bersahabat dengan diri sendiri dan mampu melihat bagaimana diri kita di dalam lingkungan sosial. Jika belum, mari berupaya bersama-sama, semua orang melakukannya kok.

Selamat bermalam Minggu, selamat merindu.

wordsflow