“Selamat pagi.”

by nuzuli ziadatun ni'mah


Saya tahu, memikirkan diri terlalu lama memang tidak baik, hehehe. Tapi saya tetap mau.

Adalah seni mengabarkan kematian yang belakangan ada di buku-buku yang saya baca. Banyak penulis menceritakan bagaimana kematian datang begitu saja, atau berproses begitu lama, menjadikan hal itu semakin kentara sebagai sebuah nasib dan takdir kita nantinya. Perkaranya tinggal menunggu waktu saja.

Beberapa waktu belakangan, ada perasaan asing yang kembali hinggap di hari-hari saya. Saya sangat tahu penyebabnya, dan memang itu harus dihadapi. Sementara itu, perempuan-perempuan di kelas saya tiba-tiba mengajak berkumpul dan bertukar pikiran ala perempuan. Tentu saja yang dibicarakan tentang pernikahan dan laki-laki. Tidak bisa tidak saya kemudian juga turut berpikir tentang hal itu.

Kadang kala saya memaksa pikiran saya untuk berhenti berpikir tentang masalah hati dan rasa, sayang sekali selalu hanya bersifat sementara. Di saat yang lain saya hanya akan berusaha untuk tidak berpikir terlalu jauh, dan yasudah, nikmati saja hari ini. Ah, narasinya hanya diulang-ulang yak, membosankan. Di hari-hari yang lain, saya memikirkan banyak hal di luar diri secara berlebihan, lalu menuliskan banyak hal yang ada di luar diri itu seolah ia adalah bagian dari hidup saya.

Demikian, saya terus menganggap hidup saya belumlah seimbang. Pikiran saya belum bisa menempatkan dirinya sebagaimana yang diinginkan pikiran saya juga. Nah loh, bingung kan.

Di luar takdir atau nasib yang kita alami, ada rencana-rencana yang melengkapi di baliknya, baik yang dirancang jauh hari, atau yang baru saja diangankan. Rencana menjadi sesuatu yang kita idealkan dan dipegang sebagai sebuah ‘target’. Tapi, selalu dan akan selalu, rencana akan terpotong oleh nasib, atau terpotong oleh rencana yang lebih baik. Rencana-rencana menjadi sesuatu yang terlampau usang, lalu ditinggalkan begitu saja, seolah setelah terpotongnya ia tidak dapat diteruskan atau disambung dengan rencana baru.

Ada hari-hari ketika saya berusaha mengingat cita-cita masa kecil saya, atau kebiasaan-kebiasaan masa kecil saya. Kesukaan saya pada makanan tertentu, buku tertentu, atau pekerjaan tertentu, dan menelusuri bagaimana semuanya itu bisa saya lupakan begitu saja. Lantas menjalani hari seolah tidak pernah lagi punya rencana dan cita-cita.

Sudah barang tentu ada kekecewaan yang menyebabkannya hilang begitu saja. Tapi menulis seperti ini selalu membuat saya merasa malu untuk terus bersikap negatif terhadap diri sendiri, dan mencoba untuk melihat sesuatu dengan cara yang lebih baik. Yang lebih baik itu yang bagaimana? Hemm, yang lebih ceria, hehehe.

Meski tentu saja kita egosentris, karena segala hal yang kita pahami berasal pula dari diri sendiri, tapi kesadaran akan kematian yang tidak dapat dihindari oleh kesadaran dan pilihan, bagi saya sangat menakutkan. Tapi kesadaran itu begitu luar biasa, dan membuat saya menganggap bahwa kesedihan, keterasingan, atau bahkan nasib buruk menjadi semakin tidak berarti. Pada akhirnya saya akan mati seorang diri, menjadi Aku yang lainnya. Mungkin kemudian hidup kembali dan merasakan sekali lagi egosentrisme pada dimensi yang berbeda, atau ternyata, tidak juga; saya hanya akan menuju ketiadaan.

Bagaimana rasanya? Tidak ada yang tahu. Lebih dari itu, rasanya tidak akan mampu terdeskripsi dalam kerangka pikir manusia. Bukankah ketika itu ke-manusia-an kita telah terlucuti?

Ah, melamunkan kematian tidak pernah membosankan. Membuat saya melamunkan siang dan malam, lalu benda-benda, lalu raga, lalu peristiwa-peristiwa, lalu segalanya, hingga akhirnya sadar ada hal-hal yang harus saya kerjakan. Keduanya nyata, kesadaran akan ide dan kesadaran akan materi. Menyebalkan ya, kita terombang-ambing dalam pemikiran yang juga ada di dalam diri sendiri. Tidak heran banyak orang memilih tidak sadar, mabuk, atau bahkan menjadi gila sama sekali. Memang menakutkan menerima ke-manusia-an kita.

Hemm, berhubung pikiran saya sudah lebih tenang, saya sudahi dulu. Deeiii.

wordsflow

Advertisements