tentang kematian (iii): Senja

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sore itu hari tidak hujan, begitu berbeda dengan hari-hari di sepanjang 21 hari di bulan itu. Ada apa gerangan?

Gadis muda itu tidak menemukan ada yang berbeda dari hari-harinya. Hari itu ia tidak sedang merayakan sesuatu, atau tidak ada pula hal luar biasa yang terjadi terhadapnya. Ia telusuri kamarnya sedetil mungkin, sembari menunggu penghabisan hari untuk sekedar menikmati semburat senja yang sudah lama ia rindukan.

Kali terakhir ia menemukan senja adalah jalan-jalannya ke ujung atas bumi. Sebuah perjalanan kontemplatif dia bilang, seorang diri mendaki bumi untuk melakukan refleksi. Itu hari terakhir musim panas ia duga. Umurnya telah lepas 27 tahun, dan ia semakin lama semakin paham bagaimana segala hal bekerja.

Baginya, ketinggian membuatnya selalu merasa nyaman, lebih nyaman dari yang mampu ia duga. Dari sana, ia bisa melihat segalanya dengan lebih bebas, dan segalanya juga tampak lebih luas dan tidak berbatas. Ia semakin merasa candu merasai betapa kecil dirinya, melayang seorang diri di angkasa yang tidak jelas juntrungannya. Menyatakan diri sebagai sebuah subjek penting yang berada tanpa tahu dari masa asalnya, melebur bersama tujuh milyar manusia lainnya di bumi yang tidak seberapa luas ini. Bahkan tempat itu telah terlampau sakit untuk dinyatakan layak huni.

Kemana lagi manusia bisa lari?

Sepulang mendaki itu, badai terus berlangsung selama 3 hari tanpa putus, dan ia menemukan dirinya hanya bisa mengurung diri di kamar, dan menghabiskan hari-hari dengan tidak melakukan apapun kecuali membaca buku dan menulis fabel. Cerita tentang manusia telah begitu memuakkan untuknya. Sementara begitu banyak orang yang berkeluh kesah, baginya semuanya tidak jauh berbeda. Adalah manusia-manusia yang butuh belas kasih dan kurang kasih sayang yang bisa bercerita tentang manusia juga. Melelahkan sekali. Satu hal itu, yang kemudian juga membuatnya enggan untuk menulis cerita tentang manusia, hidupnya sendiri belum juga usai ia ceritakan.

Hanya dalam tiga hari itu, sebuah kumpulan cerita gambar telah berhasil ia susun dengan baik. Dan di hari ketujuh hari hujan itu, naskahnya sudah siap ia kirim ke editornya. Mungkin dalam beberapa bulan ia akan melihat satu buku lain lagi yang terpampang namanya di sana, Atmosfera Diana.

Ponselnya bergetar di ujung meja, dan ia tidak merasa tergugah untuk segera menelusuri gawainya itu. Pikirannya kembali mengingat hari-hari hujan itu, dan mencoba menggali semakin dalam tentang hal-hal yang telah ia lupakan selama 21 hari belakangan. Sejauh ini belum ada yang ia temukan di ingatannya. Sampai hari ke tujuh tidak ada hal yang ia lupakan, semuanya rapih ia simpan di dalam ingatan.

Di hari ke delapan, ia membuka laptop untuk mencoba menulis kumpulan sajak. Sudah lama ia merangkai beberapa saja yang terus menerus ia hafal. Lebih sering ia melakukan itu dari pada membaca kitab sucinya. Saking hafalnya, ia hampir mampu selalu bisa menyanyikannya dalam nada yang sama, emosi yang sama, dan penggal yang sama pula. Entah hal apa yang membuatnya begitu yakin kumpulan sajaknya kali ini akan terbit sebagai best seller di salah satu penerbit. Bukankah akan menjadi gebrakan penting untuk dirinya yang tidak pernah menelurkan karya sastra itu?

Maka tuts itu kembali bernyanyi selama 7 hari yang lain. Bahkan kumpulan sajak yang tidak juga membutuhkan halaman yang lebih banyak dari fabelnya, ternyata membutuhkan waktu yang terlampau panjang, jauh lebih panjang dari yang ia duga. Tapi toh ia menikmatinya. Bayangan dirinya dalam cermin sering berkata bahwa semua hal yang membutuhkan waktu lebih lama terasa lebih manis dan indah, pun lengkap. Bukankah itu kedengaran menyenangkan di telinga?

Di tengah bulan itu, hujan yang petir terjadi begitu dasyatnya. Ia tidak tahu pasti, apakah hujan itu termasuk badai atau tidak, membahayakankah atau hanya fenomena biasa? Tapi dengan pasti ia keluar rumahnya dalam hujan itu, terlalu terpesona pada petir dibandingkan dengan ukuran hujan itu di mata petugas-petugas BMKG. Matanya mungkin cukup kesulitan menangkap citra petir jauh di atas sana, tapi ia berhasil mencuri beberapa momen petir yang paling fenomenal dalam hidupnya. Dilihatnya pohon jambu di depan rumahnya yang kecil bergoyang-goyang hebat, lalu roboh menimpa ujung rumahnya.

Ia bahkan hanya terdiam menyaksikan hal itu. Lebih karena dilihatnya atap kamarnya aman saja di tengah badai itu. Tidak ada ranting apapun yang membahayakan genting-genting di atas kamarnya. Maka ia justru semakin bahagia karena pohon jambu yang menghalangi pandangannya kini telah tumbang. Menyisakan pemandangan langit berpetir tanpa halangan apapun baginya. Senyumnya semakin lebar terus termenung di bawah hujan. Entah berapa lama ia terus melakukan itu hingga tersadar olehnya kuku tangannya berubah biru. Maka ia bergegas masuk dan menjarang air, berganti pakaian dan menyelimuti dirinya dengan selimut tebal. Dihabiskannya sore itu dengan menyesap teh sedikit demi sedikit hingga tandas. Diulangnya dua kali sebelum akhirnya ia ingat kamar tamunya kini pasti telah penuh air.

Tidak salah apa yang kemudian ia duga. Didapatinya kamar tamunya telah tergenang air setinggi 1 cm, melebar secara merata memenuhi ruangan. Hanya berhenti di depan kamar tamu karena ada karpet yang keburu menyerap seluruh air yang menyentuhnya. Ia bergegas membereskan kekacauan itu. Agak menyebalkan karena hujan itu tidak juga reda, dan ini sudah hari ke 14!!

Susah payah selama sisa hari setelahnya ia membereskan seluruh kekacauan di rumahnya itu. Pertama-tama ia mengeluarkan karpet basah itu di halaman belakang, tempatnya biasa menjemur pakaian, meski di hari lain ia sering pula menggelar karpet dan piknik makan siang di sana sembari memperhatikan ikan-ikannya yang tumbuh gendut nan gesit. Kursi-kursi kayu ia angkat ke pinggir, ditumpuk dalam satu tumpukan tinggi di sana. Lalu membuat saluran air ke arah luar rumahnya, dan karena lelah menyerbunya, ia meninggalkannya begitu saja dalam keadaan basah.

Tentu saja hari-hari setelahnya ia sibuk mencari genting yang masih baik di halaman belakang. Ayahnya yang baik itu pernah berpesan bahwa beliau meninggalkan beberapa buah genting kalau-kalau ada yang bocor. Pun alat-alat pertukangan yang ia koleksi sejak masih kuliah ia simpan bersama genting itu di gudang kecil di halaman belakang. Gudang itu terbuat dari jendela-jendela bekas, dan ditutup atap seng di bagian atasnya. Membuatnya tampak seperti akuarium, tapi berisi perkakas. Ia menemukan ide kecil itu ketika berkeliling di kompleks bangunan Belanda, lantas menemukan sebuah gudang kaca yang membuatnya ingin mencongkelnya dari bangunan utama hari itu juga.

Ia menemukan tumpukan genting itu, lantas mengangkutnya ke halaman depan dan menatanya dengan rapih di samping tembok. Ia harus membersihkan ranting dan pohon jambu yang tumbang. Maka seharian itu ia bahkan tidak sempat menyentuh genting yang patah berhamburan di atap, dan malah memotong-motong kayu, lantas memasukkannya ke dapur rumah, menatanya dengan rapi di atas tungku untuk diasapi.

Maka selama 5 hari setelahnya ia disibukkan dengan kegiatan membereskan, memotong, mengangkut, memanjat, dan menata buah-buah genting yang telah ia temukan di gudang belakang. Begitu puas dirinya menemukan rumahnya kembali bersih dan rapi seolah tidak ada yang terjadi. Satu-satunya hal yang janggal adalah halamannya yang koyak bekas bersemayamnya akar pohon jambu. Kini ia bagaikan kuburan yang baru saja dibongkar.

Sudah lama tidak ada yang berkunjung ke rumahnya. Terakhir kali ia ingat ada seorang lelaki paruh baya yang mengantar sebuah undangan ke rumahnya. Memintanya untuk datang ke pelaminannya. Lantas dalam cengiran cangung menanyakan kapan dirinya menikah.

“Menikah terlalu klasik untukku. Aku butuh yang lebih dari itu, sekaligus yang tidak semewah itu,” jawab si gadis dalam ketenangan patung giok. Sementara pikirannya terus berkecamuk meminta diri untuk melupakan segala hal tentang si pria paruh baya.

“Ah, aku lupa bahwa kau tak bisa diajak berbicara hal-hal yang terlampau biasa.”

“Adalah kau yang mengajarkanku untuk melupakan hal-hal semacam itu. Kalau begitu aku ganti jawabanku, aku akan menikah di senja pertama setelah hujan selama 21 hari. Aku tidak datang ke pernikahanmu, besok akan hujan,” katanya seraya menutup pintu.

Si lelaki paruh baya berdiam lama di sana, lantas melihat langit sejenak, dan berlalu pergi. Si gadis baru ingat penggal cerita itu, awal kutukan yang menyebabkan rumahnya diguyur hujan selama 19 hari tanpa putus. Dan itu artinya ia harus menikah di senja pertama setelah hujan selama 21 hari. Bukankah itu tiga hari lagi?

Ada yang aneh menurut si gadis, karena ia lupa apa yang ia kerjakan selama 3 hari sisanya. Meski sore itu ia kemudian ingat ia harus menikah. Tapi dengan siapa ia melakukannya? Persiapan apa yang telah ia lakukan?

“Aku menemukannya!” didengarnya seseorang berteriak di dalam kepalanya. Tapi dirinya sedang berada di kamarnya, di rumahnya yang hanya ia sendiri yang tinggal. “Aku menemukannya!” sekali lagi teriakan itu didengarnya. Suara lain silih berganti memenuhi kepalanya. Pandangannya menjadi kabur dan ia semakin sulit mengenali kamarnya. Tanpa tahu mengapa, semuanya menjadi gelap gulita. Ia bahkan tidak dapat melihat ujung hidungnya sendiri.

*

Si gadis kembali hilang ingatan, ketika akhirnya ia mampu melihat ujung hidungnya sekali lagi. Di sekitarnya terdengar begitu banyak orang bergumam, entah membicarakan apa. Diangkatnya sebelah tangannya, ia menemukan namanya masih sama; Atmosfera Diana. Itu artinya ia belum juga berreinkarnasi atau pindah ke dunia lain. Serbuan ingatan itu membanjirinya tiba-tiba.

Tentang semua barang yang ia persiapkan untuk pendakian terakhir kali sebelum ia menjadi istri orang lain. Sebuah pendakian kontemplatif yang lain di hari hujan ke 20, yang ia yakin akan bertahan hingga hari ke 21. Maka ia berkemas dan menuju ke gunung terdekat untuk mendaki seorang diri. Meski ia jarang membaca kitab suci, ada keyakinan aneh bahwa memperjuangkan doa akan membuatnya terkabul dengan mudah. Ia hanya berharap satu hal dari jalan-jalannya itu, bahwa esok hari sepulang pendakian senja akan kembali tiba, dan ada seseorang yang mengajaknya menikah.

Alangkah sederhana permintaan itu, sebuah doa kecil dari gadis yang hidup seorang diri.

“Ah, kamu sudah bangun! Kupikir kamu akan mati, sudah dua hari kami mencarimu dan betapa anehnya menemukanmu berlutut di puncak gunung dalam keadaan hampir mati!” seorang laki-laki paruh baya menyerbunya dengan kalimat itu.

“Mati tidak menakutkanku. Yang kutakutkan adalah mati tetapi mayatku tidak dikremasi.”

wordsflow

Advertisements