tentang kematian (ii): Hidup

by nuzuli ziadatun ni'mah


Dan ia berdiri dengan penuh percaya diri di depan cermin kamarnya. Ia telusuri rasa lelahnya yang setiap hari menghiasi parasnya, seolah ada duka yang begitu dalam dan tidak terjelaskan, bahkan oleh dirinya sendiri. Dari mana rona lelah itu berasal? Dari mana semua kesedihan itu datang? Bagaimana bisa keduanya memilihnya untuk bersemayam?

Ia lelah dengan tubuhnya, meski ia begitu mencintai setiap lekuknya. Ia sudah sangat hafal bagian manapun dari tubuhnya. Dari benjolan kecil di kepalanya karena tertimpa kayu saat umur 5 tahun, hingga tahi lalat yang bersembunyi cantik di punggung bagian atasnya. Tubuhnya bukan lagi sebuah rahasia baginya, meski ia tentunya masih sulit memahami bagaimana sakit bermula, atau sebuah rasa tercipta. Semua terlampau sulit untuk dijelaskan.

Maka, ia terus menerus menelusuri hal-hal terlihat dari tubuhnya yang tidak seberapa indah itu, sembari mengutuki beberapa bagian jika hatinya sedang tidak nyaman, atau harinya terlampau buruk.

Setiap saat menjelang mandi, ia akan terus menerus memperhatikan setiap bagian tubuhnya, seolah dengan begitu dia akan menemukan hal baru di sana. Tapi sekonyong-konyong ia hanya menemukan paras yang semakin sendu, dan kerutan baru di wajahnya yang telah cukup tirus itu. Dahinya dihiasi oleh titik-titik keringat hasil yoganya di kamar sempit ukuran 2,5×3 meter itu. Meski kamarnya hanyalah kamar kecil tanpa ventilasi, dengan jumlah barang yang terlampau banyak, ia tetap menolak membeli sebuah kipas angin untuk kamarnya. Menurutnya kipas hanya membawa debu-debu beterbangan dengan liar, menciptakan badai mini di kamarnya.

Ia bergegas mengambil handuk, melilitkannya menutupi pinggang sementara bagian atas tubuhnya masih terbalut kaos, mengambil sabun, pasta gigi, dan sikat giginya, dan berlalu begitu saja membiarkan kamarnya tetap terbuka.

Kamar mandi selalu menjadi ruangan yang ia sukai, seolah di sanalah segalanya bermula dan terlahir kembali. Bahkan menurutnya, jika banyak orang membicarakan reinkarnasi dengan segala teorinya, mereka salah. Kamar mandilah yang menciptakan reinkarnasi bagi jiwa-jiwa yang terperangkap tubuh-tubuh kelelahan seperti dirinya. Rutinitasnya selalu sama; meletakkan peralatan mandi di bibir bak, menggantung handuk, membuka pakaian hingga tandas, dan menyalakan keran air. Suara itu sangat ia sukai, seolah dunia berhenti begitu suara keran menyergap telinganya.

Bersetubuh dengan air (begitu ia memberinya istilah), membuatnya selalu merasai hidup dengan begitu sederhana. Siapa lagi yang mampu menyetubuhi setiap lekuk tubuhmu semudah air melakukannya? Begitu ia berkata setiap kali bayangannya sendiri bertanya. Setiap guyurnya ia nikmati sebagai sensasi menelusuri diri sendiri yang kadang terlampau asing untuk dinyatakan sebagai ‘diri’. Sulit sekali menjelaskan apa itu tubuh, dan bagaimana cara merasai si tubuh sebagai bagian dan bukan bagian dari diri.

Telanjang dan sendiri, begitulah setiap orang dilemparkan ke dunia, dan berakhir pula di lubang kubur. Tidak ada yang lebih nyata dari pengalaman menyatakan diri dalam keadaan telanjang dan sendirian. Pengalaman itu membuatnya mampu berpikir dengan lebih jernih, tentang kesedihan, nasib buruk, takdir, cita-cita, keberuntungan, dan cinta kasih yang ia rasakan sepanjang perjalanan hidupnya. Seolah-olah kesemua itu menyerbunya menuju kesadaran akan hidup. Dan di sela-sela itu selalu ada air mengguyur, dan suara air yang saling beradu memcipta gemericik yang disukainya. Ah, alangkah sederhananya hidup, katanya, hanya sebatas makan, berkegiatan, tidur, dan mandi. Dan dengan mandi, begitulah manusia berreinkarnasi.

Favorit keduanya adalah memandang dirinya yang telanjang dan sendirian di hadapan cermin; menantang diri sendiri tanpa penutup, tanpa sekat, begitu saja tanpa apapun. Ia berpikir keras, bagaimana bisa tubuh itu menjadi mempesona? Bagaimana tubuh itu nantinya akan membahagiakan seorang laki-laki dalam hidupnya, menyimpan bakal bayinya, dan memberikan kehidupan untuk bayi-bayi itu, hingga nanti kematian merenggutnya dari dirinya sendiri. Aneh sekali karena memikirkan kematian sembari merasakan sentuhan jemarinya di perutnya, rasanya menggelitik, menelusur lehernya, pipinya, hidungnya, matanya. Ia berkedip, dan pantulan itu ikut berkedip. Ah, betapa sederhananya kesadaran akan hidup itu.

Ia ingat teman-teman lelakinya sering berkelakar tentang perempuan, seolah-olah perempuan adalah objek bodoh yang pantas dibicarakan begitu saja. Ia menjadi muak. Rasa muak itu dalam sekejap berubah menjadi kemarahan begitu ia mengingat rasa yang tak mampu ia tampik meski juga tak berjawab. Kenapa perempuan menjadi perempuan? Dan mengapa ia menjadi demikian? Ia lelah memandang parasnya yang selalu lelah, dan bahkan dalam raut bahagianya ada duka yang terselip dengan rapihnya.

“Kamu akan baik-baik saja,” begitu katanya pada cermin setiap kali ia bersedih hati. Bahkan meski ia tahu kalimat itu tidak akan mengubah apapun, ia tetap terus mengucapkannya bagai mantra.

Ia suka merawat dirinya. Mengoleskan cairan-cairan kental dan wangi ke lengan dan kakinya. Kadang ia ulas bibirnya dengan gincu merah muda yang menawan, sembari mengagumi bibirnya sendiri; bisa terjadi banyak hal dari tempat itu! Hanya matanya yang tak pernah mampu sungguh-sungguh ia tatap. Seolah ada yang berkata tentang betapa seringnya jiwa dan raga itu menipu dirinya sendiri, mencoba meracik harmoni namun selalu hanya menemukan diri terbelenggu tuntutan-tuntutan tak terjawab. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menyudahi. Demikian, ritual itu mengakhiri reinkarnasinya di hari itu.

Sekonyong-konyong, bagian yang ia sadari berikutnya adalah dirinya yang sedang berjalan seorang diri menenteng es kopi. Hari ini telah diputuskan olehnya untuk mencoba berbahagia. Telah lupa pula kapan ia bisa tersenyum kepada setiap orang yang ia temui di jalan. Baginya, waktu terlampau membingungkan untuk memberikan konteks pada hal-hal yang terjadi padanya.

Ia ingat ada seorang lelaki dalam hidupnya yang selalu ingin ia baca isi pikirannya. Belakangan ia sadar bahwa hal itu imajinasi belaka, karena bahkan terkadang ia tidak mampu menjelaskan dirinya sendiri. Bukankah menyedihkan sekali hal itu? Menemukan diri terus meratapi hal yang sudah ia sadari tiada berguna. Bahkan ketika bibirnya tersenyum begitu rupa pada sesiapa yang ia temui di bangku tongkrongannya siang itu, pikirannya masih melayang-layang pada laki-laki yang sama.

Satu momen itu, ia ingin terus hidup dan memastikan diri bahwa ia tidak akan terus menerus memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Bahwa dirinya yang sebenarnya telanjang dan sendiri itu mampu melangkah untuk terus menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang hidup, tentu juga tentang mati.

Satu momen itu, menjadi keinginan terakhirnya ketika dirasai jantungnya berdetak begitu kencang hingga seolah bergaung di dalam kepalanya sendiri begitu keras. Detak yang begitu hanya berlangsung sebanyak tiga hitungan yang sangat pelan.

Detak pertama ia bertanya apa yang terjadi pada dirinya? Seketika menemukan jawaban bahwa benar sekali dugaannya, raga sama sekali bukan milik kita, karena kita hanyalah jiwa.

Detak keduanya, ia mengingat reinkarnasinya yang terakhir kali, menyesali diri bahwa ternyata itu akan menjadi kali terakhir reinkarnasinya. Seketika kesedihan melanda dirinya.

Detak ketiga, ia ingat pernah begitu bertanya-tanya tentang siapa yang akan menangisinya ketika kematian datang, yang mengantarnya hingga ke pemakaman, dan terkadang menjenguknya dalam kesendirian. Pilu itu semakin dalam ia rasakan, karena bahkan pertanyaan yang paling ingin ia temukan jawabannya itu pun tidak akan pernah ia tahu lagi.

Penghabisan detak itu, ia mengguratkan pilu yang dalam di parasnya yang telah lama lelah. Rebah bagai tertidur pulas di bawah pohon dengan sebuah buku masih di genggaman.

Setidaknya, kita kemudian tahu bahwa kematian sudah tidak lagi merupakan misteri bagi si gadis.

wordsflow

Advertisements