tentang cerita yang kukarang tentang kita dan kereta

by nuzuli ziadatun ni'mah


Begitu aku tersadar, jam di tanganku memperlihatkan dua jarum yang telah saling berhimpit. Kupikir, memang menggunakan jam tanpa jarum detik membuatku lebih awas akan waktu, setidaknya begitu mula-mulanya. Tapi kali ini aku meleset. Aku masih saja duduk menunggu kedatanganmu bahkan ketika aku bisa merasai petugas kereta sudah mulai mengatur pintu-pintu kereta untuk menutup jauh di stasiun sana, lantas memberi tanda bahwa kereta siap diberangkatkan.

Sementara, aku tetap terpekur menunggumu datang, entah untuk apa.

Meski yakin kereta telah beranjak pergi, toh aku tetap melangkah menuju stasiun, seolah masinis sudah tahu aku akan datang terlambat, atau jadwal kereta terlambat. Ah, kereta tak punya alasan terlambat karena ban bocor, seperti alasanku saat mencoba menghindarimu, atau bahkan ketika mencoba menarik simpatimu. Tapi itu dulu, ketika aku tidak siap dengan kata dan kalimat. Atau ketika aku menduga terlalu banyak.

Kupikir, kini aku lebih tahu tentang yang salah dari cara berpikirku, atau bagaimana cara berpikirmu. Sepertimu juga, aku banyak menebak tentang hal-hal yang sebenarnya aku tidak tahu. Lebih-lebih tentangmu! Aku banyak menduga, atau bahkan berharap menghabiskan banyak waktu bertukar pikiran. Tapi aku selalu ingat kemudian, pikiran kita telah dipenuhi terlalu banyak prasangka atas satu sama lain. Menyisakan genangan kalimat yang tenang namun keruh tercemar.

Ketika ingat itu, aku selalu berhenti berharap dan mencoba, merasa yakin akan selalu gagal.

Ketika langkahku mencapai rel kereta, aku berpaling ke kiri dan kulihat stasiun telah kosong. Di barat ekor kereta bergoyang lembut semakin mengecil menuju matahari sore. Benar memang, kereta meninggalkanku begitu saja; membuyarkan imaji tentang masinis yang tahu aku akan terlambat, dan jadwal kereta yang telat. Sebagaimana juga imajiku tentangmu yang terus terurai buyar tak karuan ketika aku sadar jarum jam terus berjalan tanpa kedatanganmu menyertainya.

Aku tak putus asa, kau tahu itu. Katamu aku telah melalui banyak hal, setidaknya pikiranmu berkata demikian. Lantas aku tanpa ragu meng-iya-kan.

Bukankah kita memang selalu saling menduga? 

Kehidupan selalu tampak mudah ditebak di dalam pikiranmu dan pikiranku. Tapi aku selalu tak pernah tahu ke mana kau pergi, atau apa yang meresahkanmu. Begitu juga aku sadar bahwa di pikiranmu, aku tidak seberarti itu sebagaimana yang aku harapkan lewat kata-kata dan dongeng menjelang tidur. Kita tidak berjalan dalam kerangka pikir yang pasti benar, kebenaran realita ada pada penyelewengannya atas rencana-rencana. Begitu getir dan pahit untuk diterima.

Aku sudah lupa kapan terakhir kali berurai air mata. Kuduga di banyak tulisanku ada sekelumit emosi yang sengaja kuselipkan sebagai pertanda, meski aku tak yakin kau mampu menangkap makna sesungguhnya. Ah, sudah berapa lama aku melempar tanda tanpa pernah memahami adakah yang kembali ke genggaman?

Aku tetap berjalan ke stasiun, tanpa resah akan perjalananku yang tertunda. Sejauh ini, mengejar adalah sebuah proses yang kunikmati tanpa merasa tak berguna. Perkara jarak, biar saja. Toh yang menciptakan adalah pikiran-pikiran kita, sementara ia tidak sungguh ada. Aku akan tetap sampai, bahkan ketika kau sudah akan pergi dari sana. Nanti aku akan menyusulmu lagi, menyusuri jejakmu terus menerus. Bahkan saat aku tak menemukanmu pun, aku tak peduli. Sistem di dalam diriku telah akan tahu kapan aku akan lelah, lalu menangis dan mencoba kembali berjalan lagi. Semuanya telah kujalani meski sudah beribu-ribu kali jarum jamku berhimpit satu sama lain.

Ketika menulis ini, entah kau merasa apa. Mungkin tak peduli adalah jawabannya, aku tak tahu. Pun kamu tak akan memberitahuku jika tak kutanyakan langsung kepadamu. Tak mengapa, aku suka mendapat pelajaran dari hidupku yang sering tak berjalan sesuai rencana. Dengannya pun aku dan kamu selalu bisa terus berjalan pergi mengarungi waktu dan hidup.

Saat kutahu masih ada kereta yang mampu membawaku mengejar ketertinggalan, kuangsurkan sebanyak apapun usaha yang dibutuhkan. Aku akan tetap berangkat.

Sesudah itu aku mengenang penggal cerita ini sebagai sebuah babak yang patut diingat. Lantas menambahkan beberapa kalimat tambahan untuk membuatnya lebih filosofis. Bukankah kita sama-sama sepakat, bahwa banalitas pun mampu membawa pada yang filsafati?

Dan begitulah, aku dan kamu hanya jiwa-jiwa yang terperangkap dalam daging, darah, dan tulang. Yang mencoba mencari-cari kedalaman jiwa yang hakiki melalui pencarian dan pemikiran-pemikiran.

Seperti sekarang saat aku duduk membacai hidup. Seperti sekarang saat kamu kukenang sebagai setubuh yang tersenyum senang, namun dirundung resah tak berkesudahan.

wordsflow

Advertisements