tentang suatu sore yang tetiba menjadi muram

by nuzuli ziadatun ni'mah


Saya sesungguhnya tidak lelah, bahkan jika kau mencoba mengajak saya berkeliling Jogja pun saya akan tetap bersedia tanpa protes, tanpa keluhan. Lihatlah bagaimana saya mendapat kemewahan akan waktu yang tersedia sangat banyak, ruang yang lebar, cuaca yang baik, badan yang sehat, atau bahkan nasib yang terlampau indah. Tidak ada yang kurang untuk saya, bahkan hati saya tidak sedang terluka atau mengalami suatu apa.

Hanya saja, entah bagaimana tidak ada hal yang ingin saya katakan pada sesiapa di waktu ini. Tak ada perasaan aneh, hanya bibir saya yang seolah tidak ingin berucap suatu apa. Dan bahkan ketika mengetik ini, rasa aneh ini tetap tak mampu saya usir pergi, dan tak ada dorongan untuk menampakkan diri seolah sedang berbunga-bunga.

Tetiba saya merasa dihantui kematian.

Saya ingat semalam ketika raga saya terduduk di kereta menuju Jogja, ada suatu perasaan yang seolah mencerabut segala kesadaran saya, membuat saya harus membayangkan bagaimana rasanya mati. Bagaimana kiranya, rasanya mati?

Sudah cukup lama saya merasa tidak menulis sesuatu yang terlalu berguna untuk orang lain. Topik di tempat ini selalu saya ulang-ulang seolah saya belum pernah menuliskannya. Saya tidak mencoba untuk meng-upgrade diri, dan tidak menuntut diri untuk melakukannya. Apakah kemudian saya harus mengakui bahwa saya mengalami stagnasi yang lain, saya tidak tahu. Hanya merasa enggan untuk berkata-kata terlalu bermakna.

Sesungguhnya, ada perubahan cara penulisan saya selama beberapa hari ini. Hal ini tentu saja harus saya akui karena pengaruh novel-novel yang saya baca. Setiap selepas selesai membacai cerita-cerita, saya akan terus menggumamkan cerita saya sendiri di dalam pikiran, mengulang-ulang, merangkai, dan berupaya membuat sebuah rangkaian kalimat yang cukup pantas untuk dipublikasikan di blog ini, atau di suatu buku nanti.

Ketika kemarin akhirnya saya kembali ke Jogja setelah dua minggu di desa, saya menyadari bagaimana cara waktu bekerja. Dalam perjalanan pulang, saya sadar bahwa setiap detik, atau entah satuan waktu terkecil apapun, menyatakan bagaimana segala hal bekerja. Tidak ada sesuatu yang bisa terjadi secara bersamaan pada satu manusia. Ia akan mengalami sesuatu secara berurutan, dan perubahan urutan itu akan memberikan dampak yang berbeda. Kenyataan ini pernah membuat saya membayangkan tentang saudara dunia paralel saya yang mungkin tidak suka mengetik seperti saya, tidak semurung saya, dan tidak sedang duduk di emperan Satub seperti saya. Mungkin dia di sana berhasil kuliah di negeri bambu sana, tidak bertemu orang yang membuatnya jatuh cinta sebagaimana saya, dan bisa jadi sudah menikah di umur ini. Entahlah.

Toh pada akhirnya dunia paralel tidak pernah terbukti ada, meski belum juga dibuktikan bahwa ia tidak ada. Yang jelas, hingga hari ini tidak ada hubungan atau komunikasi apapun yang telah tercipta antara saya dan saya-saya yang lainnya di dunia paralel mereka.

Saya sedang tergugah untuk menuliskan kisah hidup saya menjadi sebuah novel kehidupan wanita biasa di lingkungan yang biasa saja. Suatu cerita yang akan membuat saya menjelajahi kehidupan saya sendiri sejak lahir hingga ketika saya menuliskan cerita-cerita itu. Sesungguhnya saya telah mulai menulis kalimat-kalimat panjang tentang kisah hidup itu, tapi saya tak pernah mampu menyelesaikan cerita babak pertamanya; babak ketika si tokoh utama akhirnya menikahi seseorang.

Bahkan sore saya mengetik ini, saya masih merasa suram meski seluruh rencana saya selama 3 minggu terakhir terlaksana secara luar biasa tepat waktu. Laptop yang sudah beres tanpa biaya yang terlampau mahal, destinasi wisata yang telah tamat terkunjugi semua, kuliah lapangan yang berhasil begitu saja, ujian akhir yang berhasil saya selesaikan di luar ekspektasi, nikahan sebaya SMA yang juga berhasil saya kunjungi, atau apapun yang saya rencanakan nyatanya berhasil saya raih tanpa kekurangan. Tak ada yang mengecewakan, kecuali kegalauan saya secara tiba-tiba untuk memilih tema tesis saya nantinya. Sepulang dari kampus, toh saya tetap mendapati tiba-tiba mulut saya terkunci tak mau bicara, tidak menyapa manusia, apalagi memberi senyum pada mereka.

Kini saya sedang menunggu seorang teman, berharap obrolan absurd kami nanti akan tetap berjalan sesuai rencana. Lantas semoga saya mau bicara tentang apapun nantinya.

Saya masih juga terus merangkai kata dalam pikiran untuk kusampaikan kepadamu dalam diam. Tak merasa punya malu betul saya melakukannya, seolah tak pernah kapok akan apapun nanti yang berseliweran di pikiranmu. Tersadar pula akan perbedaan dunia tulis dan lisan saya. Kadang saya bahkan tidak yakin bahwa saya pula yang mengisi postingan demi postingan di blog ini, sementara kata-kata yang sudah tertulis itu masih saya gumamkan di dalam pikiran. Entahlah.

Advertisements