tentang media sosial yang saya gunakan

by nuzuli ziadatun ni'mah


Saya hampir selalu memikirkan hal ini, meski tidak pernah bersungguh-sungguh untuk mencoba menuliskannya di manapun, bahkan di buku harian saya selama ini. Banyak orang yang sudah sering membahas mengenai bagaimana teknologi merampas realitas yang selama ini ada di hadapan manusia, menempatkan kesadaran realitas sebagai sebuah hal yang sulit untuk dipisahkan dari dunia maya. Keduanya saling berhubungan, bertaut menjadi satu dan membingungkan masyarakat milenial. Saya pun demikian.

Andai, saya tidak mampu mengakses internet atau dunia luar dengan media apapun, saya akan terus menerus terpaku dengan apa yang ada di sekeliling saya, tidak perlu merasa pusing dengan perang yang ada di Timur Tengah sana, atau bagaimana NASA mencoba untuk membangun peradaban di Mars, atau Bruno Mars akan datang ke Indonesia, atau apapun juga, menjadi sesuatu yang tidak lagi penting untuk saya pikirkan. Kelegaan ini kerap kali timbul ketika saya sedang sendirian dan mencoba untuk mengamati dunia sekitar saya. Kegemaran saya duduk dan menghilang di kerumunan memaksa saya untuk mencoba menyadari eksistensi diri di dunia nyata, dunia di mana saya hanya satu saja di antara 7 milyar lebih manusia, dan bermilyar lain makhluk hidup.

Seorang teman yang mendalami S1 Filsafat dan sekarang sekampus dengan saya pernah saya tanyai, untuk apa masuk antropologi. Hal yang saya sebut di atas, adalah salah satu hal yang menjadi perhatiannya selama ini.

Sulit untuk menerima sesuatu berjalan begitu saja ketika telah melihat berbagai hal yang ada di dunia ini melalui dunia maya, menggunakan segenap teknologi yang menciptakan dunia paralel kita sendiri, tanpa harus repot-repot menduga bahwa ada kita yang lain hidup di Bumi yang lain di galaksi yang lain. Dunia maya adalah dunia paralel kita.

Media sosial, kemudian merangkum parameter akan hidup yang kita alami, meski juga harus secara adil saya akui bahwa media sosial membawa kita pada babak baru dalam upaya mengakses jaringan yang luas dan simultan. Jaringan yang tercipta atas keberadaannya luar biasa mengejutkan bahkan hampir tidak dapat diputus tanpa kesadaran penggunanya untuk memutus jaringan itu. Semakin luas jaringan yang kita ciptakan atau menyeret kita masuk ke dalamnya, semakin kompleks cara kita melihat segala sesuatunya.

Di antara semua media sosial yang saya gunakan, sejauh ini saya paling menikmati menggunakan Twitter meski pernah saya tinggalkan selama bertahun-tahun. Saya ingat bahwa akun-akun itu, Twitter, Facebook, Tumblr, WordPress, dan pernah Blogspot adalah akun-akun yang saya buat pada kurun 2009-2010 yang hingga hari ini masih saya gunakan dengan peran yang berbeda-beda tentu saja. Akun-akun setelahnya praktis hanya saya coba gunakan dan kemudian saya tinggalkan karena membosankan.

Apa kesamaan dari akun-akun yang hari ini masih bertahan? Kesemuanya merupakan platform berbasis teks; hal yang paling saya sukai dari sebuah publikasi. Sebenarnya saya terobsesi untuk menjadi orang yang sadar akan kebutuhan dokumentasi, berkeinginan sejak lama untuk memiliki kamera sendiri dan membuat catatan berdasar dokumentasi yang saya buat, baik dalam bentuk foto maupun video. Tapi bahkan hingga hari ini saya tidak cukup mampu bertahan untuk menjadi orang yang sadar akan sudut foto yang bagus atau momentum yang tepat untuk memotret.

Menemukan saya pada platform yang berbeda akan membawa pemahaman yang berbeda pula pada karakter seorang saya. Sebagaimana saya mencoba untuk memahami beberapa orang yang saya inginkan dengan mengintip akun media sosial mereka, maka saya pun menduga pernah ada orang yang mencoba melakukannya pada saya. Karena itu, mari saya pandu, hehe.

Saya tipe orang yang membagi-bagi hal yang ingin saya bagikan kepada publik, dan media sosial membantu saya mengkategorikan hal-hal itu. Alasan ini yang membuat saya tidak pernah mempublikasikan hal yang sama pada dua akun yang berbeda, dengan pertimbangan bahwa jaringan yang saya masuki adalah jaringan yang sama, sehingga tidak perlu mengulang-ulang mempublikasikannya di akun yang berbeda.

Saya harus memberi pujian sebesar-besarnya atas kesuksesan blog ini bertahan hingga hari ini, meski saya sudah mengulang kalimat ini berkali-kali. Hanya di tempat ini lah saya terus konsisten menulis tanpa merasa terganggu, dan selalu konsisten mempublikasikannya melalui tautan di Twitter (secara otomatis). Kombinasi keduanya membuat saya merasa tempat ini eksklusif, hanya bisa dimasuki oleh saya, dan saya pula lah yang memiliki kontrol penuh di dalamnya. Saya menjadi pemilik utuh atas tempat ini.

Kadang saya tergugah untuk menulis di Facebook sebagaimana teman-teman saya melakukannya. Tapi kemudian saya sadari bahwa terlalu banyak orang di jaringan itu, membuat tulisan saya hanya akan menjadi sesuatu yang terlewat begitu saja, meski sudah saya tulis dengan sungguh-sungguh. Selalu saja saya kembali pada blog ini ketika berkeinginan untuk menulis sesuatu yang panjang. Mungkin, karena sejak semula saya pun lebih suka menghidupi blog dibandingkan dengan akun media sosial. Eh enggak juga ding, lebih tepatnya saya suka melihat tulisan saya tetap berasa eksklusif meskipun isinya biasa saja.

Yang paling mengganggu dari semua itu, adalah munculnya Instagram ke jagad dunia maya, dan menarik perhatian berjuta manusia untuk membuat akun dan menjadi bagian darinya. Tidak terkecuali saya.

Berbeda dengan kebanyakan akun lain, IG menuntut kita untuk harus memiliki foto dahulu sebelum bisa menuliskan caption apapun. Kemunculannya meningkatkan kebutuhan akan foto yang bagus, baik dengan kamera digital maupun kamera handphone. Teknologi bertransformasi menuju ke sana, dan menciptakan semakin banyak kelas gadget. Harus saya akui bahwa IG membius banyak orang secara luar biasa. Semisal saya, tempat itu adalah tempat saya berdagang, berhubungan dengan orang, kepo kehidupan orang lain, membeli barang-barang yang sulit saya cari di sekitar sini, mencari inspirasi, curhat, dan segala kenikmatan lain menonton video memasak, bahkan video bencana. IG merangkum segala kebutuhan eksistensi di dunia maya.

Jika harus menguraikannya satu per satu, saya kira akan sangat panjang terutama implikasi atas kemunculannya pada bagaimana cara kita melihat standar-standar yang disepakati di masyarakat. Satu kesimpulan kecil yang saya tarik dari munculnya IG adalah kekuatan kamera bisa mengalihkan realitas yang sesungguhnya, dan dunia maya dengan sukses mengalihkan manusia dari realitas itu. Yah, Baudrillard telah dengan cukup jelas menjelaskan fenomena itu. Hanya saja, tanpa mencoba mendalami maksudnya, teori akan hanya menjadi teori saja, dan demikian memberikan jarak pada realitas yang diteorikannya. Untuk itu, tugas kita bersama menjatuhkannya pada pengamatan kita atas hidup yang biasa saja.

Dan, belum lagi jika kita bicara media. Haduh, nanti saja yak. Mau KRS-an dulu.

wordsflow

Advertisements