tentang buku harian yang sudah lama saya tinggalkan

by nuzuli ziadatun ni'mah


Selama TPL Paninggaran, saya mengisi seperempat hari saya untuk menulis buku harian penelitian tersebut, dan hasilnya, saya merindukan buku harian yang sudah saya lupakan sejak 2 tahun yang lalu.

Sebenarnya buku harian menyimpan begitu banyak refleksi dan curahan hati yang paling dalam, karena selalu saya tuliskan ketika hal itu terjadi saat itu juga. Saya masih sering membaca setiap halamannya, dan bahkan mengingat beberapa penggal paragraf yang sudah saya tulisi di sana. Tapi sebegitunya saya rindu untuk menulis di sana, setiap kali saya membuka dan mengambil pena untuk menulis, saya kehilangan apapun yang ingin saya tuliskan.

Bisa jadi karena sudah tidak ada lagi hal yang menurut saya menarik untuk dituliskan. Mungkin pula karena saya sudah terlampau meragukan segala hal, bahkan meragukan diri saya sendiri. Bisa jadi karena saya tidak mengalami perkembangan pemikiran. Bisa jadi buku harian itu selalu mengingatkan saya pada sesuatu yang ingin saya hindari. Yang manapun, saya tidak mau menelusuri. Yang pasti ketika saya berusaha, saya akan berakhir dengan menutupnya tanpa menorehkan kata apapun di sana. Sudah begitu saja.

Lantaran terkadang saya masih ingin mencurahkan sesuatu, kemudian blog ini menjadi medianya. Rasanya agak aneh, menjadi begitu terbuka atas catatan pribadi, namun juga merasa begitu menipu diri karena sejak dituliskan saya meniatkan catatan ini untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri.

Ada hal yang saya rasa begitu berbeda antara saya yang menulis dan saya yang bercerita. Ketika menulis saya selalu terpaku pada idealita. Saya membayangkan sosok ‘saya’ yang lain ketika menulis, seolah saya yang sedang bercerita bukanlah saya yang ada di realita, namun saya yang ideal menurut saya. Sedangkan ketika bercerita, akhirnya saya menggunakan pengalaman indrawi sebagai refleksi dan metode penalaran. Terkadang, saya mendapati bahwa yang saya ceritakan di catatan ini berbeda dengan cara saya bertutur.

Dari sana, saya mulai berpikir bahwa setiap dunia memiliki karakternya sendiri.

Ada banyak saya di dunia ini; saya yang kalian interpretasikan sehari-hari, saya yang saya akui ketika bercerita sehari-hari, saya yang ada di blog ini, saya yang ada di buku harian, saya yang sendirian, saya yang ada di dalam pikiran, dan seterusnya. Kesemua saya merupakan wujud yang berbeda, dan kadang saya merasa berpikiran berbeda pula.

Lalu, yang mana saya yang sesungguhnya?

Kesemuanya adalah saya. Saya yang sedang mencari siapa saya yang sesungguhnya. Apakah saya yang menampakkan diri jauh lebih baik dari saya yang menyembunyikan diri? Tidak tentu saja, karena setiap saya yang muncul selalu ada bagian yang tidak saya suka.

Saya tidak suka menjadi orang yang menggurui dan sok ideal dalam tulisan, saya tidak suka kejudesan dan kejutekan saya dalam dunia indrawi, saya tidak suka melankolia saya dalam buku harian, dan seterusnya. Sesungguhnya tidak ada hal yang sungguh ideal dari yang manapun saya yang pernah kalian lihat atau kalian temui.

Manusia selalu berubah setiap waktu, yang mana menempatkan konteks ruang dan waktu menjadi penting untuk memahami bagaimana pemikiran atau perilaku seseorang. Kesulitan saya menjelaskan diri sendiri sering kali membuat saya berhenti sejenak untuk berusaha memahami orang lain. Lha wong saya aja nggak paham sama diri sendiri, mau sok membaca pikiran orang lain.

Banyak orang yang bercerita pada saya, entah rahasia terdalam mereka, kehidupan sehari-hari, kegalauan kuliah, atau apapun. Baik yang berusaha mencari saran, atau memang hanya ingin menumpahkan keresahan. Saya pun menyampaikan hal-hal demikian pada banyak orang, sengaja menunjukkan kesedihan, kemarahan, atau bahkan rasa cinta pada beberapa orang. Begitu membingungkan terkadang, ketika kesadaran atas tindakan tersebut muncul belakangan, setelah saya melakukannya.

Belakangan saya semakin sadar kapan saya sengaja menyakiti orang lain, atau sengaja meninggikan diri sendiri, sengaja melakukan ini atau itu. Kesengajaan itu secara tidak sadar saya tanamkan dalam laku keseharian dan berusaha saya jejalkan dalam pikiran seolah kesengajaan tersebut adalah sebuah tindakan yang wajar. Begitu ada orang yang menghakimi atas kesengajaan itu, saya menjadi begitu resisten dan berulang kali menolak dalam hati, padahal saya tahu saya melakukannya dengan sengaja.

Rasionalitas saya menolak pengakuan atas ketidaksengajaan.

Saya mencoba merangkai sebuah kerangka tulisan yang sudah saya pikirkan sejak di jalan tadi, tentang hal-hal sepele yang mungkin berulang kali menjadi topik hangat manusia yang beranjak dua puluhan. Tapi di tengah jalan saya kehilangan selera, dan saya sulit menjelaskan mengapa.

Saya sedikit mengalami lompatan dan seolah menjauhi realitas dan berulang kali membayangkan bagaimana rasanya mati. Semakin mengganggu ketika saya sekali lagi berada pada ketakutan masa kecil saya, ketika saya tidak mampu menjawab ke mana saya akan pergi setelah mati? Apakah saya akan tetap bisa melihat? Bagaimana rasanya raga saya nanti? Apa itu jiwa? Dan seterusnya. Kala itu saya akhirnya tidak tidur semalaman karena memikirkan hal yang tidak pernah ketemu jawabannya itu.

Sementara itu, saya terperangkap sebagai satu-satunya penonton dunia yang melihat melalui kedua mata saya, dan saya tidak akan bisa berbagi perasaan yang tepat sama dengan siapapun. Di suatu titik, kesadaran itu selalu membawa kepada ketakutan yang sama, yang tak terjelaskan dan terus-menerus datang.

Di waktu ini, saya mencoba tidak mencari jawaban, dan membiarkan diri saya terombang-ambing oleh gerak alam saja tanpa mencoba untuk melawan. Kepasrahan yang dipaksakan meski tidak mampu menerima realitas yang begitu jauh dari idealitas.

Jadi, apa yang ingin coba saya katakan?

wordsflow

 

Advertisements