tentang suatu masa saat jiwa penuh cita-cita

by nuzuli ziadatun ni'mah


Masih jelas kuingat ketika siang itu si gadis belasan tahun mondar-mandir penuh keraguan di Harmoni, mencari-cari jalur bus yang bisa membawanya ke Embassy of Japan. Suatu keputusan yang luar biasa menggairahkan, bahkan di kala Jakarta menyengat dengan panasnya.

Anak kecil yang dulu gemar menyisihkan uang jajannya untuk meminjam komik, atau merelakan uang hasil menulisnya untuk membeli beberapa cerita detektif, akhirnya mencoba mendekati impiannya; kuliah di Jepang. Ada saat-saat di mana ia menginginkan sekolah tanpa biaya orang tua, tapi status pegawai negeri keduanya membuatnya tak bisa mendaftar beasiswa apapun. Dan di suatu waktu, kesempatan untuk meraih hal itu tiba, meski selama 2 bulan setelah tes terakhir ia sudah mencoba merelakan entah impian apapun yang ia bayangkan soal beasiswa.

Ragu ia melangkah keluar bus ke halte yang panas dan pengap. Orang-orang tampak berlarian menuju bus yang baru saja ia tinggalkan. Gedung-gedung tinggi dimana-mana, dan hari yang panas membuatnya takut melangkah ke bangunan berpagar tinggi dengan kawat bergerigi. Itu menakutkan, meski ia tahu ia sangat ingin masuk ke bangunan itu; Embassy of Japan.

Busku melewati gedung itu begitu saja. Membuatku tersenyum kecil mengenang gadis belasan yang pernah gemilang mencoba mengejar cita-citanya kuliah di Jepang. Sebuah harap yang begitu jauh untuk gadis kecil yang sekolah dasarnya saja bahkan telah tiada di hari ini, menyisakan gedung tua yang tak lagi dikenang. Sekali lagi, sekolah di luar kabupatennya yang datar dan berjalan lambat adalah sebuah hal yang berada di luar realitas yang dikenalnya.

Sampai akhirnya hari itu sungguh datang. Hari dimana ia mengemasi barang-barangnya dan ia sadar, ia akan jauh dari keluarganya setelah keberangkatan busnya ke Jakarta sore itu.

Ah, surat penerimaan kemudian tak pernah ia terima, dan upaya percobaan gagal sejak dalam rencana di tahun depannya. Demikian, si gadis belasan bertambah umur menjadi dua puluhan. Meninggalkan mimpi-mimpi dan imaji siang bolongnya mengenai kuliah di luar negeri. Di hadapannya kemudian sering kali hanya ada sebuah buku atau layar berkedip yang telah terisi tulisan-tulisan.

Seperti yang kulakukan di hari ini, selepas menyalami temanku yang akan kembali ke Jepang malam nanti.

wordsflow

Advertisements