Tentang Tanah

by nuzuli ziadatun ni'mah


Maafkan karena pembahasan saya yang selalu kembali ke hal-hal yang saya resahkan. Ini akan menjadi tulisan pertama saya tentang jalan-jalan kecil saya ke Paninggaran, dimana untuk pertama kalinya saya mencari info atas nama penelitian. Beban berat yang sampai sekarang saya resahkan, bahkan ketika saya yakin telah mencapai kesimpulan yang cukup beralasan.

Suatu ketika saat saya belum resmi menjadi mahasiswa, seorang teman pernah mengatakan, “setiap tindakan manusia selalu didasarkan pada kondisi sosio-ekonomi-politik mereka”. Katanya juga, “kamu nanti pasti belajar tentang agraria”. Dan betul memang, saya pun menjalankan hal-hal yang ia katakan itu, persis sebagaimana ia bercerita.

Tapi, saya harus mengakui berkali-kali, terus-menerus, bahwa saya tidak tahu tentang agraria. Meski hidup di keluarga petani, dan masih rajin nyawah setidaknya sampai saya SMP, sering diceritakan suka-duka menjadi petani oleh simbah dan saudara-saudara jauh saya, harus saya katakan bahwa saya pun belum pernah ‘menjadi’ petani. Hal tersebut menempatkan saya tidak sebagai pelaku, tapi hanya orang yang kebetulan tahu.

Saya mencoba membaca banyak buku, bertanya ke banyak tempat, dan akhirnya memaksakan diri melihat dan bertanya langsung pada petani, sebagai upaya untuk memahami. Buku-buku sosio-historis memperlihatkan begitu banyak upaya pematokan tanah, pemberian akses pada satu pihak, atas nama ideologi dan politik tertentu. Apapun itu, nyatanya semuanya memakan korban. Demikian, dinamika sosial menjadi sebuah perjalanan konflik yang tidak berhenti.

Banyak pihak yang terus menerus berada pada posisi paling dilematis di dalam masyarakat dan lingkungan sosialnya. Pihak-pihak ini yang mendapat ancaman paling besar, dan berada di posisi yang paling rawan. Konflik, demikian tidak bisa hanya dilihat sebagai urusan dua pihak yang berada pada kutub ekstrem, namun merupakan serangkaian proses yang panjang dan dialektis. Meski demikian, di dalam proses pun, ada tindakan strategis dan taktis yang mana sepertinya jarang diperhatikan. Tindakan strategis menempatkan kondisi historis sebagai basis pengambilan keputusan, sedang tindakan taktis pada kondisi darurat kala itu.

Penjelasan lebih lanjut tentang ini tidak bisa saya tuliskan sekarang, karena tulisan ini hanya saya ketik melalui ponsel pintar saya. Sementara, menulis serangkaian gagasan yang runut membutuhkan waktu dan laptop.

Konflik agraria, menempatkan tanah sebagai hal yang paling penting untuk diperdebatkan. Apakah kepemilikan atau hanya akses, apakah penggunaan atau pengambilan, dan seterusnya. Pembahasan mengenainya telah dimulai sejak pertama kali petani dijajah oleh penguasa-penguasa di tanah hidup mereka.

Saya tidak sedang berusaha untuk mengajak mendukung petani secara buta. Pun kiranya saya tampak fasis, saya tak merasa perlu meminta maaf pada siapapun.

Ketika saya membicarakan fenomenologi di postingan-postingan sebelumnya, sebenarnya saya ingin mencoba mengatakan bahwa setiap manusia memiliki sistem pengetahuannya sendiri. Perkara itu bertentangan dengan manusia lain, itu memang manusiawi, tapi kesepakatan kolektif yang akan mengatur mereka. Maka, pertanyaan ‘bilamana sebuah masyarakat tercipta’ menjadi sebuah pertanyaan yang luar biasa sulit untuk dijawab bagi saya. Jawabannya dapat digunakan untuk melihat bagaimana sebuah masyarakat berdamai dengan friksi-friksi yang tercipta.

Kadang, ketika berpikir begini, saya begitu malu. Di luar sana pasti telah ada yang menelusurinya lebih dalam, memberikan kriteria-kriteria, atau bahkan analisis historisnya. Mungkin saya memang belum banyak membaca.

Meski begitu, saya selalu tersadarkan, bahwa saya pun masih tidak mampu memahami bagaimana masyarakat SATUBUMI dapat terbentuk. Padahal kami penuh konflik, berbeda ideologi, dan sebagaimana, namun masih dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat. Bagi saya itu aneh, dan membuat saya meyakini bahwa saya harus menjawab sendiri pertanyaan tadi atas dasar amatan dan partisipasi.

Ah, saya pernah dikatakan terlalu ambisius dalam belajar. Memang, saya mengakui hal itu. Tapi adalah perlu untuk melakukannya saya kira.

Lalu Paninggaran, sebuah kecamatan luas yang asik. Segala hal dapat kita temukan di sini; kehidupan pra kapitalistik yang hampir primitif, atau bahkan geliat modernitas yang ekspansif. Di dalamnya tercampur segala konflik sosial yang mungkin ada, meminta setiap orang berdamai dengan satu konflik dan konflik lainnya, menjadikan setiap individu sungguh-sungguh tidak bisa menjadi hitam putih. ‘Masyarakat’ membuat individu harus mendefinisakan diri mereka sendiri ketika berkehidupan sosial.

Masyarakat yang relatif dan tidak tetap ini dibenturkan pada konsep ‘kepemilikan’ atas tanah yang tetap dan tidak akan berubah secara kuantitas. Mereka limbung dan secara individual menanggapi perubahan dengan cara yang berbeda-beda. Meski tugas kami adalah mencari pola, saya tidak ingin menolak fakta bahwa diferensiasi sosial itu ada, dan terus berubah.

Ah, layar kecil ini membuat saya bingung menyusun kerangka tulisannya. Intinya, saya memang belum sungguh mampu berpijak dan masih terus mencari. Memang tidak mencari kesempurnaan, bahkan membuat teori sosial yang adiluhung. Tidak. Saya juga manusia biasa. Cuma, kalau tidak dituliskan, saya merasa yang saya pikirkan menjadi tidak berguna.

Saya sudahi dulu, sembari berharap Jum’at segera tiba. Sampai jumpa.

wordsflow

Advertisements