tentang gurauan dan drama yang tak kunjung usai

by nuzuli ziadatun ni'mah


Saya benci tidak mampu mengingat kembali kata-kata puitis yang sudah saya rangkai di jalan, atau di kamar mandi, sehingga harus memulainya sekali lagi. Biarlah. Dan mari saja ajak membicarakan cinta, sekali lagi. Meski semakin lama ruang ini menampung semakin banyak sampah, pada akhirnya saya harus tetap menerima dengan lapang, bahwa memang hal ini pula yang menjadi topik paling saya pikirkan hari ini. Mengapanya terlalu singkat untuk saya jelaskan di awal, nanti saya ceritakan sepanjang perjalanan ini.

Sebagaimana yang saya tahu dari begitu banyak cerita cinta yang saya baca, atau begitu banyak cerita dari manusia-manusia di sekitar saya, tetap saja ada kecewa yang terselip di setiap perkara cinta. Sudah barang tentu cinta menjadi hal yang penting, bagaimanapun kita sendiri adalah buah dari persetubuhan di bawah naungan pernikahan. Setidaknya untuk mencapai tahap itu, kamu butuh cinta. Ah, saya lupa skenario saya tadi, hiks hiks.

Baru hari Senin yang lalu saya mendapat sebuah cerita, tentang seorang perempuan yang kehilangan suaminya di hari ke-21 pernikahan mereka, setelah mereka menunggu 12 tahun untuk menikah. Ah, betapa takdir mudah bermain-main dengan manusia yang terlalu banyak harapan dan rencana. Sudah ada di banyak cerita tentang perkara ini, kita melihatnya sehari-hari!

Demikian, saya melihat masalah cinta bukan sebuah perkara yang sepele saja, atau terlampau receh untuk dipikirkan, bagi saya tidak begitu. Kadang saya merasa aneh ketika memikirkan hal ini, ada segurat luka yang tertoreh setiap mengingat hal-hal yang mengecewakan. Kadang begitu lucunya, melihat kita mencintai, tapi tidak ada yang bersaling satu sama lain, seolah kita dipermainkan nasib, atau terlalu bermain-main dengan perasaan orang lain. Saya kira, kita sama-sama tahu, tapi tidak mau menyerah untuk mewujudkan doa-doa, rencana-rencana.

*

Bagi mereka yang terluka, ada pertanyaan tentang yang lampau. Berharap di suatu waktu kenangan-kenangan manis itu kembali menjadi bagian dari kenangan yang hilang. Sedang yang meninggalkan menganggap masa lalu telah usang, dan ia pun terbang pergi tanpa kembali. Sementara manusia-manusia baru berdatangan, saling mencari dalam kerumunan, lalu menemukan degup di dadanya. Tapi yang ditinggalkan tetap mengejar yang telah terbang, sementara semakin banyak yang patah arang di belakangnya. Lalu terus menerus saling berharap, saling mengejar untuk melihat yang pergi meninggalkan. Saling menunggu dimana takdir memotong asa, lalu barisan itu pun bubar begitu saja, semua hancur dalam keputusasaan yang sama.

Setiap cinta dimulai ketika berjumpa, begitu pun kita. Kamu pada perempuanmu, dan aku pada kekasihku. Meski kukira kamu masih terus merasa aku hanya bercanda, atau cerita itu terlampau biasa dan usang. Lupa bahwa setiap rasa keluar dari jiwa yang sebetulnya sama. Seperti halnya rasa yang kau upayakan, atau yang kukira kuupayakan. Dan berkelebat pula tangis dan tawa karena laki-laki yang bisa jadi sama, atau resah atas perempuan yang sama. Kita begitu bergurau dalam menghadapi jiwa-jiwa, seolah tak ingin menyerah begitu saja pada kerasnya jiwa yang kita cinta. Ah, betapa lucunya gurauan kita atas satu sama lain, dan betapa jengahnya kita akan drama-drama yang menyertainya.

*

Saya ingat, sudah lama saya berprinsip bahwa “if you can survive alone, you can survive with whoever you are with.”

Pernah ada momen putus asa yang begitu luar biasa yang saya rasakan. Lebih memukau dari yang bisa saya ingat, dan betapa bangganya jiwa saya atas upaya saya melalui hari-hari itu tanpa menyerah pada nasib buruk (atau setidaknya saya menyebutnya nasib buruk). Di banyak cerita yang saya baca, selalu saja saya menengarai ada dialektika oleh pikiran penulisnya yang sengaja diselipkan dalam setiap kata di sana, lantas mengurai gurat-gurat pemikiran yang tiada strukturnya itu.

Ah, saya ingat suatu kali kita membicarakan pernikahan, entah di mana letak berguraumu, atau berharapmu. Bagi saya selamanya manusia akan hanya menjadi teka-teki saja, begitu pun bahkan setelah kau menikahinya. Maka saya katakan kepadamu, sejauh ini saya selalu yakin bisa mencintai hingga entah kapan nanti. Karenanya saya tidak pernah pesimis tenang pernikahan. Bukankah kau pun tahu bahwa manusia berubah sepanjang waktu, dan di waktu-waktu yang panjang itu seharusnya kita tetap mencari bagian rahasia yang harus dicintai dari manusia yang telah sama-sama kita pilih.

Namun kadang saya begitu sadar, bahwa karena perubahan yang terus menerus itu, kita akan dihadapkan pada banyak pilihan pula. Bisa jadi suatu hari merasa salah menikah, atau sebaliknya sebagaimana yang saya idealkan di atas. Bagi saya, yang manapun tidak lagi menjadi terlalu masalah buat saya. Sejauh tidak ada yang mencoba merobohkan prinsip yang sudah menyelamatkan saya di waktu-waktu putus asa itu.

Belakangan pula, saya dilanda perasaan insecure. Saya ingin segera menikah.

Tapi sejauh menikah masih perkara kesepakatan, masih perkara dua keluarga, masih perkara meminta dan mungkin menampik permintaan, segalanya menjadi tidak sesederhana “saya ingin segera menikah”. Maka saya teruskan saja bergurau dan berdrama ria. Sembari menanti di mana kuasa tak terlihat itu mau memotong nasib saya; pada pernikahan atau pada kematian.

wordsflow

Advertisements