tentang kematian (i): Mati

by nuzuli ziadatun ni'mah


Anak kecil itu tidak tahu bahwa mati artinya tidak lagi mampu bicara, berpikir, memberikan kasih sayang, atau melakukan hal-hal yang ia lakukan. Bisa jadi mungkin memang orang mati itu masih ada di sana untuk memperhatikan dirinya yang masih belum mampu membedakan mana sikat gigi dan sikat sepatu. Singkatnya, anak kecil itu tidak paham bagaimana ‘mati’ itu, sementara si orang mati tidak dapat lagi menjelaskan apa itu mati.

Jauh beberapa jam sebelumnya, si orang mati melihat anak kecil ini sedang memancing di sungai yang penuh sampah. Saking penuhnya bahkan ia mampu berjalan di atas sampah-sampah itu tanpa tenggelam kalau ia mau, tapi ia enggan karena bahkan hidungnya yang masih kecil itu pun mampu mengatakan bahwa sungai itu terlampau bau. Tapi ia tetap mau memancing, lantaran sempat dirinya melihat poster tentang alat pancing paling mutakhir yang ditempel di jalan sejauh dua blok dari tempatnya berdiri kini.

Ia berusaha mengingat-ingat dengan baik bagaimana bentuk alat pancing itu, selama 3 hari berturut-turut sembari membawa alat pancing rancangannya dari kayu bekas sapu yang dite mukannya di tumpukan sampah, dan tali rafia yang dia kais-kais pula dari tempat sampah.

Di hari pertama, rafianya tidak mampu masuk ke dalam air, yang memang tidak tampak sama sekali dari atas! Malahan cuma tertiup angin dan selama seharian ia berusaha untuk mencelupkan si rafia masuk ke dalam air di bawah tumpukan sampah. Dia tidak berhasil. Frustasi karena siang yang terlalu terik, dan es teh yang ia temukan di tong sampah gang sebelah pun sudah habis tak bersisa. Sekali-kali ia melirik ke mobil-mobil di atas jembatan, berharap salah satunya ada yang melempar es teh yang lain ke tepi sungai tempatnya berada. Tapi nihil. Ia menyerah di hari itu.

Sepanjang sore hari itu ia mempelajari poster alat pancing yang ia lihat di jalan sejauh dua blok dari sungainya. Beberapa orang yang melihatnya tampak enggan untuk mendekat lebih dekat dari 2 meter jaraknya. Mereka seolah menganggapnya kotoran bau yang teronggok salah tempat di depan poster alat pancing itu.

Ia kembali ke sungai di hari kedua upayanya membuat alat pancing. Siang itu sama panasnya dengan hari sebelumnya. Beberapa pemulung terlihat sibuk mengambil beberapa barang yang dapat dijual. Maka, si anak kecil kembali termenung di tempatnya terdiam kemarin. Ia sangat yakin bahwa kali ini alat pancingnya akan bekerja. Ia telah mengganti talinya dengan senar yang dengan susah payah ia cari di tumpukan sampah samping sungai, setelah beberapa kali mencoba meminta pada pemulung-pemulung di sana, tapi ia tidak berhasil.

Saat itulah kali pertama ia melihat si calon-orang-mati. Pakaiannya aneh. Tingginya mendekati tinggi rumah kardusnya, dengan kulit yang begitu putih yang tidak pernah dilihatnya. Bibirnya terlalu merah di siang yang seterik itu, dan wanginya seperti wangi melati. Bedanya, melati yang ini baunya agak sangit aneh, mungkin karena bercampur dengan bau badannya sendiri. Ia tidak mengucapkan apapun kepada anak kecil, hanya melihatnya dengan tatapan aneh, lantas berlalu begitu saja.

Begitulah, si anak kecil mengingat si orang mati hanya sebatas itu saja. Esok harinya, pagi hari di hari ketiga ketika ia dengan bersemangat akan menguji coba alat pancingnya, ia melihat si orang mati itu telah tertidur di atas tumpukan sampah di atas sungai. Sekitarnya terdapat warna merah, yang diketahuinya bernama darah karena ia pernah mendapatkannya ketika tanpa sengaja terjatuh di jalan raya. Pasti sakit, pikirnya, dan hebat sekali ia tidak menangis atau menjerit-jerit.

Maka sepagian itu si anak kecil hanya menunggui si orang mati dengan tetap mencoba alat pancingnya. Ia terus memancing sampai pemulung pertama menampakkan diri dan tergopoh-gopoh mendekati si orang mati. Ia mengatakan beberapa kalimat, yang diacuhkan begitu saja oleh si anak kecil. Menurutnya hanya alat pancing itu yang paling penting untuknya.

Tapi hanya dalam waktu singkat, orang-orang mulai berdatangan dan mengganggu acaranya memancing. Beberapa bahkan mengusirnya pergi. Untung sekali baginya karena si pemulung memintanya untuk tinggal, bahkan menggandengnya di sampingnya seolah-olah ia adalah anaknya. Sementara ia tidak peduli, kecuali mempedulikan bahwa orang-orang dewasa itu menghalangi dirinya untuk memancing. Bahkan dengan semena-mena menutup lubang pancing yang susah payah ia buat di antara tumpukan sampah.

Maka ia mencoba marah, tapi tidak ada yang paham bahwa dirinya marah. Yang ia ketahui kemudian, ia dibawa jauh dari sungainya, lalu orang-orang dewasa itu menanyakan sesuatu yang tidak dia pahami, “Jam berapa kamu melihat orang mati itu?” Dengan tidak paham ia bertanya, “Mati itu apa?” Lalu orang-orang dewasa mulai berlomba menjelaskan padanya bagaimana ‘mati’ itu, apa ‘mati’ itu, dan semakin memaksanya untuk menjelaskan siapa orang mati itu.

Betapa takjubnya si anak kecil itu, menemukan bahwa si orang berpakaian aneh dan sangat wangi itu bisa begitu dipedulikan orang hanya karena dia ‘mati’. Dan ia berpikir-pikir untuk menciptakan darah sebanyak itu dengan caranya sendiri, dia akan menjadi mati agar dipedulikan orang-orang dewasa di sekitarnya.

wordsflow

Advertisements