terntang percakapan antara saya dan benda-benda

by nuzuli ziadatun ni'mah


Percakapan ini saya rekam dalam ingatan siang tadi, ketika mobil yang kami tumpangi melintasi jalan tol Semarang-Bawen yang sungguh sangat mampu menyingkat waktu perjalanan dibandingkan apabila kami harus melintasi jalan raya Jogja-Semarang. Sebenarnya sejak pertama kali saya melintasi jalan tol di tanah Indonesia ini, saya selalu terkagum-kagum dengan ketertiban dan keindahan yang ada di sekelilingnya. Sederhana saja, karena di jalan ini semua mobil melaju seolah dengan kecepatan yang sama, setiap sopir memahami bagaimana cara berkendara yang baik dan benar, jalan yang begitu lebar, aspal yang halus, dan kamu nggak akan menemukan ada tukang jualan (meski memungkinkan) atau hal-hal yang mengganggu lalu lintas. Sembari berharap mungkin kelak jalan-jalan akan selebar jalan tol, mobil-mobil bergerak cepat sebagaimana di jalan tol, dan sebagainya. Tentu saja tanpa membayar.

Tol Semarang-Bawen sangat menarik hati saya, lebih karena saya tidak mampu membayangkan bagaimana konstruksi dasar jalannya hingga mampu membelah perbukitan yang demikian. Terlebih, hanya ada sedikit jalan layang yang melintang di atas jalan tol, serta di banyak tempat jalan tol berdiri di atas jembatan, dalam artian konstruksi jalannya melayang. Jelas sebenarnya, jalan tol adalah ruas jalan yang ditujukan untuk masyarakat kelas menengah ke atas, kelas yang mampu membeli waktu, dan merelakan uangnya untuk menukarnya dengan waktu. Bahkan jika nantinya waktu yang dibayar hanya digunakan sebagai waktu istirahat, yang pasti kelas ini mampu membeli waktu.

Sembari membaca Camus dalam Mati Bahagia, terutama pada bab di mana Zagreus mengatakan bahwa butuh uang untuk bahagia, karena uang mampu membeli waktu, saya semakin tersadar bahwa begitulah cara segalanya berjalan. Waktu luang tetap menjadi hal yang mewah sejak era primitif, dan waktu luang membawa pada berbagai perkembangan peradaban. Filsafat, teknologi, bahkan pariwisata muncul dari adanya waktu luang. Tidak mengherankan kemudian, jika waktu luang masih menjadi tema yang penting dalam studi antropologi.

“Sistem e-money piye sih Mbak?” begitu adik saya bertanya. Saya menjelaskan secara singkat bagaimana uang diubah ke dalam wujud digital, dan mampu menggantikan segala bentuk transaksi sebagaimana yang mampu dilakukan dengan uang tunai.

Hal ini kami bicarakan karena mencoba jalur GTO (gerbang tol otomatis) yang menggunakan e-money. Jalur tersebut tentu saja sepi, karena tidak semua menggunakan e-money untuk membayar tol. Karenanya kami memutuskan untuk menyambut keuntungan jalur yang sepi itu dan menggunakan e-money. Saya ingat membeli kartu e-money di Stasiun Senen, mungkin 2-3 tahun yang lalu, saya lupa itu kapan. Ketika itu Trans Jakarta sedang mengubah metode pembayaran dengan menggunakan e-money. Demikian, maka pengguna yang hanya sebentar seperti saya tetap harus membeli kartu e-money agar saya bisa naik TJ. Begitulah kira-kira bentuk pemaksanaan itu diterapkan.

Jika kemudian dikaitkan dengan terminologi “kekerasan” yang baru-baru ini diramaikan, saya kira hal yang saya paparkan di atas juga merupakan salah satu bentuk kekerasan struktural. Bedanya, kekerasan ini begitu terstruktur dan tersistem sehingga pihak pengatur atau perumus kekerasan tidak akan berhubungan secara langsung dengan objek kekerasannya. Saya nggak mau berpanjang lebar menjelaskan, sekiranya saya tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk mencoba mendekonstruksi dan merekonstruksi “kekerasan” itu sendiri.

Apakah saya rugi dengan pemaksaan itu? Ya dan tidak.

Ketika saya belum memiliki kartu ajaib itu, akan membutuhkan waktu sekitar 3-5 menit hanya untuk masuk ke halte TJ karena harus membeli tiket, membayar dan mungkin menunggu kembalian, lantas memasukkan kartu ke mesin. Dengan e-money, saya tidak lagi harus antri untuk membeli tiket dan membayar, atau bahkan kelimpungan mencari uang pas. Kartu itu bisa menggantikannya dengan mudah, hanya butuh meletakkan si kartu dan voila! saya masuk begitu saja dengan sah ke dalam halte dalam kurang dari 1 menit. Tentu saja, untuk kemudahan itu ada harga yang harus saya bayar. Demikian pula, ada bentuk keterikatan dan ketergantungan (dependence) baru yang saya miliki.

Balik lagi ke topik perjalanan siang tadi.

Saya membayangkan bagaimana tanah dan pepohonan di sekitar jalan tol berdialog tentang perubahan di sekitar mereka. Bagaimana tanaman-tanaman yang tumbuh di bawah jembatan dan kekurangan cahaya? Bagaimana tanaman yang dipaksa pindah di sekitar jalan dan harus menghirup CO2 yang dihasilkan kendaraan-kendaraan? Bagaimana tanah yang dipapras, dipotong, dipindahkan, untuk memudahkan konstruksi jalan tol? Bagaimana semua perubahan itu dihadapi oleh sekian makhluk yang berhubungan dengannya?

Meski itu bukan percakapan penting, dan bahkan dialog yang saya imajinasikan tetap serupa dongeng, tapi saya kira munculnya jalan tol membawa perubahan besar pada lingkungan di sekitarnya.

Ketika kami berhenti di rest area, tampak begitu jelas bagaimana padat modalnya jalan tol sebenarnya. Tempat istirahat itu bukan hanya menawarkan tempat makan berkualitas, namun juga fasilitas umum yang memadahi. Tentunya dengan dasar pemikiran bahwa perilaku masyarakat jalan tol tidak akan sebarbar masyarakat di pasar misal (ya ampun, kalimat sombong banget ini). Tapi kuncinya ada di padat modal itu, di mana saya mencoba menjelaskannya dalam bentuk percakapan absurd di pikiran saya.

Tanah tentu akan merasa bahwa dirinya diperlakukan dengan lebih baik ketika ada jalan tol di atasnya. Dirawat dengan baik, ditanami hijauan yang bervariasi, dan tidak dikencingi sembarangan karena sudah ada rest area di beberapa spotnya. Bahkan ia menjadi objek foto dan objek kekaguman pengguna jalan. Menanggung beban yang cukup berat, meski tidak berlebihan. Bukankah ahli sipil itu sudah menghitung beban yang akan dia tanggung?

Meski pohon-pohon kekurangan tempat, atau jumlahnya berkurang, ia tetap ditanam kembali di sekitar tanah-tanah yang kosong di sepanjang jalan tol. Ditata sedemikian rupa hingga menjadi indah seolah alami. Beberapa bahkan dibuat menjadi taman yang cantik di antara restoran-restoran mahal di rest area.

Bangunan di rest area banyak yang bagus, semuanya bagus dan bersih. Parkiran pun rapi dan tertib. Ah, ada kotoran yang tertinggal di sana. Tenang, kita bisa membayar orang untuk tetap membuatnya bersih. Kalau kotor lagi? Kita akan membayar lebih banyak orang, memecat yang kerjanya tidak beres, dan mengambil orang baru. Tinggal dipastikan semuanya berjalan dengan baik. maka akan semakin banyak orang yang datang, dan tetap bersih. Dengan uang itu kita bisa membayar tukang bersih-bersih, dan begitulah, segalanya menjadi baik-baik saja.

Percakapan di dalam pikiran saya sesungguhnya lebih panjang, tapi saya malas menulisnya. Intinya begitu. Bangunan-bangunan atau rumah yang kotor memperlihatkan bahwa pemiliknya masih tidak mau menukar uangnya untuk waktu luang. Mereka lebih memilih untuk membiarkan kotoran itu tetap di sana, membuat beberapa orang merasa tidak nyaman dengan keberadaannya. Dan begitu saja, meski ia tidak kehilangan uang dan waktu luang, namun pengunjungnya semakin berkurang. Hanya mereka yang mampu membayar untuk mendapatkan waktu luang yang semakin melangkah ke depan.

Adapun tulisan ini tidak saya maksudkan untuk menunjukkan sesuatu. Saya hanya sekilas mencoba memperlihatkan hari saya yang biasa saja. Mungkin karena saya juga terpengaruh dengan bacaan yang sedang saya baca, bisa jadi. Hehe. Saya sudahi dulu, hari saya terlampau melelahkan, dan esok ada kuliah jam 7 pagi, hadeh.

wordsflow

Advertisements