Konsumen Data

by nuzuli ziadatun ni'mah


Mana yang lebih kau pilih? Menyimpan data dalam bentuk foto, tulisan, ingatan, atau yasudah, membiarkannya berlalu begitu saja?

Atau, sebelum ke sana, apakah sebaiknya kita membahas dulu apa itu data? Saya ambil definisi dari Merriam Webster mengenai definisi ini yaa.

  1. :  factual information (as measurements or statistics) used as a basis for reasoning, discussion, or calculation <the data is plentiful and easily available — H. A. Gleason, Jr.> <comprehensive data on economic growth have been published — N. H. Jacoby>

  2. :  information output by a sensing device or organ that includes both useful and irrelevant or redundant information and must be processed to be meaningful

  3. :  information in numerical form that can be digitally transmitted or processed

Demikian, segala hal sebenarnya merupakan data, dan bahkan kalau mau disederhanakan, segala perilaku, segala upaya kita, hanyalah sebuah usaha untuk menghimpun data. Betapa luar biasa kemudian, karena kita memiliki kapasitas penyimpan data yang tidak kecil ukurannya, yaitu memori.

Tulisan ini muncul karena perbincangan saya dan beberapa teman di bonbin tentang perubahan gawai yang belakangan semakin canggih. Menurut seorang teman, ada temannya yang bahkan sengaja membeli handphone seharga 7 jutaan, namun secara intensif hanya menggunakan beberapa aplikasi saja. Pada akhirnya, manusia-manusia milenial membeli barang bukan berdasar akan kebutuhannya, atau untuk mencari benda yang berguna untuk hidupnya, namun hanya sekedar sebuah upaya untuk merasa lebih baik.

Seorang teman lain melempar cerita tentang jalan-jalannya dengan beberapa keluarganya yang kebetulan datang ke Jogja. Singkat cerita, teman saya ini seorang film maker, dan karena dia sering membawa kamera ke mana pun ia pergi. Dalam kegiatan jalan-jalan itu, saudara-saudaranya beberapa sudah pula membawa kamera sendiri untuk mendokumentasikan perjalanan mereka. Tapi betapa mengejutkan, karena jalan-jalan itu akhirnya hanya sebuah usaha untuk mengumpulkan foto orang-orang di tempat wisata yang bagus. Begitu acara foto-foto usai, maka begitu saja mereka akan berpindah tempat.

Pembicaraan kami berlanjut tentang bagaimana masyarakat sekarang sibuk mengkonsumsi data, namun tidak sadar berapa besar data yang telah mereka miliki tentang hidup mereka. Pun itu jarang dilirik.

Saya saja yang notabene bukan anak foto, yang lebih suka menyimpan hal-hal di dalam ingatan atau tulisan, memiliki folder foto sebesar 45 GB. Hal itu pula yang membuat saya tidak pernah memiliki alasan untuk membeli harddisk, tentu saja karena kapasitas laptop saya masih sangat memadahi untuk menampung semua itu. Kenyataan yang juga menyebalkan, selama menyimpan foto-foto itu, hanya beberapa kali saya sengaja membuka-bukanya untuk mengenang perjalanan lama, atau sekedar bernostalgia.

Ah, saya memang bukan anak foto sih, berkali-kali berusaha untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya dokumentasi pun tidak kemudian tergugah untuk membeli kamera. Lebih tepatnya, selalu ada prioritas lain yang membuat saya tidak jadi mengalokasikan simpanan saya untuk kamera. Namun demikian, masih ada keinginan yang begitu besar untuk mendokumentasikan banyak hal, lebih karena saya yakin dokumentasi sangat mampu mendukung tulisan yang akan saya buat tentang banyak hal.

Data dalam berbagai bentuknya merupakan candu yang tak akan ada habisnya untuk kita. Ketika kita berhenti mengkonsumsinya, maka akan bertransformasi pula manusia sebatas mengikuti hukum alamnya.

Jumlah data yang begitu banyaknya tadi menumbuhkan lapar data yang berbeda-beda. Masyarakat milenial, terbelenggu pada data-data visual, menyebabkan peningkatan kebutuhan perangkat penyimpan data yang mampu menyimpan citra-citra berresolusi tinggi. Semua orang berlomba untuk berupaya meningkatkan kapasitas itu, dengan caranya sendiri. Teknologi berkembang dan bertransformasi.

Sekali waktu ini, meski saya berniat menulis sesuatu yang agak berkualitas, saya selalu kehilangan arah di tengah. Lantas menyerah kalah dan memilih menyudahi.

Selamat pagi, selamat mengingat hari, selamat merindu hati.

wordsflow

Advertisements