tentang kegundahan sebuah subjek atas objek

by nuzuli ziadatun ni'mah


Perkara ini suatu saat pernah begitu mengganggu saya hingga saya merasa tak berguna. Kala itu saya menulis begitu banyak tulisan negatif yang dengan rajinnya saya produksi setiap hari, dengan cara penyampaian yang begitu mengganggu hingga sulit untuk mengatakan bahwa saya sehat dan kejiwaan saya sedang tidak terganggu.

Adalah menempatkan diri sebagai sebuah subjek dan bukannya menjadi sebuah objek. Dalam hal ini, subjek saya lihat sebagai sebuah entitas yang aktif, pelaku, pihak pertama, utama, sedangkan objek cenderung pasif, menerima, pihak selanjutnya, dan seterusnya. Perdebatan ini bisa jadi tidak timbul di dalam pikiran orang lain, tapi saya menduga cukup banyak orang yang mengalami kegamangan yang sama meski masing-masingnya mungkin memahaminya dengan cara yang berbeda.

Meski telah begitu lama kegamangan ini saya rasakan, dan telah pula berkali-kali saya mencoba berdamai dan menggunakan nalar rasional untuk menjelaskannya, ada saat-saat ketika hal itu nyata kembali dan memenuhi pikiran saya.

Sebagai seorang individu bebas, dan memiliki kontrol penuh terhadap diri, baik dari pemikiran maupun fisik, saya menganggap diri saya sebagai sebuah subjek. Jiwa yang terperangkap di dalam diri menerima setiap informasi dari indera yang saya punya, menempatkan secara nyata bahwa saya adalah ‘tokoh utama’ di dunia ini. Bagaimana pun saya mencoba untuk menganggap bahwa tidak demikian adanya, toh saya tetap akan melihat dari kedua mata saya, dan menyadari bahwa setiap perasaan timbul dari sistem syaraf dan pikiran saya. Demikian, segala hal di luar diri saya sesungguhnya adalah sebuah rahasia. Dengannya maka hal yang seharusnya saya yakini adalah segala sesuatu yang muncul atau ada di dalam diri saya.

Penalaran yang demikian terkadang membuat saya seolah hanya menonton dunia ketika sedang berkendara, atau menjadi begitu takut dan kalut saat memikirkan bagaimana nantinya jika saya tidak lagi ada di bumi ini? Menempatkan pertanyaan-pertanyaan eksistensial sebagai sesuatu yang mengemuka dan membutuhkan jawaban segera.

Di samping itu, ada kalanya saya menjadi sebuah objek atas subjek yang lebih dominan. Bilamana itu terjadi? Yaitu saat saya menciptakan relasi dengan subjek sejenis yang lain, atau singkatnya ketika saya berhubungan dengan orang lain. Hal ini saya rasai begitu mengganggu ketika saya misal, menyukai seseorang, karena sebagai subjek saya meyakini perasaan itu muncul dari dalam diri saya, merasakan respon-respon aneh (deg-degan, panik, dst), sedangkan hal-hal itu ada di luar kontrol saya, bahkan ketika saya menjadi subjek. Demikian, maka ketika dua manusia saling berhubungan, mereka menempatkan diri baik sebagai subjek dan objek atas satu sama lainnya.

Dualitas itu membuat keduanya juga memiliki kekuatan yang sama atas satu sama lain, memperlihatkan bahwa posisi berimbang itu menawarkan perlawanan yang setara atau relasi yang saling mengisi.

Umpamanya ketika saya merasa menyukai seseorang, ada tuntutan dari diri saya untuk sama-sama menempatkan saya dan lawan saya sama-sama sebagai subjek atau sama-sama sebagai objek. Relasi berimbang itu menunjukkan bahwa hubungan yang tercipta memang sesuatu yang kita inginkan dan kita sadari, karena mampu menempatkan diri di antara dualitas subjek-objek.

Sebaliknya, ketika relasi itu hanya menempatkan saya sebagai sebuah objek semata, dan menegasikan subjektivitas saya sebagai seorang individu, maka relasi tersebut menjadi tidak seimbang. Karenanya seharusnya hal itu disudahi saja.

Kegamangan subjek-objek ini banyak saya terlusuri secara pribadi dalam hubungan pertemanan atau dalam hubungan yang lebih dalam dengan seseorang. Sayangnya, sejauh ini saya selalu menemukan diri hanya sebagai subjek saja atau sebagai objek saja dalam suatu waktu. Tidak ada kondisi dimana saya mampu menjadi keduanya tanpa merasa salah tempat, tanpa merasa gamang harus menempatkan diri sebagai apa.

Ketika kesadaran itu menghinggapi saya, saya mencapai kesimpulan, bahwa sekiranya orang yang tepat sebagai partner saya nanti tentunya orang yang mampu membuat saya tidak melulu menjadi subjek yang terlampau aktif, atau objek yang terlampau pasif. Kedengarannya memang bukan hal yang penting, tapi ada beberapa kejadian yang mengutarakan perasaan itu dengan begitu gamblang, dan membuat saya selalu merasa tidak nyaman.

Dan begitulah, saya sebagai subjek pun adalah objek, dan sebaliknya. Dualitas yang mengganggu itu menciptakan keutuhan saya sebagai sebuah entitas, menggenapkan dan mencipta keberimbangan. Yah, setidaknya saya pikir begitu.

wordsflow

Advertisements