tentang kematian (iv): Pagi

by nuzuli ziadatun ni'mah


Bukan, namanya adalah Maharani.

Gadis itu tidak tinggi, namun setidaknya tangannya masih dapat menggapai kunci atas pintu rumahnya. Penampilannya selalu sederhana, dan begitu pun ia tetap cantik, menarik, dan bahkan membuat banyak laki-laki tak mampu berpaling. Itu bukan birahi, tapi sungguh kau harus melihat sendiri gadis itu untuk mampu paham bagaimana ia mampu membuat setiap laki-laki bersusah payah memperbaiki diri.

Ia punya dua nama panggilan, Hara atau Maharani. Selain dengan nama itu ia tidak akan pernah mau menoleh, karena menurutnya hanya dua panggilan itu yang identik dengannya. Bagaimanapun, sebenarnya ia punya nama kecil; Pagi.

Aku tidak pernah menjadi Maharani–ah, aku lebih suka memanggilnya Hara, maka begitu pula yang bisa aku ceritakan hanya hal-hal yang berhubungan dengan aku dan Hara. Penggal cerita ini juga, tidak lepas dari kebetulan yang ada ketika aku dan Hara sama-sama duduk di peron stasiun sembari menunggu pagi.

Ketika itu aku bermaksud melakukan perjalanan seorang diri ke Bogor, sebuah perjalanan kecil mengarungi kota yang padat. Keretaku berhenti di Stasiun Senen pukul 1 dini hari, dan dalam kesendirian itu aku bertemu dengan Hara. Wajahnya yang bening begitu saja mampu mengalihkan perhatianku. Aku berhenti sejenak sebelum akhirnya meneruskan membeli secangkir kopi dan roti di sebuah gerai waralaba. Malam itu, aku bermaksud untuk menghabiskan malam dengan membaca buku yang sengaja aku bawa untuk menemani perjalanan.

Ketika itulah aku terpaku menatap Hara, yang juga sedang melihat ke arahku. Matanya tersenyum dalam gelap itu, dan entah apa yang membuatku tergerak, aku menuju ke arahnya.

“Hai,” sapaku, memberi isyarat untuk duduk di sampingnya. Dengan gesit ia memindahkan tasnya ke bawah kakinya, dan tersenyum. Ah, andai aku seorang laki-laki kukira aku akan menulis dengan cara ini; hari ini adalah hari di mana aku menemukan tatap mata yang ingin kulihat setiap pagi sepanjang sisa hidupku. Sayang, aku masih normal untuk menyukai laki-laki saja.

“Suka kopi?” itu kalimat sapanya kepadaku. Aku tergelak kecil, tidak menyangka ia akan mengajukan pertanyaan itu.

“Iya. Aku bisa minum kopi lebih sering dari minum air putih,” jawabku menjelaskan.

“Bentukmu seolah ingin kabur dari kenyataan,” katanya lagi, lebih mengagetkanku.

“Ha?” aku celingukan mencoba menata diri, “Oh, ini aku mau jalan-jalan ke Bogor. Sengaja bawa barang seadanya aja. Besok juga udah balik ke Jogja lagi sih. Hehe. Kamu sendiri?” Tanyaku sembari duduk lebih dekat dengannya. Dari jarak itu aku bisa mencium wangi tubuhnya yang sederhana. Malam itu bahkan ia hanya mengenakan selembar kaos lengan panjang, kerudung abu-abu, dan celana jeans biru gelap.

“Hemm, istilahnya, kabur dari masa lalu,” jawabnya nyengir seolah menegaskan guraunya. “Tapi sungguh, aku kabur dari orang-orang yang mencintaiku,” lanjutnya. Kali ini serius.

Kalimat-kalimat awal ini lah yang membuatku semakin terhanyut dengan pesona Maharani. Ada keteguhan aneh yang ia simpan dalam hati, seolah seluruh hidupnya adalah rahasia, meski secara sepotong-sepotong ia mencoba menjelaskan kontradiksi-kontradiksi dalam hidupnya.

Belakangan, ketika jam telah menunjukkan pukul 2.30 dini hari, cerita kami telah memasuki bagian yang paling penting dari Hara.

“Aku terlalu lelah untuk menerima begitu banyak orang yang mendaku mencintaiku. Tidak pula mereka mau bertanya seperti apa cinta yang aku bayangkan seorang diri,” katanya menerawang.

“Apakah dicintai itu menakutkan?” Bagiku, pertanyaan itu terlampau sulit untuk aku jawab seorang diri. Seluruh pengalamanku adalah seputar mencintai, tapi aku bahkan tidak mampu merasakan bagaimanakah menjadi seorang yang dicintai.

“Lebih tidak menyenangkan karena kau tidak punya pilihan kecuali menyakiti, atau menerima.” Aku mendengarkan dengan takzim. “Aku melakukannya kepada banyak orang di hidupku yang telah lampau; menerima hanya sebuah cinta, lantas mencampakkan sisanya. Rasanya begitu menyakitkan,” lanjutnya.

“Apakah, kau memiliki cinta yang kau harapkan sendiri?” tanyaku kepadanya.

“Apa kau pernah tahu cerita tentang Putri Kaguya? Ah, Ghibli membuatnya dengan baik, dan aku terus menerus memikirkan itu. Kupikir, setiap perempuan memiliki impian yang sederhana saja, tentu punya keluarga kecil yang bahagia dan bisa hidup dengan tenang seumur hidupnya. Tapi tentu saja, manusia di hari ini tidak sekedar dihadapkan pada perkara itu, kau tahu? Setiap hal mendapat kualifikasinya sendiri-sendiri, setiap orang menerapkan standarnya sendiri, dan terutama yang paling mengerikan untuk perempuan adalah, setiap perempuan mendamba sebuah standar kecantikan yang juga diamini laki-laki di dunia ini. Aku bisa mengatakan itu karena aku adalah bagian dari generasi itu.

“Bagian yang paling aku sesalkan adalah, baik aku, kamu, atau mungkin manusia-manusia yang berusaha melawan segala hal itu, akhirnya akan harus terperangkap pula pada cara pandang manusia lain yang kita temui. Pada akhirnya, orang-orang yang kita kagumi pun, sebenarnya kita sakiti. Orang yang kita anggap sedang kita cintai pun, sebenarnya sedang kita sakiti,” lanjutnya.

Kali ini aku harus merasa kagum pada Hara. Sepertinya ada sesuatu yang begitu dalam ia pikirkan, entah tentang dirinya atau bahkan manusia-manusia di kehidupannya. Bagaimana pun, perempuan ini masih begitu misterius dan aku semakin yakin harus menjadikannya tidak sekedar sebagai seorang kenalan yang bertemu di stasiun.

“Ceritakan sedikit tentangmu,” katanya. Senyumnya begitu menawan.

“Kupikir tidak ada hal khusus yang bisa aku tukar dengan ceritamu,” jawabku nyengir.

“Dusta. Adalah sebuah hal yang luar biasa menemukan gadis yang belum juga genap 22 tahun berkelana seorang diri sejauh ini. Hanya demi sebuah kota yang tak seberapa besar,” sergahnya.

Maka aku bercerita tentang kegelisahan yang sama perihal perempuan. Ketika gadis sepertiku berkelana seorang diri, tidak berpenampilan sebagaimana masyarakat memberikan standar dan bagaimana lingkungan sosial menuntut, kita seolah sedang turut andil untuk memerangkap diri pula. Kadang begitu marah untuk mampu melawan. Toh pada kenyataannya, selalu ada Sang Kehendak yang bekerja tanpa pernah meminta kerja sama.

Cukup lama kami membicarakan perihal perempuan. Mencoba saling bertukar pikiran, antara seorang perempuan yang dikelilingi oleh manusia-manusia yang mengaku mencintainya, dan seorang perempuan sepertiku yang bahkan belum mampu paham bagaimana dicintai itu bentuknya. Dia begitu terbuka dengan setiap pendapat, terutama yang berhubungan dengan topik yang kami bicarakan.

Hingga, ketika hari menjelang subuh, Hara mendongengkan kepadaku kisah hidupnya.

“Aku membenci laki-laki yang mengganggap perempuan itu harus lemah lembut–ah bukan, maksudku harus tak berdaya. Seolah menjadi kuat adalah sebuah kesalahan. Mereka salah. Aku telah menerima kekerasan sejak aku masih kecil kukira. Di luar sana banyak orang jahat,” ucapnya tersenyum getir kepadaku. “Begitu kejamnya hingga aku berkeinginan untuk merusak diri sendiri. Agar aku tidak lagi menjadi ‘cantik’ seperti yang mereka katakan.

“Berkali-kali aku dikecewakan oleh banyak laki-laki. Mereka datang dengan senyum, dengan cinta, tapi meminta belas kasih atas rasa itu. Meminta paksa kepadaku untuk memberikan yang mereka minta. Maka kukatakan bahwa setiap cinta selalu menciptakan luka. Kadang bahkan, luka itu terlampau berat untuk diterima, hingga seseorang menjadi begitu kejam pada yang mereka cintai. Hal-hal semacam ini, meskipun tampaknya hanya gurauan, tapi nyata dirasakan banyak orang.”

“Dan kamu mengalaminya?” tanyaku secara otomatis. Tentu saja aku telah tahu jawabannya.

“Pada gilirannya, orang yang tidak mampu memahami kapasitas dirinya, akan meledak dan melukai lebih banyak orang. Yang begitu, kadang harus dihilangkan.”

“Maksudnya gimana sih? Dibunuh?”

“Hahaha, kamu kasar sekali. Tapi yah, begitu mungkin kira-kira.”

Aku terdiam sejenak, memandang jauh menerawang ke langit yang telah mulai terang. Subuh sudah semakin dekat kukira, dan sebentar lagi akan ada komuter pertama ke Bogor.

“Ah, orang yang kutunggu telah tiba. Selamat berpisah, akan kukunjungi kamu kapan-kapan,” katanya tiba-tiba.

Dan aku terbelalak melihatnya terbang, melayang ke depanku dan berubah transparan. Ia tersenyum, cantik. Bahkan aku tidak berteriak karena hal itu, seolah hal itu bukan pertama kali aku lihat dalam hidup. Tanpa mampu membalas kalimatnya, ia menghilang begitu saja di langit yang semakin terang.

Aku tersadar beberapa saat kemudian, dan mencoba meyakinkan, aku menoleh ke samping melihat tas yang sempat ia pindahkan. Tapi tidak ada apa-apa di sana, tidak ada bekas jejak apapun. Aku mencubit tanganku. Sakit. Aku ngucek mataku, menengok ke arah jam, pukul 05.12. Aku menoleh ke kanan-kiri, semua orang tampak berkegiatan normal. Meski tergagap, aku tetap tidak mencoba menyangkal bahwa aku baru saja mengobrol dengan hantu. Sejak hari itu aku lebih suka memanggilnya ‘Pagi’.

Hingga hari ini aku tidak pernah tahu siapa yang ia tunggu waktu itu, seolah yakin aku akan bertemu dengannya lagi, aku menyusun begitu banyak pertanyaan untuk ditanyakan kepada si cantik Maharani.

wordsflow

 

catatan:

Begitu absurdnya sebuah cerita dimulai dan diakhiri, seperti yang satu ini, atau yang sebelumnya, bahkan mungkin yang akan datang. Tapi terima kasih sudah membaca.

Advertisements